Infogarut

Ciwel, Jajanan Singkong Hitam Legendaris yang Kian Langka

M
Mutiara LestariPublisher
19 Oktober 2026 pukul 10.42 5 menit baca
Ciwel, Jajanan Singkong Hitam Legendaris yang Kian Langka
Ciwel, Jajanan Singkong Hitam Legendaris yang Kian Langka

Bagi yang belum kenal, ciwel adalah kue tradisional berbahan dasar singkong kering (gaplek). Singkong yang sudah dikupas dan dikeringkan dihaluskan menjadi tepung, lalu diberi arang jerami padi (oman) sebagai pewarna alami.

Adonan ciwel dikukus hingga matang, kemudian dipotong-potong dan disajikan bersama kelapa parut yang telah sedikit diampelas garam. Hasilnya adalah camilan berwarna hitam kecokelatan dengan tekstur kenyal-legit dan aroma gurih kelapa.

Sekilas ciwel mirip cenil atau lupis, dan biasa jadi satu paket jajanan pasar bersama kedua camilan itu. Rasa ciwel cenderung netral-manis dengan sentuhan gurih dari kelapa, sangat cocok buat teman ngopi atau teh.

Baca Juga: Mengenal Endog Lewo, Camilan Khas Malangbong Garut yang Melegenda

Sejarah Asal-Usul Ciwel dari Jawa Tengah

Meskipun beberapa menyangka ciwel berasal dari Sunda, panganan ini sesungguhnya penganan khas Jawa Tengah. Menurut sumber lokal, ciwel pertama kali populer di daerah Kebumen (Jawa Tengah), dan dikenal luas di berbagai pasar tradisional Jawa. Di wilayah Yogya, Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Purwokerto, bahkan Solo, ciwel sering ditemukan di rak-rak pasar bersanding dengan cenil dan lupis.

Bahkan, rakyat Jawa menganggap trio ciwel–cenil–lupis sebagai paket jajanan pasar wajib yang biasa disiram saus gula merah kental. Karena itulah banyak generasi 90-an menganggap ciwel sebagai salah satu jajanan masa kecil tahun 90-an mereka.

Dari sisi bahasa, ada mitos menarik terkait penamaan ciwel. Budayawan Sunda dari Unpas menjelaskan bahwa jajanan berbahan aci (tapioka) sering dinamai kreatif di Jawa Barat. Contohnya, kata “cilok” (aci dicolok) bisa “dicowel” sehingga menjadi “ciwel”. Artinya, nama ciwel dipandang sebagai plesetan cilok yang “dicocol” (dibedakan cara makannya).

Hal ini menunjukkan bagaimana budaya kuliner Sunda juga ikut merayakan ciwel lewat permainan kata. Namun, perlu diingat bahwa meski namanya unik, resep ciwel mengikuti tradisi Jawa: gaplek + arang jerami + kelapa.

Bahan dan Cara Membuat Ciwel

Resep tradisional ciwel sederhana tapi khas. Bahan utamanya adalah tepung gaplek (tepung singkong kering) dan bubuk arang jerami padi (oman) sebagai pewarna. Cara membuatnya umumnya seperti ini:

- Rendam tepung gaplek dalam larutan arang jerami hitam agar adonan berwarna gelap.

- Bentuk adonan pipih atau potongan kotak.

- Kukus adonan hingga matang, lalu angkat dan dinginkan.

- Potong-potong sesuai selera, sajikan bersama parutan kelapa yang diberi sedikit garam.

Hasil akhirnya adalah potongan ciwel berwarna hitam kecokelatan, kenyal saat digigit, dan beraroma gurih kelapa.

Warna gelap ciwel memang berasal dari arang jerami yang sebenarnya aman dikonsumsi karena arang jerami dimanfaatkan warga tradisional sebagai pewarna alami. Konon, ciwel juga baik untuk penderita maag karena sifat basa dari singkong yang direndam arang.

Rasa manis murni ciwel datang dari sentuhan gula merah saat disajikan, sedangkan gurihnya dari kelapa parut asin.

Varian Regional dan Penamaan Unik

Sebagai kue tradisional, ciwel punya beberapa varian di berbagai daerah. Di Jawa Tengah dikenal ciwel hitam (ori) dari gaplek berwarna cokelat tua. Ada pula varian ciwel putih yang dibuat tanpa arang jerami, sehingga adonannya tetap putih seperti cenil biasa.

Perbedaan utamanya hanya pada warna; tekstur kenyal dan rasa kelapa-nya tetap sama. Variasi lain mirip ciwel adalah getuk lindri (kadang disebut ciwel di daerah tertentu), tapi sebenarnya getuk lindri biasanya lebih manis dan lembut.

Di Sunda, ciwel kurang dikenal secara resmi, namun kadang istilah ini muncul dalam folklore kuliner Sunda. Uniknya, pakar budaya Sunda menyebut penamaan jajanan aci-aci dibuat lewat plesetan: misal cilok (aci dicolok) bisa dicubah jadi ciwel (cilok dicowel).

Kenapa Ciwel Kian Langka di Pasaran

Kalau sekarang susah menjumpai ciwel di pasar-pasar lokal, ada beberapa alasannya.

Pertama, modernisasi jajanan membuat pedagang lebih memilih camilan populer seperti cimol, cireng, atau aneka gorengan kekinian. Kedua, pembuatan ciwel memerlukan bahan khusus (gaplek dan arang padi) yang tak sepraktis tepung instan lainnya. Akhirnya, banyak generasi muda kurang mengenal atau tidak menyukai tekstur aci yang kenyal.

Beberapa wilayah di Garut dan Jawa Barat menumpuk kenangan ciwel sebagai jajanan mas dulu, tetapi sekarang banyak warung jajanan sudah tidak menjualnya. Faktor kesehatan juga membuat sebagian orang curiga dengan warna gelap, padahal pewarna alami arang jerami aman.

Namun, ciwel tetap memiliki penggemar setia. Banyak warga yang bahagia ketika menemukan ciwel tersisa di pasar tradisional.

Di era digital, sebagian food blogger dan pedagang online kadang membangkitkan ciwel, bahkan ada “Festival Aci” di Bandung yang mengangkat keunikan jajanan berbahan aci seperti ciwel. Meski begitu, keberadaannya masih kalah populer dibandingkan jajanan pasar lain.

Rasa Ciwel dan Cara Menyantapnya

Dalam sekali gigitan, ciwel memberikan sensasi unik.

Teksturnya kenyal lembut, mirip cenil tapi sedikit lebih padat. Rasa dasarnya tidak terlalu manis, sehingga serasi dipadu air kelapa atau parutan kelapa bersalut gula merah.

Orang sering menyantap ciwel dengan tambahan serutan gula merah kental yang disiram di atasnya, ala penyajian jajanan pasar. Ada juga yang mencocolnya dengan saus santan manis.

Perpaduan aci kenyal, manisnya gula, dan gurih kelapa menjadikan ciwel nikmat disantap hangat-hangat atau saat suhu ruangan. Bagi pencinta nostalgia, gigitan pertama ciwel mungkin langsung mengingatkan masa kecil bareng jajanan cenil dan lupis.

Cara Menemukan Ciwel dan Tips Penyimpanan

Di Garut dan Jawa Barat jarang ada yang menjual ciwel, tapi boleh cek warung jajanan campur yang menyediakan cenil lupis, siapa tahu mendapat tambahan ciwel.

Setelah membeli, simpan ciwel dalam wadah tertutup agar tidak cepat kering. Karena teksturnya kenyal, ciwel tidak tahan lama di udara terbuka. Bila terlalu lama disimpan, ciwel bisa mengeras dan kehilangan kelembutan.

Demi menjaga cita rasa, sebaiknya ciwel dikonsumsi dalam beberapa hari dan bila perlu dipanaskan ulang dengan sedikit kukusan agar teksturnya kembali lembut.

Baca Juga: 10 Jajanan Masa Kecil Zaman Dulu yang Bikin Kangen Masa Kecil

Lho, Warginet, dari jajanan masa kecil jaman dulu di atas, mana nih yang paling bikin kamu kangen? Jangan sampai ciwel cuma jadi cerita; kalau sempat ke Jawa Tengah, boleh banget berburu sendiri!

Sumber: Literatur kuliner dan sejarah makanan, ulasan budaya kuliner dari Universitas Pasundan Bandung, beberapa fakta dan resep diolah dari sumber tradisional yang relevan.

Penulis: Mutiara Lestari

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca