Keberadaan budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi hari ini kian mengikis dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Terlebih di generari muda yang saat ini lebih cenderung akrab dan bersahabat dengan pop culture dibandingkan dengan tradisi atau budaya yang tumbuh di daerahnya sendiri.
Hal tersebut menjadi sebuah tantangan yang semestinya patut diperhatikan oleh masyarakat Indonesia. Begitu hal nya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Garut yang memiliki beragam warisan budaya bernilai tinggi yang semakin hari semakin dilupakan. Salah satu warisan budaya yang saat ini masih bertahan adalah tradisi seni ketangkasan Domba Garut atau yang biasa disebut sebagai Adu Domba Garut.
Mungkin bagi sebagian orang, Adu Domba Garut hanya dianggap sebagai hiburan rakyat atau sekedar pertarungan antar Domba. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, pemahaman tersebut terlalu dangkal serta menghilangkan esensi dari tradisi Adu Domba Garut tersebut.
Karena, Adu Domba Garut selain dipandang sebagai hiburan, juga memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan budaya yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Garut. Tradisi Adu Domba Garut bukan sekedar pertarungan dua Domba Jantan yang bertarung di arena.
Lebih dari itu, juga menyangkut tentang solidaritas daerah, solidaritas sosial, serta hubungan masyarakat dengan warisan tradisi leluhurnya. Sehingga, menjadi hal yang sangat penting dan perlu bahwa Adu Domba Garut layak dianggap sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Jika dilihat dari kacamata historis, Domba Garut sendiri bukan jenis hewan lokal yang tumbuh di wilayah garut. Tetapi Domba Garut lahir dari sebuah persilangan antara jenis Domba lokal Indonesia dengan jenis Domba Merino dari Autralia yang dibawa pedagang Belanda dan Capstaad dari Afrika Selatan yang dibawa oleh pedagang Arab pada masa kolonial Belanda (Infogarut, 2023).
Dari persilangan kedua jenis Domba tersebut, lahirlah jenis Domba baru yang memiliki karakteristik fisik kuat, betanduk besar, dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan jenis Domba lokal Indonesia lainnya.
Adapun jika dilihat dalam persebarannya, Domba Garut berkembang pesat di wilayah Priangan, seperti Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Majalengka, ataupun Bandung karena kemampuan adaptasinya yang baik terhadap lingkungan setempat serta tingginya minat masyarakat dalam memelihara hewan tersebut (Heriyadi & Maylinda, 2009).
Selain menjadi hewan ternak yang dipelihara dan dirawat oleh masyarakat Garut, seiring berjalannya waktu, Domba Garut juga dijadikan sebagai medium untuk menciptakan sebuah tradisi budaya Adu Domba Garut.
Tradisi tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun sehingga menjadi salah satu simbol tradisi dan budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Garut. Biasanya, Adu Domba Garut diselenggarakan dalam acara-acara tertentu, seperti festival budaya, perayaan/hajat daerah, maupun kegiatan komunitas peternak Domba.
Adu Domba Garut selain daripada menyuguhkan pertarungan antar Domba di arena, juga selalu disertai dengan kesenian tradisional berupa musik tradisional Sunda seperti kendang penca yang menambah nuansa khas masyarakat daerah Priangan.
Selain itu, di tempat digelarnya acaranya juga selalu dijadikan sebagai tempat untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan mempererat hubungan masyarakat secara individu maupun komunitas secara organisasi (Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, 2020).
Jadi, tradisi Adu Domba Garut ini bukan hanya sekedar hiburan semata, lebih dari itu dijadikan sebagai ajang untuk meningkatkan sosial solidaritas masyarakat di dalamnya.
Selain memiliki fungsi sosial, Domba Garut juga menjadi simbol prestise dan kebanggaan bagi pemiliknya. Banyak peternak merawat dombanya dengan penuh perhatian dan ketelatenan. Domba yang sehat dan memiliki kualitas baik dianggap mencerminkan kemampuan serta dedikasi pemiliknya.
Bahkan, tidak sedikit peternak yang memperlakukan dombanya seperti anggota keluarga sendiri. Sehingga mereka memberikan perawatan khusus, mulai dari pemberian pakan berkualitas, latihan fisik, hingga menjaga kesehatan hewan secara rutin (Okezone, 2023).
Penulis: Ali Ruhyat
Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani
====
50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0
Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.
Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.
📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?
Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:
🔗 [LINK E-BOOK]
Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!






