Warginet, Garut bukan hanya punya kesenian yang mengandalkan gerakan dan atraksi. Di Kecamatan Selaawi, ada pula kesenian tradisional yang daya tariknya justru terletak pada suara dan kedalaman liriknya. Namanya Cigawiran, tembang Sunda yang tumbuh dari lingkungan pesantren dan dikenal memiliki pesan keagamaan.
Berbeda dari lagu populer yang biasanya diiringi berbagai alat musik, Cigawiran punya ciri khas berupa lantunan suara dengan gaya yang unik. Syairnya menggunakan bahasa Sunda dan menyampaikan nasihat tentang kehidupan serta ajaran Islam.
Menariknya, kesenian ini sudah berkembang sejak abad ke-19 dan kini tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Lantas, seperti apa sejarah dan keunikan tembang Cigawiran dari Garut ini? Yuk, kenali lebih dekat salah satu kekayaan budaya Sunda yang mungkin belum banyak Warginet ketahui.
Baca Juga: Kesenian Lais Garut: Atraksi Akrobatik yang Bikin Deg-degan
Mengenal Cigawiran, Tembang Sunda dari Selaawi Garut
Cigawiran merupakan seni vokal atau tembang tradisional Sunda yang berasal dari Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Nama kesenian ini diambil dari tempat kelahirannya, yaitu Cigawir.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam artikel Revitalisasi Sastra Lisan Cigawiran Garut yang diterbitkan pada 22 Januari 2022, menjelaskan bahwa Cigawiran memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan ragam tembang Sunda lainnya.
Kesenian ini tumbuh di lingkungan pesantren dan berkaitan erat dengan tradisi penyampaian ajaran agama melalui sastra serta lantunan suara. Syairnya bukan sekadar rangkaian kata yang dinyanyikan, tetapi juga berisi nasihat dan pesan moral yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Keunikan tersebut menjadikan Cigawiran sebagai bagian dari kekayaan kesenian tradisional Garut. Di dalamnya, seni vokal dan sastra Sunda berpadu dengan tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Sejarah Cigawiran dan Sosok Raden Haji Jalari
Warginet, sejarah Cigawiran berkaitan dengan sosok Raden Haji Jalari, tokoh agama yang dikenal sebagai perintis tembang ini di Desa Cigawir pada abad ke-19.
Berdasarkan catatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Cigawiran diperkirakan mulai dikembangkan sekitar 1823. Raden Haji Jalari disebut memiliki kebiasaan belajar agama ke sejumlah pesantren, termasuk di wilayah Jawa Timur.
Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mengembangkan karya berbentuk geguritan, yaitu susunan syair atau puisi, dengan pola yang mengikuti aturan pupuh. Karya-karya tersebut dilantunkan menggunakan gaya vokal khas yang kemudian dikenal sebagai tembang Cigawiran.
Syair yang dibuatnya berisi fatwa dan nasihat yang mengajak masyarakat menjalankan ajaran Islam. Dengan menggunakan bahasa Sunda dan bentuk tembang, pesan keagamaan disampaikan melalui cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Setelah kembali ke kampung halamannya, Raden Haji Jalari mendirikan pesantren di Desa Cigawir. Selain mengajarkan Al-Qur'an dan kitab-kitab keagamaan, ia juga mengenalkan geguritan ciptaannya yang dilantunkan dengan gaya Cigawiran.
Tradisi tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Dalam catatan Badan Bahasa, sejumlah tokoh yang berperan dalam perkembangannya antara lain Raden Haji Abdullah Usman, Raden Mohamad Isya, serta tokoh-tokoh penerus pada periode berikutnya.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa Cigawiran tidak lahir hanya sebagai hiburan. Kesenian ini berkembang dari tradisi belajar dan mengajar di pesantren, kemudian menjadi salah satu cara masyarakat mewariskan sastra Sunda sekaligus pesan keagamaan.
Apa yang Membuat Tembang Cigawiran Berbeda?
Salah satu ciri paling khas dari tembang Cigawiran adalah cara penyajiannya yang mengandalkan suara manusia tanpa iringan alat musik.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menjelaskan bahwa Cigawiran memiliki bentuk yang sekilas mirip dengan tembang Sunda Cianjuran. Namun, terdapat perbedaan penting dalam penyajiannya. Tembang Cianjuran dikenal menggunakan alat musik seperti kecapi dan suling, sedangkan Cigawiran ditampilkan melalui seni vokal tanpa iringan instrumen.
Karena itu, kekuatan pertunjukan Cigawiran terletak pada suara penembang, ketepatan melodi, serta penghayatan ketika melantunkan syair. Pendengar diajak memperhatikan bukan hanya alunan nadanya, tetapi juga pesan yang terkandung di dalam setiap bait.
Ciri tersebut membuat Cigawiran memiliki identitas tersendiri di antara ragam tembang Sunda. Kesederhanaan instrumen justru memberi ruang bagi suara dan isi syair untuk menjadi pusat perhatian.
Syair Sunda yang Membawa Pesan Keagamaan
Selain karakter vokalnya, hal yang membuat Cigawiran menarik adalah isi syairnya. Tembang ini menggunakan bahasa Sunda untuk menyampaikan nasihat, ajakan beribadah, dan nilai-nilai yang berkaitan dengan ajaran Islam.
Pesan-pesan tersebut menunjukkan bahwa tembang dapat berfungsi lebih luas daripada sekadar hiburan. Melalui syair dan lantunan suara, nilai keagamaan serta nasihat kehidupan disampaikan dalam bentuk seni yang tumbuh dari budaya masyarakat Sunda.
Dengan demikian, Cigawiran menjadi contoh bagaimana bahasa daerah dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan, nilai, dan pengetahuan antargenerasi.
Dari Lingkungan Pesantren hingga Acara Masyarakat
Walaupun berakar dari lingkungan pesantren, penggunaan tembang Cigawiran tidak terbatas pada kegiatan pembelajaran agama. Kesenian ini juga pernah digunakan dalam sejumlah acara masyarakat.
Dalam dokumentasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, tembang Cigawiran disebut terkadang ditampilkan dalam acara khitanan dan upacara empat bulanan kehamilan. Kehadirannya dalam acara tersebut memperlihatkan bahwa tradisi ini juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat.
Perjalanan Cigawiran memperlihatkan hubungan yang erat antara pesantren, seni, dan kehidupan masyarakat di Desa Cigawir. Pesan keagamaan disampaikan melalui tembang, sementara bentuk seninya menjadi bagian dari tradisi yang dikenal dan diwariskan oleh masyarakat.
Hal ini juga menjelaskan mengapa Cigawiran memiliki nilai budaya yang penting. Kesenian ini tidak berdiri sendiri sebagai pertunjukan, melainkan tumbuh dari lingkungan sosial yang turut membentuk isi syair, cara penyajian, dan fungsi tradisinya.
Cigawiran Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda
Keberadaan Cigawiran juga telah mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Dalam basis data resmi Warisan Budaya Indonesia milik Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Cigawiran tercatat sebagai karya budaya dari Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, dalam domain seni pertunjukan. Data tersebut mencantumkan Surat Keputusan Nomor 414/P/2022 dengan tahun penetapan 2022. Pengakuan tersebut menjadi salah satu penanda bahwa Cigawiran memiliki nilai budaya yang perlu terus dikenal dan dijaga keberlangsungannya.
Bagi Garut, pencatatan ini juga memperlihatkan bahwa warisan budaya daerah tidak hanya berbentuk bangunan bersejarah, benda, atau kerajinan. Tradisi lisan dan seni vokal seperti Cigawiran juga menjadi bagian penting dari identitas masyarakat.
Namun, status sebagai Warisan Budaya Takbenda bukan berarti pelestarian dapat berhenti sampai di sana. Keberlanjutan kesenian tetap membutuhkan orang-orang yang mempelajari, melantunkan, mengajarkan, dan memperkenalkannya kepada masyarakat.
Upaya Melestarikan Cigawiran agar Tidak Kehilangan Pewaris
Warginet, salah satu tantangan dalam menjaga kesenian tradisional adalah memastikan adanya generasi yang mau mempelajari dan meneruskannya. Hal ini juga pernah menjadi perhatian dalam upaya pelestarian Cigawiran.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat bahwa kajian vitalitas pada 2015 menempatkan Cigawiran dalam kategori stabil dan mantap, tetapi terancam punah. Salah satu faktor yang disoroti saat itu adalah terbatasnya jumlah penembang yang menguasai tradisi tersebut.
Sebagai upaya pewarisan, Badan Bahasa menyelenggarakan program revitalisasi Cigawiran pada 3–9 Juli 2017. Kegiatan tersebut mencakup pelatihan intensif dan pementasan untuk mengenalkan kembali kesenian ini kepada masyarakat.
Program tersebut memperlihatkan pentingnya pelatihan dan ruang pertunjukan dalam pelestarian sastra lisan. Dokumentasi sejarah memang membantu masyarakat mengenal Cigawiran, tetapi keterampilan melantunkan tembang juga perlu dipelajari secara langsung agar tradisi tersebut tetap hidup.
Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui pembelajaran di lingkungan keluarga dan pesantren, kegiatan budaya, dokumentasi audio-visual, serta pengenalan kepada generasi muda. Dengan begitu, Cigawiran tidak hanya tersimpan dalam arsip, tetapi juga memiliki kesempatan untuk terus dipraktikkan.
Catatan mengenai keterbatasan penembang berasal dari kajian tahun 2015 dan publikasi tahun 2022. Karena itu, informasi tersebut menggambarkan kondisi pada periode kajian, bukan angka pasti jumlah penembang Cigawiran saat ini.
Cigawiran, Warisan Suara dan Sastra Sunda dari Garut
Dari Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Cigawiran berkembang menjadi tembang Sunda yang memadukan seni vokal, sastra, dan pesan keagamaan. Sejarahnya berkaitan dengan tradisi pesantren dan sosok Raden Haji Jalari yang mengembangkan syair berbahasa Sunda dengan gaya lantunan khas.
Keunikannya terletak pada penyajian yang mengandalkan suara tanpa iringan alat musik, serta syair yang mengandung nasihat dan nilai-nilai Islam. Perjalanan panjangnya juga memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi sarana untuk mewariskan pengetahuan dan identitas budaya kepada generasi berikutnya.
Baca Juga: Badeng Malangbong, Kesenian Angklung yang Punya Cerita Dakwah
Nah, Warginet, sekarang sudah tahu bahwa Garut punya tembang tradisional yang bukan hanya indah didengar, tetapi juga sarat makna. Mengenal Cigawiran menjadi salah satu cara untuk lebih dekat dengan kekayaan sastra dan budaya Sunda.
Yuk, ikut mengenalkan kesenian tradisional Garut agar semakin banyak orang mengetahui bahwa warisan budaya tidak hanya bisa dilihat, tetapi juga bisa didengar melalui suara dan cerita yang diwariskan dari masa ke masa.
Penulis: Mutiara Lestari
Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.






