Infogarut

Dari Sawit hingga Tambang, WALHI Sorot Titik Panas di Area Konsesi

M
Muhamad Renaldi SPublisher
24 Oktober 2026 pukul 16.52 2 menit baca
Dari Sawit hingga Tambang, WALHI Sorot Titik Panas di Area Konsesi
Dari Sawit hingga Tambang, WALHI Sorot Titik Panas di Area Konsesi, Source: Generated by AI

Penggunaan teknologi modifikasi cuaca dari udara dinilai tidak bisa menjadi solusi permanen terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia. Langkah penguraian asap di langit tidak menyelesaikan akar masalah utama pada kawasan lahan gambut yang terbakar.

Baca juga: BRIN Terapkan Metode Teknologi Dry Ice Karhutla Untuk Urai Kabut Asap

Keterbatasan Metode Modifikasi Cuaca

Mengutip laporan National Geographic Indonesia, pakar kelompok riset kebakaran hutan University of New South Wales (UNSW), Rick McRae, menilai dry ice hanya memberi penanganan sementara. Pergerakan sistem cuaca dari timur ke barat membuat asap baru terus bertiup mengisi wilayah yang sempat bersih.

"Metode ini tidak bisa menjadi solusi permanen untuk memadamkan kebakaran yang berulang karena upaya meredakan asap di udara tidak menyelesaikan akar masalah di tanah," tegas Rick McRae.

Karakteristik kebakaran pada lahan gambut yang sulit dipadamkan membuat polusi asap terus diproduksi dalam jumlah besar. Deputi Modifikasi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Tri Handoko Seto, menyampaikan bahwa efektivitas teknik ini terhadap kabut asap di wilayah tropis masih memerlukan evaluasi lanjutan.

Tantangan Dampak Dan Penegakan Hukum

Dampak fenomena El Niño pemicu kekeringan panjang tercatat menimbulkan lebih dari 1.000.000 titik panas dengan luas lahan terbakar hampir 900.000 hektare. Bencana kabut asap tebal bahkan melintasi batas negara menuju Singapura, Malaysia, hingga Filipina akibat dorongan angin kencang di udara.

"Jika metode ini terbukti efektif, hemat biaya, dan dapat diterapkan di wilayah lain, maka penggunaannya berpeluang diperluas," beber Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kristomei Sianturi.

Pemerintah berencana meluaskan penggunaan teknologi ini ke provinsi prioritas karhutla seperti Riau, Jambi, serta Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan. Opsi perluasan tersebut terus dikaji secara mendalam di tengah ancaman kekeringan El Niño.

Di tengah krisis tersebut, tim pemadam darat dan puluhan helikopter bom air terus berjuang keras memadamkan titik api. Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan lebih dari 200 individu serta 9 perusahaan sebagai tersangka dalam kasus pembakaran lahan.

Baca juga: Isu Konsesi Sawit dan Tambang, Kebakaran Hutan Kalimantan Jadi Sorotan

Nah Warginet, keberadaan teknologi dry ice di udara jangan sampai mengalihkan perhatian publik dari upaya penegakan hukum di darat. Penghentian aksi pembakaran lahan tanpa izin tetap menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah bencana krisis lingkungan ini.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca