Bencana alam berwujud fenomena kabut asap yang timbul akibat kebiasaan pembakaran hutan dan lahan berisiko tinggi membahayakan derajat kesehatan masyarakat luas, terutama bagi kelompok anak karena kondisi organ paru-paru mereka masih berada pada tahap perkembangan.
Baca juga: Persentase Hutan di Indonesia Kalah dari 8 Negara Asia, Brunei Teratas
Ancaman Bahaya Kabut Asap Bagi Anak
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO) menjelaskan fakta partikel halus PM2.5 mampu menembus dalam organ paru-paru. Polusi tersebut berisiko mengancam anak-anak lantaran mereka menghirup porsi udara lebih banyak dibandingkan orang dewasa berdasarkan berat tubuh mereka.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengingatkan bahwa paparan udara kotor tersebut memicu gangguan kesehatan hingga meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Gejala awal penderita biasanya berupa rentetan batuk, mata perih, iritasi tenggorokan, hingga rasa sesak napas.
Anak penderita dengan riwayat penyakit asma juga berisiko tinggi mengalami serangan sesak kambuh lebih sering sewaktu kondisi kualitas udara memburuk.
”Partikel-partikel PM2.5 banyak bertebaran di udara dan pastinya mengganggu paru-paru kita,” tegas Budi Gunadi Sadikin, selaku Menteri Kesehatan, dikutip dari RRI.
Panduan Cegah Dampak Polusi Kabut Asap
Guna menekan besaran risiko, para orang tua disarankan membatasi segala macam aktivitas anak di luar rumah serta konsisten memantau indikator kualitas udara. Seluruh elemen masyarakat juga terus dianjurkan untuk memakai masker pelindung saat rutinitas di luar ruangan terpaksa dilakukan.
Selama musibah berlangsung, tutuplah pintu beserta jendela rapat-rapat lalu hindari rutinitas pencipta asap kotor demi menjaga kebersihan udara dalam rumah. Segera bawa anak menuju fasilitas medis terdekat apabila muncul gejala batuk berkepanjangan, napas berbunyi, hingga kesulitan bernapas.
Pihak institusi pendidikan beserta tempat penitipan wajib membatasi kegiatan luar ruangan sembari memastikan ketersediaan ruang bersih sesuai arahan pemerintah daerah. Perlindungan ekstra tersebut mutlak membutuhkan ikatan sinergi kuat antara jajaran keluarga, sekolah, dan pihak pemerintah demi keamanan bersama.
Baca juga: Citra Landsat 7, Potret Hutan Kalimantan dan Kebun Sawit Tahun 2000
Jadi Warginet, musibah ancaman kabut asap ini patut menjadi fokus perhatian bersama demi menjaga keselamatan fungsi organ pernapasan para generasi penerus bangsa. Tindakan pencegahan sedini mungkin lewat penjagaan ketat pola rutinitas harian diharapkan mampu melindungi anak dari penyakit.
Sumber: RRI






