Infogarut

Badeng Malangbong, Kesenian Angklung yang Punya Cerita Dakwah

M
Mutiara LestariPublisher
19 Oktober 2026 pukul 10.42 7 menit baca
Badeng Malangbong, Kesenian Angklung yang Punya Cerita Dakwah
Badeng Malangbong Sudah Eksis Lebih dari 200 Tahun (Sumber: Instagram @humas_jabar)

Warginet, kalau mendengar kata angklung, mungkin yang langsung terbayang adalah alat musik bambu yang dimainkan bersama-sama hingga menghasilkan alunan nada yang khas. Tapi, tahukah kamu kalau di Garut ada kesenian angklung yang sejak dahulu digunakan sebagai media penyebaran agama Islam?

Namanya Badeng Malangbong, kesenian tradisional dari wilayah Malangbong yang memadukan musik angklung, tembang, dan pesan-pesan keagamaan. Jadi, pertunjukannya bukan hanya soal bunyi alat musik, tetapi juga memiliki cerita tentang bagaimana seni dimanfaatkan untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.

Kesenian ini tumbuh di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Penasaran bagaimana awal mula Badeng dikenal sebagai media dakwah dan apa saja keunikan pertunjukannya? Yuk, kenali lebih dekat salah satu kekayaan budaya Garut ini!

Baca Juga: Domba Garut: Lebih dari Sekadar Ikon Budaya

Mengenal Badeng Malangbong, Kesenian Angklung dari Garut

Badeng merupakan kesenian tradisional yang menempatkan angklung sebagai instrumen utama dalam pertunjukannya. Kesenian ini berkembang di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, dan dikenal memiliki hubungan erat dengan penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Dalam publikasi Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berjudul Badeng, Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2016, Badeng dijelaskan sebagai kesenian yang digunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Pertunjukannya memadukan alat musik tradisional dengan lagu-lagu yang membawa pesan keagamaan.

Berbeda dari angklung yang mungkin Warginet kenal dalam pertunjukan musik pada umumnya, Angklung Badeng memiliki latar sejarah dan fungsi sosial yang khas. Musik menjadi bagian penting dari cara masyarakat menyampaikan pesan, membangun suasana, sekaligus menghadirkan hiburan.

Karena itu, Badeng Malangbong menarik untuk dipahami bukan hanya sebagai seni musik tradisional, melainkan juga sebagai bagian dari perjalanan budaya dan kehidupan masyarakat Garut.

Sejarah Badeng: Dari Penyebaran Islam hingga Menjadi Seni Pertunjukan

Cerita sejarah Badeng berkaitan dengan masuk dan berkembangnya ajaran Islam di wilayah Malangbong. Dalam catatan sejarah yang dihimpun melalui penelitian mengenai perkembangan seni Badeng, kesenian ini diperkirakan tumbuh sejak sekitar abad ke-17, tokoh yang dikenal dalam kisah awal Badeng adalah Arfaen Nursaen, yang juga disebut dengan nama Lurah Acok.

Arfaen Nursaen datang dari Banten dan menetap di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong. Ia kemudian menggunakan kesenian sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.

Musik dan tembang dipilih sebagai media penyampaian pesan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan cara ini, ajaran agama dapat diperkenalkan melalui pertunjukan yang memiliki unsur hiburan dan budaya setempat.

Namun, sejarah Badeng juga memiliki sisi yang perlu dipahami secara lebih luas. Kajian mengenai angklung tradisional yang dihimpun dalam publikasi ilmiah menyebutkan bahwa sebelum berfungsi sebagai media dakwah Islam, Badeng diduga pernah berkaitan dengan ritual pertanian, khususnya tradisi yang berhubungan dengan penanaman padi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat mengalami perubahan fungsi seiring perkembangan kepercayaan dan kehidupan masyarakat. Dalam perjalanan Badeng, unsur musik tetap dipertahankan, sementara penggunaannya berkembang untuk menyampaikan pesan keagamaan dan memenuhi kebutuhan hiburan masyarakat.

Angklung Bukan Satu-satunya Alat Musik dalam Kesenian Badeng

Sesuai namanya, angklung menjadi instrumen utama dalam pertunjukan Badeng. Namun, kesenian ini tidak hanya mengandalkan satu jenis alat musik bambu.

Dalam dokumentasi Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, susunan alat musik Badeng disebut terdiri atas dua angklung kecil, dua dogdog lojor, dan tujuh angklung besar.

Perpaduan instrumen tersebut membentuk irama yang menjadi pengiring pertunjukan. Bunyi angklung berpadu dengan alat musik lainnya, sementara tembang menjadi bagian penting dalam menyampaikan isi pesan kepada penonton.

Susunan alat musik tersebut juga memperlihatkan karakter Badeng sebagai seni pertunjukan yang memiliki identitas musikal tersendiri. Angklung bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi unsur utama yang membentuk karakter bunyi kesenian ini.

Warginet, inilah salah satu hal menarik dari kesenian tradisional Garut. Alat musik yang terbuat dari bambu bisa memiliki fungsi lebih luas, mulai dari membangun suasana pertunjukan hingga menjadi media penyampaian pesan yang hidup di tengah masyarakat.

Bagaimana Badeng Digunakan sebagai Media Dakwah?

Hal yang membuat Badeng berbeda adalah hubungannya dengan penyampaian ajaran Islam. Dalam kesenian ini, musik tidak hanya dimainkan untuk menghasilkan irama yang menarik, tetapi juga mengiringi tembang yang berisi nilai-nilai keagamaan dan nasihat.

Kajian Angklung Tradisional sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal menjelaskan bahwa teks dalam Angklung Badeng menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia juga digunakan. Isi tembangnya memuat nilai-nilai Islami dan nasihat yang disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan.

Penggunaan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat menjadi bagian penting dari cara pesan disampaikan. Musik membantu membangun suasana, sementara lirik tembang menjadi sarana untuk menyampaikan isi pesan.

Dengan demikian, Badeng dapat dilihat sebagai contoh bagaimana seni tradisional berperan dalam komunikasi budaya dan keagamaan. Pesan tidak hanya disampaikan melalui penjelasan lisan, tetapi juga melalui bunyi, lagu, dan pertunjukan yang bisa dinikmati bersama.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa dakwah dalam kehidupan masyarakat dapat berlangsung melalui berbagai cara, termasuk melalui seni yang tumbuh dari lingkungan setempat.

Dari Media Dakwah Menjadi Hiburan dalam Acara Masyarakat

Seiring perkembangan zaman, fungsi Badeng tidak hanya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Kesenian ini juga menjadi bagian dari kegiatan sosial dan hiburan masyarakat. Badeng disebut masih bertahan dan digunakan untuk menyambut tamu penting, perayaan Maulid Nabi, khitanan, hajatan, serta berbagai kegiatan lainnya.

Badeng mengalami perkembangan sebagai pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat sekaligus tetap menyisipkan pesan-pesan dakwah melalui syairnya. Kelompok seni Badeng bernama Medal Cipta dibentuk di Desa Sanding dikaitkan dengan tokoh masyarakat setempat, Mumu Safe’i, yang menjadi bagian dari perjalanan perkembangan Badeng pada masa berikutnya.

Perubahan fungsi ini memperlihatkan bahwa kesenian tradisional dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat tanpa harus kehilangan seluruh identitas awalnya. Badeng tetap menjadi ruang bagi musik dan tembang, tetapi juga hadir dalam berbagai acara yang mempertemukan masyarakat.

Dengan begitu, keberadaan Badeng tidak hanya berkaitan dengan masa lalu. Kesenian ini juga memiliki tempat dalam kehidupan sosial masyarakat yang terus berkembang.

Badeng Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Keberadaan Badeng juga telah mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Dalam basis data resmi Warisan Budaya Indonesia, Badeng tercatat sebagai karya budaya dari Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, dalam domain seni pertunjukan.

Data Warisan Budaya Indonesia mencantumkan penetapan Badeng melalui Surat Keputusan Nomor 372/M/2021 pada tahun 2021. Sebelumnya, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya juga pernah menerbitkan tulisan mengenai Badeng sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016.

Pencatatan tersebut menjadi pengingat bahwa kesenian Badeng merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu terus dikenali dan dijaga keberlangsungannya.

Bagi masyarakat Garut, pengenalan terhadap Badeng juga menjadi kesempatan untuk memahami bahwa identitas daerah tidak hanya dibentuk oleh tempat wisata atau kulinernya. Kesenian tradisional, cerita sejarah, dan keterampilan para pelaku seni juga merupakan bagian penting dari kekayaan daerah.

Menjaga Badeng Malangbong agar Tetap Dikenal Generasi Muda

Warginet, mengenal kesenian tradisional bukan berarti harus menjadi pemainnya terlebih dahulu. Ada banyak cara sederhana untuk ikut menjaga keberadaan seni Badeng, mulai dari mencari informasi yang tepercaya, mengenali sejarahnya, hingga menyaksikan pertunjukannya ketika digelar dalam kegiatan budaya.

Dokumentasi dan publikasi mengenai Badeng juga penting agar cerita tentang asal-usul, alat musik, serta fungsi dakwahnya bisa dikenal lebih luas. Media sosial dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kesenian ini kepada generasi muda, selama informasi yang dibagikan tetap akurat dan menghargai konteks budayanya.

Di sisi lain, keberlanjutan kesenian tradisional juga bergantung pada para pelaku seni yang terus menjaga keterampilan dan pengetahuan mereka. Karena itu, memberi ruang bagi kelompok seni untuk tampil dan memperkenalkan pertunjukan kepada masyarakat menjadi salah satu bentuk dukungan yang berarti.

Badeng Malangbong menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat memiliki banyak peran sekaligus: sebagai ekspresi budaya, media penyampaian pesan keagamaan, dan hiburan masyarakat. Mengenal kesenian ini berarti ikut membuka ruang agar warisan budaya Garut tetap memiliki tempat dalam kehidupan generasi berikutnya.

Badeng Malangbong, Ketika Angklung Menjadi Media Dakwah

Dari Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Badeng tumbuh sebagai kesenian yang memadukan musik angklung dengan tembang berisi pesan keagamaan. Seiring perjalanan waktu, pertunjukan ini juga berkembang untuk mengisi berbagai kegiatan masyarakat.

Di balik alunan alat musik bambunya, terdapat cerita mengenai penyebaran Islam, perubahan fungsi kesenian, dan upaya masyarakat mempertahankan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Tiga Destinasi RI Masuk Kategori Pantai Terbaik Asia Tahun 2026

Jadi, Badeng bukan hanya tentang angklung yang dimainkan bersama-sama. Kesenian ini juga memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Garut.

Nah, Warginet, sebelumnya sudah pernah mendengar tentang Badeng Malangbong? Atau baru tahu kalau Garut memiliki kesenian angklung yang berkaitan erat dengan sejarah dakwah Islam? Yuk, kenali lebih jauh kesenian tradisional daerah kita agar semakin banyak orang yang mengetahui kekayaan budaya Garut.

Penulis: Mutiara Lestari

Sumber: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca