Bencana polusi udara akibat fenomena asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) beserta gelombang panas ekstrem terbukti mengancam kesehatan pernapasan ratusan juta jiwa akibat efek pemanasan iklim berdasarkan rincian data selama 20 tahun terakhir.
Baca juga: Kabut Asap Bisa Picu ISPA pada Anak, Kenali Gejala dan Cara Cegahnya
Data Lonjakan Paparan Asap Karhutla
Dilansir dari laman National Geographic Indonesia, jumlah paparan ganda memengaruhi lebih dari separuh populasi dunia hingga mencapai peningkatan 287 juta jiwa per dekade. Laporan tersebut disampaikan langsung oleh kelompok peneliti terkemuka asal Monash University di Melbourne, Australia.
Penelitian sebaran spasial, temporal, serta sosiodemografis karya Yao Wu, Yuming Guo, dan Shanshan Li tersebut dirilis dalam jurnal Science Advances tanggal 14 Oktober 2026. Makalah ilmiah itu berjudul "Rising global population coexposure to heatwaves and landscape fire-sourced air pollution".
Studi mencatat angka paparan menyentuh 52,4% luas wilayah berpenghuni dunia atau hampir 56% total populasi manusia. Sebanyak 916 juta orang setiap tahunnya rutin merasakan ancaman penyakit kardiovaskular serta gangguan pernapasan mematikan akibat polusi udara tersebut.
Daftar 5 Negara Rawan Asap Karhutla
Rata-rata 1,3 hari paparan per orang global memburuk dari 1 hari pada rentang 2000–2009 menjadi 1,7 hari selama 2010–2019. Angka besar tersebut mencapai 5,5 miliar hari-orang per dekade, di mana 70,5% dipicu oleh intensitas dan 29,5% oleh populasi.
Republik Demokratik Kongo, Indonesia, Meksiko, Brasil, hingga Federasi Rusia menduduki urutan 5 negara tertinggi. ”Negara-negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rendah mencatat jumlah hari paparan per orang tertinggi sekaligus peningkatan terbesar,” tulis kutipan laporan para peneliti.
Tim pakar mengimbau agar data komprehensif tersebut langsung dioptimalkan oleh seluruh instansi pemerintahan pemangku kebijakan.
”Temuan ini menyediakan data beresolusi tinggi yang dapat menjadi acuan dalam penilaian dampak kesehatan serta penyusunan strategi mitigasi dan adaptasi yang tepat sasaran,” tulisnya.
Baca juga: Persentase Hutan di Indonesia Kalah dari 8 Negara Asia, Brunei Teratas
Jadi Warginet, tingginya lonjakan ancaman mematikan akibat paparan ganda suhu ekstrem beserta bahaya polusi asap karhutla tersebut sungguh membutuhkan perhatian ekstra. Kesadaran mitigasi bencana alam lewat berbagai langkah adaptasi mutlak wajib diprioritaskan demi melindungi keselamatan kelangsungan hidup keluarga






