Warginet, siapa yang dulu suka main petak umpet, kejar-kejaran, atau bermain bersama teman sampai lupa waktu? Sebelum permainan di ponsel menjadi bagian dari keseharian, banyak anak menghabiskan waktu luangnya dengan permainan sederhana yang dimainkan beramai-ramai di halaman rumah, lapangan, atau jalanan kampung.
Dalam budaya Sunda, permainan tradisional anak-anak ini dikenal dengan sebutan kaulinan barudak lembur. Bukan cuma menjadi hiburan masa kecil, permainan tersebut juga menyimpan nilai kebersamaan, kejujuran, kreativitas, dan kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
Menariknya, permainan tradisional ini masih diperkenalkan kembali di Garut melalui berbagai kegiatan budaya. Lantas, apa saja jenis kaulinan barudak lembur dan nilai apa yang bisa dipelajari dari permainan tersebut? Yuk, nostalgia sekaligus mengenal warisan budaya Sunda yang satu ini.
Baca Juga: Tradisi Mikanyaah Munding, Kearifan Lokal Sunda yang Masih Lestari
Apa Itu Kaulinan Barudak Lembur?
Secara sederhana, kaulinan barudak lembur berarti permainan anak-anak yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat perdesaan. Istilah ini berasal dari bahasa Sunda, dengan kaulinan berarti permainan, barudak berarti anak-anak, dan lembur berarti kampung atau lingkungan tempat tinggal.
Permainan tradisional Sunda ini biasanya dilakukan bersama teman sebaya, menggunakan gerakan tubuh, benda-benda sederhana, atau nyanyian yang mengiringi permainan. Aturan dan cara bermainnya dapat berbeda sesuai kebiasaan masyarakat di setiap daerah.
Di Kabupaten Garut, istilah kaulinan barudak lembur juga digunakan dalam kegiatan pelestarian budaya yang dikenal sebagai "Kabarulem". Pemerintah Kabupaten Garut melalui kegiatan Festival Pembudayaan Olahraga Tradisional pada Mei 2026 memperkenalkan kembali berbagai permainan tradisional kepada masyarakat.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menekankan pentingnya menjaga permainan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya daerah dan mengenalkannya kepada generasi muda.
Artinya, kaulinan barudak lembur bukan sekadar kenangan masa kecil yang diceritakan kembali. Permainan ini juga merupakan bagian dari budaya yang masih bisa dipraktikkan, dipelajari, dan diwariskan.
Ragam Permainan Tradisional yang Mengajak Anak Bergerak dan Berinteraksi
Kaulinan barudak lembur memiliki banyak bentuk. Ada permainan yang mengandalkan kecepatan, ada yang membutuhkan strategi, dan ada pula yang lebih menekankan kekompakan kelompok.
Berikut beberapa permainan tradisional yang dikenal dalam budaya Sunda dan dapat menjadi bagian dari pengenalan kaulinan barudak lembur.
Oray-orayan, Permainan yang Mengandalkan Kekompakan
Pernah bermain sambil berbaris memegang pinggang teman di depan, lalu bergerak seperti ular? Permainan ini dikenal sebagai oray-orayan.
Dalam permainan oray-orayan, anak-anak membentuk barisan panjang menyerupai ular. Barisan bergerak mengikuti arahan atau irama lagu permainan, sementara bagian depan dan belakang barisan memiliki peran tersendiri sesuai aturan yang digunakan.
Permainan ini membuat anak-anak perlu memperhatikan gerakan teman di depannya agar barisan tetap terjaga. Kalau satu orang bergerak terlalu cepat atau kehilangan arah, barisan bisa terputus dan permainan menjadi semakin ramai.
Di balik keseruannya, oray-orayan dapat menjadi sarana belajar mengikuti aturan, menjaga kekompakan, dan bekerja sama dengan teman. Permainan yang terlihat sederhana ini ternyata membutuhkan koordinasi dari seluruh peserta.
Ucing-ucingan, Kejar-kejaran yang Selalu Bikin Ramai
Kalau ingin permainan yang lebih aktif, ucing-ucingan bisa menjadi salah satu contoh yang mudah dikenali. Dalam bahasa Sunda, ucing berarti kucing. Permainan ini melibatkan satu pemain yang bertugas mengejar atau menangkap pemain lainnya.
Aturan ucing-ucingan bisa berbeda-beda, tergantung kebiasaan setempat. Dalam salah satu bentuk permainan, pemain yang tertangkap akan bergantian menjadi ucing pada putaran berikutnya.
Keseruannya terletak pada cara pemain menghindar, mengatur gerakan, dan membaca situasi. Anak-anak tidak hanya berlari, tetapi juga belajar menentukan langkah sambil memperhatikan ruang gerak teman-temannya.
Permainan seperti ini dapat menjadi alternatif aktivitas fisik yang dilakukan bersama. Selain membuat suasana ramai, ucing-ucingan memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berinteraksi langsung dan belajar menerima pergantian peran dalam permainan.
Galah Asin dan Gatrik, Menguji Strategi serta Ketangkasan
Berikutnya ada galah asin, permainan beregu yang mengharuskan pemain melewati garis atau wilayah yang dijaga oleh tim lawan. Tim penjaga berusaha menyentuh pemain yang melintas, sedangkan tim penyerang mencari cara agar bisa melewati penjagaan.
Permainan ini mengandalkan kecepatan, kecermatan membaca gerakan lawan, dan kerja sama antarpemain. Karena dilakukan secara berkelompok, komunikasi menjadi bagian penting untuk menyusun strategi.
Selain galah asin, ada pula gatrik yang dikenal dalam permainan tradisional Sunda. Gatrik menggunakan potongan kayu sebagai alat bermain. Dalam salah satu cara bermainnya, potongan kayu kecil dipukul menggunakan kayu yang lebih panjang hingga terlontar.
Gatrik membutuhkan koordinasi gerak, ketepatan, dan aturan bermain yang disepakati bersama. Permainan ini juga memperlihatkan bagaimana benda sederhana dapat dimanfaatkan menjadi sarana hiburan.
Kedua permainan tersebut menunjukkan bahwa kaulinan tradisional tidak selalu membutuhkan peralatan mahal. Dengan ruang yang memadai, perlengkapan sederhana, dan teman bermain, aktivitas yang menyenangkan bisa tercipta.
Egrang, Belajar Menjaga Keseimbangan
Pernah melihat seseorang berjalan menggunakan dua batang bambu panjang sebagai pijakan? Permainan tersebut dikenal sebagai egrang.
Dalam permainan egrang tradisional, pemain berdiri di atas pijakan yang terpasang pada dua batang bambu atau kayu, kemudian berusaha melangkah tanpa kehilangan keseimbangan. Untuk menguasainya, pemain perlu berlatih menjaga posisi tubuh dan mengatur langkah.
Di Garut, egrang juga menjadi salah satu permainan yang diperkenalkan melalui kegiatan pelestarian kaulinan urang lembur. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa permainan tradisional dapat dikenalkan dalam keseharian anak-anak, bukan hanya ditampilkan ketika ada festival budaya.
Meski terlihat sederhana, egrang memerlukan latihan dan pengawasan yang memadai. Permainan ini sebaiknya dilakukan di tempat yang aman, dengan permukaan yang sesuai dan pendampingan ketika diperlukan.
Bukan Sekadar Bermain, Ada Nilai Budaya di Dalamnya
Warginet, hal menarik dari kaulinan barudak lembur bukan hanya jenis permainannya yang beragam, tetapi juga nilai kehidupan yang bisa dipelajari melalui aktivitas tersebut. Berbagai nilai dalam permainan tradisional, antara lain kebersamaan, kepemimpinan, kejujuran, dan sikap lapang dada.
Penelitian tersebut dilakukan di Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Jadi, temuannya bukan penelitian khusus tentang seluruh permainan di Garut, tetapi memberikan gambaran tentang nilai budaya yang dapat ditemukan dalam kaulinan barudak lembur di masyarakat Sunda.
Nilai-nilai tersebut dapat terlihat dalam berbagai situasi permainan. Ketika anak-anak menyepakati aturan, misalnya, mereka belajar mengikuti kesepakatan. Saat bermain dalam kelompok, mereka belajar bekerja sama. Ketika kalah, mereka mendapat kesempatan untuk belajar menerima hasil dan menghargai pemain lain.
Permainan tradisional juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi secara langsung. Mereka belajar berkomunikasi, menyelesaikan perbedaan, dan menyesuaikan diri dengan teman-temannya.
Karena itu, kaulinan barudak lembur dapat dipandang sebagai bagian dari pembelajaran sosial yang berlangsung melalui kegiatan bermain, bukan hanya sebagai hiburan pengisi waktu luang.
Kaulinan Barudak Lembur Kembali Dikenalkan di Garut
Di tengah perkembangan permainan digital, kaulinan tradisional masih memiliki ruang untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan di Garut adalah melalui kegiatan Kabarulem atau Festival Pembudayaan Olahraga Tradisional.
Festival tersebut digelar di Gedung Pendopo Kabupaten Garut pada 13 Mei 2026. Kegiatan itu menampilkan berbagai kaulinan tradisional khas Sunda dan mendapat perhatian dari Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menekankan bahwa permainan tradisional perlu dirawat dan dikembangkan agar tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat. Festival juga menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kembali permainan tersebut kepada generasi muda.
Selain melalui festival, permainan tradisional juga dapat diperkenalkan melalui kegiatan pendidikan dan wisata budaya. Kementerian Pariwisata melalui platform Jadesta, misalnya, mencatat atraksi Kaulinan Barudak Lembur di Desa Wisata Saung Ciburial, Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut.
Atraksi tersebut dikemas sebagai pengalaman wisata yang mengajak pengunjung mengenal kembali permainan anak-anak zaman dahulu. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga berkesempatan merasakan pengalaman bermain.
Kehadiran kegiatan seperti ini membuka kesempatan bagi kaulinan tradisional untuk dikenal oleh lebih banyak orang. Permainan yang dahulu akrab di lingkungan kampung dapat diperkenalkan kembali melalui ruang publik, sekolah, maupun kegiatan wisata berbasis budaya.
Bagaimana Permainan Tradisional Bisa Tetap Dikenal Anak Zaman Sekarang?
Mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak masa kini tidak harus dilakukan dengan menjauhkan mereka dari teknologi. Justru, permainan tradisional dapat diperkenalkan melalui kegiatan langsung yang menyenangkan dan dokumentasi digital yang informatif.
Misalnya, sekolah atau komunitas dapat mengadakan hari bermain kaulinan lembur dengan memperkenalkan aturan permainan secara sederhana. Anak-anak bisa mencoba oray-orayan, ucing-ucingan, atau permainan lain yang sesuai dengan usia dan kondisi tempat bermain.
Orang tua juga dapat mengenalkan permainan yang mereka kenal sejak kecil kepada anak-anak di rumah atau lingkungan sekitar. Selain menjadi kegiatan bersama, pengalaman tersebut dapat membuka percakapan mengenai kenangan masa kecil dan budaya Sunda.
Media sosial pun bisa digunakan untuk membagikan video singkat mengenai cara bermain, nama permainan dalam bahasa Sunda, serta cerita dari orang-orang yang pernah memainkannya. Dengan begitu, konten digital tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana memperkenalkan budaya.
Yang tidak kalah penting, permainan tradisional perlu diberi ruang untuk benar-benar dimainkan. Dokumentasi memang membantu menyebarkan informasi, tetapi pengalaman bergerak, berinteraksi, dan bermain bersama tetap menjadi bagian penting dari kaulinan barudak lembur.
Permainan Masa Kecil yang Menyimpan Warisan Budaya
Kaulinan barudak lembur memperlihatkan bahwa permainan sederhana dapat memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar mengisi waktu luang. Di dalamnya ada pengalaman berinteraksi, belajar mengikuti aturan, membangun kekompakan, dan mengenal kebiasaan masyarakat.
Di Garut, pengenalan permainan tradisional melalui kegiatan Kabarulem, lingkungan sekolah, dan wisata budaya menjadi salah satu cara untuk menjaga warisan tersebut agar tetap dikenal.
Baca Juga: Melihat Industri Kulit Garut dari Zaman Kolonial hingga Saat Ini
Jadi, permainan masa kecil yang dulu terasa biasa saja ternyata menyimpan cerita dan nilai yang layak diwariskan. Bukan berarti anak-anak sekarang harus meninggalkan permainan modern, tetapi mereka juga bisa diberi kesempatan untuk mengenal keseruan bermain bersama seperti yang pernah dirasakan generasi sebelumnya.
Nah, Warginet, dari semua kaulinan barudak lembur tadi, permainan mana yang paling kamu ingat? Apakah oray-orayan, ucing-ucingan, galah asin, atau justru egrang?
Penulis: Mutiara Lestari






