Infogarut

Jalan Ibrahim Adjie Garut, dari Jalur Baru Jadi Spot Kuliner Favorit

M
Mutiara LestariPublisher
6 Oktober 2026 pukul 11.27 7 menit baca
Jalan Ibrahim Adjie Garut, dari Jalur Baru Jadi Spot Kuliner Favorit
Jalan Ibrahim Adjie Garut, Dari Jalan Penghubung Jadi Spot Kuliner dan Nongkrong (Sumber: Instagram @villamutiaragarut)

Warginet yang sering main ke kawasan Tarogong Kaler mungkin mulai menyadari satu hal: Jalan Ibrahim Adjie Garut sekarang rasanya bukan sekadar jalan lagi.

Kalau dulu jalan ini lebih dikenal sebagai jalur baru yang menghubungkan kawasan sekitar Tarogong Kaler, sekarang suasananya sudah berbeda. Terutama pada akhir pekan, jalan ini bisa berubah menjadi tempat warga berolahraga, berburu jajanan, sarapan, sampai sekadar duduk menikmati pemandangan.

Apalagi kalau datang pagi-pagi.

Udara pegunungan, hamparan sawah, dan Gunung Guntur yang terlihat dari kejauhan menjadi kombinasi yang cukup sulit untuk dilewatkan.

Tidak heran kalau kemudian bermunculan kuliner Jalan Ibrahim Adjie, pedagang kaki lima, kedai, hingga tempat makan yang menjadikan panorama sekitar sebagai bagian dari daya tariknya.

Lalu, sebenarnya kenapa Jalan Ibrahim Adjie makin ramai untuk kulineran dan nongkrong?

Baca Juga: Tips Tektok Gunung Cikuray Garut, Cukup Pakai Daypack Ukuran 20 Liter

Awalnya Dibangun sebagai Jalan Baru

Sebelum menjadi salah satu titik keramaian baru di Garut, Jalan Letjen Ibrahim Adjie merupakan jalan baru yang dibangun untuk membuka akses di kawasan Tarogong Kaler.

Pemerintah Kabupaten Garut meresmikan Jalan Letjen Ibrahim Adjie pada 28 Desember 2023. Saat peresmian, Bupati Garut saat itu, Rudy Gunawan, bersama rombongan bahkan menuju lokasi dengan menunggangi kuda dan disambut panorama Gunung Guntur.

Seiring waktu, jalan ini mulai memiliki fungsi yang lebih luas. Bukan cuma kendaraan yang lewat, tetapi warga juga mulai datang untuk menikmati suasana sekitar.

Hal tersebut sebenarnya cukup masuk akal. Jalan Ibrahim Adjie memiliki lanskap yang berbeda dari jalan perkotaan pada umumnya. Hamparan sawah dan panorama pegunungan membuat perjalanan di jalan ini terasa seperti sedang melewati kawasan pedesaan, meskipun lokasinya masih berada di sekitar kawasan perkotaan Garut.

Punya “Modal” yang Bikin Orang Betah

Kalau dipikir-pikir, apa yang membuat orang mau datang ke sebuah jalan hanya untuk nongkrong?

Jawabannya mungkin ada pada view.

Jalan Ibrahim Adjie dikenal memiliki panorama Gunung Guntur, Gunung Cikuray, hingga Gunung Papandayan. Hamparan sawah yang masih terlihat di sepanjang kawasan juga menjadi salah satu daya tariknya. detikJabar mencatat kondisi tersebut sudah menarik warga untuk datang, bahkan sejak kawasan ini mulai ramai oleh pedagang pada momen tertentu.

Jadi, ketika ada orang yang datang untuk sarapan atau membeli jajanan, mereka sebenarnya mendapatkan bonus lain: pemandangan alam Garut.

Inilah yang membuat konsep kuliner dengan view gunung terasa cocok di Jalan Ibrahim Adjie. Makanannya bisa sederhana, tempatnya tidak harus mewah, tetapi suasana yang didapatkan punya nilai tersendiri.

Minggu Pagi Jadi Waktu Paling Ramai

Salah satu perubahan paling terasa di kawasan ini terjadi pada Minggu pagi.

Jalan Ibrahim Adjie berkembang menjadi lokasi Car Free Day atau CFD Ibrahim Adjie, yang membuat masyarakat datang bukan hanya untuk mencari makanan, tetapi juga berolahraga dan menikmati suasana pagi.

CFD di Jalan Ibrahim Adjie menjadi salah satu tujuan warga setiap Minggu pagi. Pengunjung datang untuk berjalan kaki, bersepeda, bersantai, sekaligus menikmati udara segar dan panorama pegunungan.

Pagi-pagi, suasananya pun bukan cuma dipenuhi orang yang sedang olahraga. Deretan pedagang ikut meramaikan sisi jalan. Mulai dari sarapan, jajanan tradisional, makanan ringan, minuman, sampai kopi bisa ditemukan di kawasan ini.

Akhirnya terbentuk sebuah kebiasaan baru, yaitu olahraga, lapar, dan jajan.

Dan sepertinya, bagian terakhir inilah yang membuat CFD Ibrahim Adjie semakin menarik bagi warga.

Dari CFD, Lalu Muncul Pasar Tumpah

Keramaian Minggu pagi kemudian menciptakan ruang bagi pelaku UMKM untuk berjualan.

Sejak pagi, pedagang mulai memenuhi kawasan CFD dengan berbagai pilihan makanan dan minuman. Bahkan, aktivitas tersebut membuat Jalan Ibrahim Adjie terasa seperti pasar tumpah setiap akhir pekan.

Pedagang kaki lima sudah berjualan di kawasan tersebut pada Minggu pagi, sementara ketika Ramadan aktivitas jualan bisa berlangsung lebih sering untuk memenuhi kebutuhan warga berburu takjil.

Artinya, keramaian jalan tidak hanya menguntungkan pengunjung. Ada roda ekonomi yang ikut bergerak. Warga mendapatkan tempat untuk beraktivitas, sementara pedagang memperoleh

Surabi, Kopi, sampai Kuliner Kekinian Ada di Sini

Menariknya, kuliner yang tumbuh di kawasan ini juga tidak punya satu karakter saja. Ada makanan tradisional yang justru mendapat tempat karena cocok dengan suasana alamnya.

Salah satunya adalah Surabi Bakar Berlian yang berada di Jalan Letjen Ibrahim Adjie. Kedai tersebut memadukan surabi khas Sunda dengan panorama Gunung Guntur dan hamparan sawah. Pemiliknya juga menyebut media sosial ikut mendorong popularitas tempat tersebut, bahkan sebagian pengunjung datang dari luar kota.

Hal ini menunjukkan satu hal menarik, kuliner di Jalan Ibrahim Adjie tidak harus modern untuk menjadi daya tarik.

Makanan tradisional pun bisa terasa relevan ketika dikemas dengan pengalaman yang berbeda.

Begitu pula dengan budaya ngopi.

Saat ini, di sepanjang kawasan Jalan Ibrahim Adjie juga sudah terdapat sejumlah coffee shop dan kedai kopi seperti Kopi Tilu Sore Cabang Ibrahim Adjie dan SATUTERRA COFFEE.

Kehadiran tempat-tempat tersebut menunjukkan bahwa fungsi kawasan ini mulai berkembang dari sekadar tempat lewat menjadi ruang untuk menghabiskan waktu.

Kenapa View Jadi Faktor Penting?

Warginet, coba bayangkan dua tempat makan.

Yang pertama punya makanan enak.

Yang kedua punya makanan enak, udara pegunungan, hamparan sawah, dan Gunung Guntur sebagai latar.

Kemungkinan besar, tempat kedua akan terasa lebih menarik untuk dikunjungi, bukan?

Inilah salah satu kekuatan Jalan Ibrahim Adjie Garut.

Pemandangan alamnya sudah tersedia tanpa perlu dibuat-buat. Kawasan ini dikelilingi pegunungan dan masih memiliki hamparan sawah. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan warga datang untuk menikmati suasana, termasuk saat ngabuburit dan berburu takjil.

Jadi, pengunjung bukan hanya membeli makanan. Mereka juga membeli pengalaman. Makan sambil melihat gunung. Ngopi sambil menikmati udara pagi.

Atau sekadar duduk dan ngobrol tanpa harus masuk ke kawasan wisata formal.

Pemerintah Pun Melihat Potensinya

Perkembangan Jalan Ibrahim Adjie ternyata tidak luput dari perhatian Pemerintah Kabupaten Garut.

Pada Oktober 2025, Pemkab Garut sedang mempersiapkan program CFD yang dikaitkan dengan kegiatan ekonomi kreatif. Jalan Ibrahim Adjie menjadi salah satu lokasi yang dinilai potensial karena memiliki dua jalur, ruas yang panjang, serta ruang yang memungkinkan untuk aktivitas jualan.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Garut saat itu bahkan menyebut Jalan Ibrahim Adjie sebagai lokasi yang secara ideal cocok untuk CFD.

Alasannya bukan cuma soal jalan yang luas.mKawasan tersebut dinilai memiliki daya tarik karena berada di sekitar kaki Gunung Guntur dan dapat digunakan masyarakat untuk berjalan kaki menikmati suasana.

Dengan begitu, kuliner Garut di kawasan ini sebenarnya berkembang beriringan dengan aktivitas publik.

Jalan menjadi ruang olahraga. Ruang olahraga menarik pengunjung. Pengunjung menciptakan pasar. Dan pasar membuka peluang bagi UMKM.

Dari Jalan Penghubung Jadi Ruang Pertemuan

Pada akhirnya, mungkin inilah alasan kenapa Jalan Ibrahim Adjie terasa berbeda sekarang.

Dulu orang datang karena harus melewati jalan tersebut. Sekarang, banyak orang datang karena memang ingin berada di sana.

Mau olahraga? Bisa.

Mau sarapan? Ada.

Mau jajan? Banyak pilihan.

Mau ngopi? Bisa.

Mau nongkrong sambil melihat Gunung Guntur? Tinggal pilih tempat yang sesuai.

Mau sekadar jalan-jalan Minggu pagi? Juga bisa.

Perubahan tersebut membuat Jalan Ibrahim Adjie bukan lagi hanya berfungsi sebagai jalur penghubung. Kawasan ini mulai menjadi ruang publik baru yang mempertemukan aktivitas warga, UMKM, kuliner, dan pemandangan alam Garut.

Jadi, Kenapa Jalan Ibrahim Adjie Makin Ramai?

Kalau harus dirangkum, jawabannya bukan karena satu hal saja.

Ada jalan yang luas, ada panorama alam, ada aktivitas CFD, ada UMKM, dan ada kuliner yang terus bertambah.

Semua elemen tersebut kemudian saling menguatkan. Orang datang karena view. Pedagang datang karena ada orang. Orang semakin betah karena ada makanan. Tempat makan berkembang karena semakin banyak pengunjung.

Lalu media sosial ikut membuat kawasan ini semakin dikenal.

Siklus sederhana tersebut akhirnya membuat Jalan Ibrahim Adjie tumbuh menjadi salah satu ruang baru untuk kuliner dan nongkrong di Garut.

Bukan Lagi Sekadar Jalan Baru

Warginet, mungkin beberapa tahun ke depan Jalan Ibrahim Adjie akan kembali berubah.

Bisa jadi semakin banyak kedai baru, semakin banyak UMKM, atau mungkin muncul aktivitas lain yang membuat kawasan ini semakin hidup.

Tapi untuk sekarang, satu hal sudah cukup terlihat. Jalan Ibrahim Adjie bukan lagi sekadar jalan untuk dilewati.

Baca Juga:

Di sana, orang mulai datang untuk menikmati pagi, mencari sarapan, berburu jajanan, ngopi, ngobrol, olahraga, sampai menikmati pemandangan Garut dari sisi yang berbeda.

Dari jalan penghubung, perlahan berubah menjadi tempat orang punya alasan untuk berhenti.

Penulis: Mutiara Lestari

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca