Pernahkah kita lebih cepat mengenali lagu yang sedang viral di Tiktok dibandingkan sejarah daerah tempat kita tinggal? atau lebih hafal istilah-istilah asing yang berseliweran di media sosial daripada nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur kita sendiri? Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi menjadi gambaran nyata kehidupan generasi muda saat ini. Di tengah derasnya arus informasi digital, perhatian kita sering kali tertuju pada berbagai tren yang datang silih berganti, sementara budaya lokal perlahan kehilangan ruang dalam keseharian.
Sebagai bagian dari Generasi Z, saya tumbuh di era ketika internet menjadi sumber utama informasi. Melalui fitur For You Page (FYP), berbagai konten dari seluruh dunia dapat hadir hanya dalam hitungan detik. Kita dapat mengetahui tren terbaru, mengikuti perkembangan budaya negara lain, bahkan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Di satu sisi, hal ini merupakan keuntungan karena membuka wawasan yang lebih luas. Namun di sisi lain, saya mulai mempertanyakan satu hal: ketika dunia terasa semakin dekat, apakah kita masih memiliki kedekatan yang sama dengan budaya daerah kita sendiri?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika saya melihat kondisi budaya lokal di Garut. Daerha yang dikenal dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya ini sebenarnya memiliki banyak warisan yang patut dibanggakan. Masyarakat Sunda mengenal nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh sebagai pedoman hidup yang mengajarkan kasih sayang, saling belajar, dan saling membimbing dalam kehidupan bermasyarakat (Rezqi & Furqan, 2025). Nilai-nilai tersebut bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga fondasi yang membentuk karakter masyarakat hingga saat ini
Sayangnya, tidak semua generasi muda memahami makna nilai-nilai tersebut. Saya menyadari hal ini dari pengalaman sederhana yang saya temui di lingkungan sekitar. Ketika masih kecil, permainan tradisional seperti congklak, sondlah, dan oray-orayan masih cukup sering dimainkan bersama teman-teman. Saat itu, kami belajar bekerja sama, berinteraksi, dan bersenang-senang tanpa bergantung pada layar ponsel. Namun beberapa tahun terakhir, saya justru menemukan banyak anak yang bahkan tidak mengetahui cara memainkan permainan tersebut. Sebagian dari mereka baru pertama kali mendengar nama congklak atau oray orayan. Sebaliknya, mereka sangat akrab dengan permainan digital dan berbagai tren yang sedang viral di media sosial.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa budaya lokal sebenarnya tidak sedang menghilang, yang terjadi adalah semakin berkurangnya kesempatan generasi muda untuk berinteraksi langsung dengan budaya tersebut. Ketika keseharian anak-anak lebih banyak dihabiskan di depan layar, maka ruang untuk mengenal permainan tradisional, cerita rakyat, maupun nilai budaya lokal menjadi semakin sempit.
Hal ini serupa juga saya rasakan dalam penggunaan bahasa Sunda. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Garut, saya justru lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Bahkan dalam lingkungan pertemanan, penggunaan bahasa Sunda tidak lagi sesering yang saya lihat pada generasi orang tua saya. Kondisi ini membuat saya menyadari bahwa perubahan budaya tidak selalu terjadi dalam bentuk yang besar dan mencolok. Terkadang, perubahan tersebut hadir melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan bergeser dari kehidupan sehari hari. Jika bahasa sebagai salah satu identitas budaya semakin jarang digunakan, maka kedekatan generasi muda dengan akar budayanya pun berpotensi ikut berkurang.
Pengalaman lain yang masih saya ingat hingga sekarang adalah ketika duduk di bangku sekolah dasar dan mengikuti kegiatan kunjungan ke Candi Cangkuang. Saat itu saya belum memahami sepenuhnya nilai sejarah yang dimiliki tempat tersebut. Namun pengalaman menaiki rakit menuju kawasan candi, melihat peninggalan sejarah secara langsung, serta mendengarkan cerita tentang masa lalu Garut menjadi pengalamn yang membekas hingga sekarang. Melalui kegiatan sederhana tersebut, saya mengenal sejarah dan budaya daerah dengan cara yang menyenangkan.
Ketika melihat adik saya yang saat ini duduk di kelas 3 sekolah dasar, saya justru jarang menemukan pengalaman serupa. Kegiatan yang memperkenalkan budaya dan sejarah lokal tampaknya tidak lagi sesering dulu. Akibatnya, banyak anak yang mengenal tokoh-tokoh dari internet atau media sosial, tetapi kurang mengenal warisan budaya yang berada tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Menurut saya, kondisi ini patut menjadi perhatian karena kecintaan terhadap budaya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh melalui pengalaman dan interaksi yang berkelanjutan.
Fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari karakteristik Generasi Z yang tumbuh bersama teknologi digital. Generasi ini terbiasa memperoleh informasi secara cepat, visual, dan interaktif melalui internet serta media sosial (Alruthaya et al., 2021). Akibatnya, informasi yang sering muncul di layar ponsel cenderung lebih mudah menarik perhatian dibandingkan budaya lokal yang jarang diperkenalkan dengan cara yang relevan. Tidak mengherankan apabila banyak anak muda lebih mengenal tren global dibandingkan sejarah daerahnya sendiri.
Namun menurut saya, teknologi bukanlah penyebab utama memudarnya budaya lokal. Teknologi hanyalah alat yang menjadi persoalan bagaimana budaya lokal belum mampu hadir secara konsisten di ruang digital yang setiap hari digunakan oleh generasi muda. Padahal media sosial sebenarnya dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperkenalkan budaya daerah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendekatan visual dan media digital mampu meningkatkan ketertarikan Generasi Z terhadap budaya lokal (Kresna, 2024).
Bayangkan jika cerita tentang Candi Cangkuang dikemas dalam video pendek yang menarik. Permainan tradisional seperti congklak dan oray-orayan diperkenalkan melalui konten edukatif yang interaktif, atau nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh disampaikan melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda. Dengan cara seperti itu, budaya tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Garut sendiri masih memiliki banyak contoh kearifan lokal yang tetap hidup hingga saat ini. Kampung Adat Dukuh, yang masih mempertahankan nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan keharmonisan dengan alam yang diwariskan secara turun-temurun (Sutisna et al., 2023). Kebaradaan kampung adat tersebut membuktikan bahwa budaya lokal belum hilang. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana menjembatani warisa budaya tersebut dengan kehidupan generasi muda masa kini.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa masih ada ruang bagi kearifan lokal Garut di tengah derasnya atus FYP dan budaya digital. Namun ruang tersebut tidak akan bertahan dengan sendirinya. Budaya perlu diperkenalkan, diceritakan, dan dihadirkan kembali dalam kehidupan generasi muda melalui cara-cara yang lebih relevan dengan zamannya. Sebab pada akhirnya, tren di media sosial akan terus berubah dari waktu ke waktu. Apa yang viral hari ini bisa saja terlupakan esok hari. Akan tetapi, nilai-nilai budaya seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh adalah warisan yang tidak boleh hilang karena di dalamnya mengenal siapa diri kita dan dari mana kita berasal.
Penulis: Nisa Ananta Junianti
Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani
====
50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0
Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.
Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.
📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?
Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:
🔗 [LINK E-BOOK]
Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!






