Infogarut

Di Antara FYP dan Silih Asih: Masihkah Ada Ruang bagi Kearifan Lokal Garut?

I
InfogarutPublisher
17 Agustus 2026 pukul 12.34 6 menit baca
Di Antara FYP dan Silih Asih: Masihkah Ada Ruang bagi Kearifan Lokal Garut?
Di Antara FYP dan Silih Asih: Masihkah Ada Ruang bagi Kearifan Lokal Garut?

Pernahkah kita lebih cepat mengenali lagu yang sedang viral di  Tiktok dibandingkan sejarah daerah tempat kita tinggal? atau lebih hafal  istilah-istilah asing yang berseliweran di media sosial daripada nilai budaya  yang diwariskan oleh leluhur kita sendiri? Pertanyaan tersebut mungkin  terdengar sederhana, tetapi menjadi gambaran nyata kehidupan generasi  muda saat ini. Di tengah derasnya arus informasi digital, perhatian kita  sering kali tertuju pada berbagai tren yang datang silih berganti, sementara  budaya lokal perlahan kehilangan ruang dalam keseharian.

Sebagai bagian dari Generasi Z, saya tumbuh di era ketika internet  menjadi sumber utama informasi. Melalui fitur For You Page (FYP),  berbagai konten dari seluruh dunia dapat hadir hanya dalam hitungan detik.  Kita dapat mengetahui tren terbaru, mengikuti perkembangan budaya  negara lain, bahkan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai belahan  dunia. Di satu sisi, hal ini merupakan keuntungan karena membuka  wawasan yang lebih luas. Namun di sisi lain, saya mulai mempertanyakan  satu hal: ketika dunia terasa semakin dekat, apakah kita masih memiliki  kedekatan yang sama dengan budaya daerah kita sendiri?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika saya melihat  kondisi budaya lokal di Garut. Daerha yang dikenal dengan keindahan alam  dan kekayaan budayanya ini sebenarnya memiliki banyak warisan yang  patut dibanggakan. Masyarakat Sunda mengenal nilai silih asih, silih asah,  dan silih asuh sebagai pedoman hidup yang mengajarkan kasih sayang,  saling belajar, dan saling membimbing dalam kehidupan bermasyarakat  (Rezqi & Furqan, 2025). Nilai-nilai tersebut bukan hanya bagian dari masa  lalu, tetapi juga fondasi yang membentuk karakter masyarakat hingga saat  ini

Sayangnya, tidak semua generasi muda memahami makna nilai-nilai  tersebut. Saya menyadari hal ini dari pengalaman sederhana yang saya  temui di lingkungan sekitar. Ketika masih kecil, permainan tradisional  seperti congklak, sondlah, dan oray-orayan masih cukup sering dimainkan  bersama teman-teman. Saat itu, kami belajar bekerja sama, berinteraksi,  dan bersenang-senang tanpa bergantung pada layar ponsel. Namun  beberapa tahun terakhir, saya justru menemukan banyak anak yang  bahkan tidak mengetahui cara memainkan permainan tersebut. Sebagian  dari mereka baru pertama kali mendengar nama congklak atau oray orayan. Sebaliknya, mereka sangat akrab dengan permainan digital dan  berbagai tren yang sedang viral di media sosial.

Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa budaya lokal  sebenarnya tidak sedang menghilang, yang terjadi adalah semakin  berkurangnya kesempatan generasi muda untuk berinteraksi langsung  dengan budaya tersebut. Ketika keseharian anak-anak lebih banyak  dihabiskan di depan layar, maka ruang untuk mengenal permainan  tradisional, cerita rakyat, maupun nilai budaya lokal menjadi semakin  sempit.

Hal ini serupa juga saya rasakan dalam penggunaan bahasa Sunda.  Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Garut, saya justru lebih sering  menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Bahkan  dalam lingkungan pertemanan, penggunaan bahasa Sunda tidak lagi  sesering yang saya lihat pada generasi orang tua saya. Kondisi ini membuat  saya menyadari bahwa perubahan budaya tidak selalu terjadi dalam bentuk  yang besar dan mencolok. Terkadang, perubahan tersebut hadir melalui  kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan bergeser dari kehidupan sehari hari. Jika bahasa sebagai salah satu identitas budaya semakin jarang  digunakan, maka kedekatan generasi muda dengan akar budayanya pun  berpotensi ikut berkurang.

Pengalaman lain yang masih saya ingat hingga sekarang adalah  ketika duduk di bangku sekolah dasar dan mengikuti kegiatan kunjungan ke  Candi Cangkuang. Saat itu saya belum memahami sepenuhnya nilai  sejarah yang dimiliki tempat tersebut. Namun pengalaman menaiki rakit  menuju kawasan candi, melihat peninggalan sejarah secara langsung,  serta mendengarkan cerita tentang masa lalu Garut menjadi pengalamn  yang membekas hingga sekarang. Melalui kegiatan sederhana tersebut,  saya mengenal sejarah dan budaya daerah dengan cara yang  menyenangkan.

Ketika melihat adik saya yang saat ini duduk di kelas 3 sekolah  dasar, saya justru jarang menemukan pengalaman serupa. Kegiatan yang  memperkenalkan budaya dan sejarah lokal tampaknya tidak lagi sesering  dulu. Akibatnya, banyak anak yang mengenal tokoh-tokoh dari internet atau  media sosial, tetapi kurang mengenal warisan budaya yang berada tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Menurut saya, kondisi  ini patut menjadi perhatian karena kecintaan terhadap budaya tidak muncul  secara tiba-tiba, melainkan tumbuh melalui pengalaman dan interaksi yang  berkelanjutan.

Fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari karakteristik  Generasi Z yang tumbuh bersama teknologi digital. Generasi ini terbiasa  memperoleh informasi secara cepat, visual, dan interaktif melalui internet  serta media sosial (Alruthaya et al., 2021). Akibatnya, informasi yang sering  muncul di layar ponsel cenderung lebih mudah menarik perhatian  dibandingkan budaya lokal yang jarang diperkenalkan dengan cara yang  relevan. Tidak mengherankan apabila banyak anak muda lebih mengenal  tren global dibandingkan sejarah daerahnya sendiri.

Namun menurut saya, teknologi bukanlah penyebab utama  memudarnya budaya lokal. Teknologi hanyalah alat yang menjadi  persoalan bagaimana budaya lokal belum mampu hadir secara konsisten  di ruang digital yang setiap hari digunakan oleh generasi muda. Padahal media sosial sebenarnya dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk  memperkenalkan budaya daerah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa  pendekatan visual dan media digital mampu meningkatkan ketertarikan  Generasi Z terhadap budaya lokal (Kresna, 2024).

Bayangkan jika cerita tentang Candi Cangkuang dikemas dalam  video pendek yang menarik. Permainan tradisional seperti congklak dan  oray-orayan diperkenalkan melalui konten edukatif yang interaktif, atau nilai  silih asih, silih asah, dan silih asuh disampaikan melalui cerita yang dekat  dengan kehidupan sehari-hari anak muda. Dengan cara seperti itu, budaya  tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan  perkembangan zaman.

Garut sendiri masih memiliki banyak contoh kearifan lokal yang tetap  hidup hingga saat ini. Kampung Adat Dukuh, yang masih mempertahankan  nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan keharmonisan dengan alam yang  diwariskan secara turun-temurun (Sutisna et al., 2023). Kebaradaan  kampung adat tersebut membuktikan bahwa budaya lokal belum hilang.  Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana menjembatani warisa  budaya tersebut dengan kehidupan generasi muda masa kini.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa masih ada ruang bagi kearifan  lokal Garut di tengah derasnya atus FYP dan budaya digital. Namun ruang  tersebut tidak akan bertahan dengan sendirinya. Budaya perlu  diperkenalkan, diceritakan, dan dihadirkan kembali dalam kehidupan  generasi muda melalui cara-cara yang lebih relevan dengan zamannya.  Sebab pada akhirnya, tren di media sosial akan terus berubah dari waktu  ke waktu. Apa yang viral hari ini bisa saja terlupakan esok hari. Akan tetapi,  nilai-nilai budaya seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh adalah warisan  yang tidak boleh hilang karena di dalamnya mengenal siapa diri kita dan  dari mana kita berasal.

Penulis:  Nisa Ananta Junianti

Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani

====

50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0

Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.

Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.

📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?

Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:

🔗 [LINK E-BOOK]

Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca