Infogarut

Green Pesantren: Membangun Budaya Keberlanjutan untuk Masa Depan Wisata dan Ekonomi Kreatif Garut

I
InfogarutPublisher
17 Agustus 2026 pukul 12.02 3 menit baca
Green Pesantren: Membangun Budaya Keberlanjutan untuk Masa Depan Wisata dan Ekonomi Kreatif Garut
Ai

Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki kekayaan alam, budaya, dan identitas religious yang kuat. Pada abad ke-19, tepatnya kisaran tahun 1920 Garut mendapat julukan sebagai Swiss van Java (Swiss dari Jawa).

Hal ini dikarenakan kedua wilayah tersebut sama-sama memiliki pesona alam yang menakjubkan, kontur alam yang eksotis, hingga udara sejuk. Selain itu, pada tahun 1962, Soekarno mencetuskan Garut sebagai Kota INTAN, yang merupakan akronim dari Indah, Tertib, Aman, dan Nyaman. Wahyuningtyas, L. A., Priyatna, C. C., & Erwina, W. (2025).

Berlanjut pada abad 20, Belanda menyebut kota ini dengan sebutan Mooi Garut yaitu Garut yang molek. Imadudin, I. (2011).  Keindahan pegunungan, Pantai, dan udara sejuk menjadikan Garut sebagai daerah wisata yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Di sisi lain, keberadaan Pondok Pesantren yang tersebar di berbagai wilayah menjadikan Garut juga dikenal sebagai kota santri. Namun, di Tengah perkembangan sektor wisata dan ekonomi kreatif, Kabupaten Garut masih menghadapi persoalan lingkungan yang cukup kompleks.

Mulai dari sampah, perilaku konsumtif Masyarakat, hingga rendahnya budaya pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Persoalan lingkungan seringkali dipandang sebagai urusan teknis, seperti kurangnya tempat sampa atau minimnya fasilitas pengelolaan limbah.

Padahal, persoalan lingkungan juga berkaitan dnegan erat dengan budaya Masyarakat. Bahkan wisata indah dan viral sekalipun tidak akan bertahan lama apabila kesadaran Masyarakat terhadap lingkungan maish rendah.

Misalnya saja pada bulan Mei tahun 2022 selepas menurunnya angka Pandemi Covid-19, berita di media massa mulai skala lokal, regional Jawa Barat hingga Nasional tidak luput dari pemberitaan Sampah yang menumpuk dan berserakan hingga ke wilayah Danau di Situ Bagendit sesaat setelah resmi dibuka dengan wajah baru.

Atau Pantai Sayang heulang, Santolo maupun Pantai lainnya yang memiliki tantangan selain pemungutan karcis liar ternyata sampah menjadi problematika yang sama. Contoh lainnya ketika penulis berkunjung ke Bukit Tegal Malaka, terdapat rombongan pengunjung yang membuang sampah plastic atau wadah kemasan dimana saja.

Bahkan di event yang sifatnya pertandingan olahraga saja, belum semua menerapkan konsep west management. Mulai dari atlet, supporter, hingga penonton meninggalkan sampah dimana saja. Padahal olahraga, Kesehatan dan kebersihan merupakan unsur satu kesatuan.

Oleh karena itu, Pembangunan wisata dan ekonomi kreatif di Garut perlu disertai dengan Pembangunan budaya berkelanjutan. Dalam konteks ini pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi ruang tumbuhnya kesadaran ekologis Masyarakat melalui konsep Green Pesantren.

Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga bagian dari sistem budaya Masyarakat Garut. Kehidupan kolektif santri membentuk nilai kedisiplinan, gotong royong, kesederhanaan, dan kepedulian sosial. Dalam ajaran Islam sendiri, menjaga kebersihan dan kelestarian alam merupakan bagian dari tanggung jawab khalifah fil ardh (pengelola bumi).

Sayangnya nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya direpresentasikan ke dalam praktik pengelolaan lingkungan di banyak pesantren. Persoalan sampah plastik, pengelolaan limbah, dan penggunaan barang sekali pakai masih menjadi tantangan yang ditemukan di berbagai lingkungan pendidikan, termasuk pesantren.

Berbicara kebudayaan, budaya lingkungan tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dengan seluruh sistem kehidupan Masyarakat. Koentjaraningrat memetakan terdapat 7 unsur kebudayaan (dalam Mahdayeni, M., Alhaddad, M. R., & Saleh, A. S. 2019).

Penulis: SIti Sunduz

Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani

====

50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0

Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.

Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.

📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?

Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:

🔗 [LINK E-BOOK]

Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca