Infogarut

BRIN Terapkan Metode Teknologi Dry Ice Karhutla Untuk Urai Kabut Asap

I
InfogarutPublisher
23 Oktober 2026 pukul 15.49 3 menit baca
BRIN Terapkan Metode Teknologi Dry Ice Karhutla Untuk Urai Kabut Asap
BRIN Terapkan Metode Teknologi Dry Ice Karhutla Untuk Urai Kabut Asap, Source: Generated by AI

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji penerapan teknologi dry ice untuk atasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi penumpukan asap. Penyemaian bahan es kering tersebut diharapkan mampu memicu pergerakan udara vertikal serta membuka peluang pembentukan awan hujan.

Baca juga: Isu Konsesi Sawit dan Tambang, Kebakaran Hutan Kalimantan Jadi Sorotan

Mekanisme Operasi Penyemaian Dry Ice

Melansir dari CNBC Indonesia, Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, memaparkan fenomena lapisan inversi suhu. Kondisi tersebut terjadi ketika udara hangat berada di atas udara dingin sehingga menghambat sirkulasi udara menuju atmosfer.

"Lapisan inversi ini dapat diibaratkan sebagai penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap dari kebakaran sulit menyebar secara vertikal dan makin terkonsentrasi di dekat permukaan," terang Heru Widodo dalam keterangan resminya, Selasa (20/10/2026).

Dalam keadaan atmosfer normal, suhu udara kawasan umumnya menurun seiring bertambahnya tingkat ketinggian. Kondisi alami tersebut membuat udara hangat dekat permukaan bergerak naik mendorong proses konveksi untuk mendukung pertumbuhan awan hujan.

Bahan dry ice bermuatan suhu minus 78,5 derajat Celsius dilepaskan ke atmosfer guna memicu proses sublimasi. Perubahan fase padat menjadi gas tersebut berlangsung sambil menyerap panas lingkungan sekitar lokasi penyemaian.

Pendinginan lokal yang dihasilkan diharapkan mampu merangsang pergerakan udara serta meningkatkan pencampuran udara vertikal kawasan. Apabila perubahan suhu bernilai cukup besar, lapisan penutup atmosfer berpotensi melemah sehingga awan hujan dapat berkembang kembali.

Penggunaan teknologi ini masih merupakan hipotesis ilmiah yang wajib dibuktikan melalui pengamatan data atmosfer terukur. Para peneliti perlu memastikan bahwa penurunan suhu lokal mampu melemahkan daya tahan lapisan inversi pada wilayah terdampak.

Analisis Data Dan Evaluasi Atmosfer

Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca didukung oleh analisis data pengamatan atmosfer dari instansi pelaksana bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Parameter yang dianalisis mencakup profil suhu vertikal, kelembapan udara, serta tingkat ketebalan lapisan penutup.

Pengukuran sistematis memanfaatkan perangkat radiosonde guna mencatat parameter meteorologi pada berbagai tingkat ketinggian atmosfer. Selain itu, data pengamatan suhu selama penerbangan pesawat pemantau juga digunakan untuk mengidentifikasi letak pasti keberadaan lapisan udara hangat.

"Kita ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang digunakan dalam penanggulangan bencana memiliki dasar ilmiah yang kuat," ujar Heru Widodo.

Pengamatan kondisi cuaca dilakukan dengan terencana sebelum, selama, dan sesudah proses penyemaian bahan es kering di udara. Tahapan analisis ini sangat krusial guna membedakan dampak intervensi teknologi dari pengaruh dinamika cuaca alamiah yang sedang berlangsung.

"Data pengamatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan benar-benar mempengaruhi lapisan inversi, atau apakah perubahan kondisi yang terjadi juga dipengaruhi dinamika cuaca lainnya," tegasnya.

Pengamatan kondisi cuaca dilakukan sebelum, selama, dan sesudah penyemaian bahan agar seluruh perubahan kondisi udara dapat didokumentasikan. Tahapan analisis sistematis ini sangat penting untuk memisahkan dampak intervensi teknologi dari pengaruh fenomena dinamika cuaca alami.

Baca juga: Dampak Karhutla Kalimantan, 47 Orangutan di Pusat Rehab Kena ISPA

Jadi Warginet, pengujian penyemaian dry ice menjadi langkah inovatif berbasis riset ilmiah untuk menangani bencana asap kebakaran hutan. Evaluasi data atmosfer dengan cermat sangat penting dilakukan agar metode modifikasi cuaca dapat diterapkan dengan optimal.

Penulis: Muhamad Renaldi S

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca