Warginet, siapa yang masih ingat serunya bermain bersama teman-teman di halaman rumah tanpa perlu gadget atau alat permainan yang mahal? Dulu, permainan sederhana justru bisa membuat anak-anak berkumpul, tertawa, dan menghabiskan waktu bersama.
Salah satu permainan yang menarik untuk dikenang adalah Perepet Jengkol. Permainan tradisional Sunda ini dilakukan secara berkelompok dengan gerakan saling mengaitkan kaki, menjaga keseimbangan, dan bergerak bersama sambil menyanyikan lagu pengiring.
Keseruannya bukan cuma soal siapa yang paling lama bertahan. Setiap pemain juga harus bisa menyesuaikan gerakan dengan teman-temannya agar formasi tidak mudah terlepas.
Permainan ini pun pernah menjadi bagian dari kegiatan pelestarian budaya di Kabupaten Garut. Perepet Jengkol menjadi salah satu permainan yang ditampilkan dalam kegiatan Kaulinan Barudak Lembur di Kecamatan Limbangan. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut tersebut bertujuan menjaga agar permainan tradisional tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Baca Juga: Daftar Suku Bangsa di Jawa Barat Dengan Jumlah Penduduk Terbanyak
Mengenal Perepet Jengkol, Kaulinan Barudak Khas Sunda
Perepet Jengkol merupakan salah satu permainan tradisional yang dikenal dalam budaya Sunda, Jawa Barat. Permainan ini umumnya dimainkan oleh beberapa anak yang berdiri berdekatan, saling berpegangan, kemudian mengaitkan kaki dan bergerak bersama.
Mengutip informasi dari Indonesia Travel, Perepet Jengkol mengandalkan keseimbangan serta kekompakan antarpemain. Permainan ini tidak membutuhkan alat khusus dan biasanya diiringi nyanyian yang menambah keseruan saat dimainkan.
Nama Perepet Jengkol juga lekat dengan kakawihan atau nyanyian pengiringnya. Salah satu penggalan lagu yang dikenal adalah “Perepet jengkol jajahean, kadempet kohkol jejeretean”. Irama dan liriknya menjadi bagian dari pengalaman bermain yang diwariskan melalui kebiasaan masyarakat.
Menariknya, meskipun menggunakan nama jengkol, permainan ini tidak mengharuskan pemain menggunakan buah tersebut. Keseruannya justru terletak pada gerakan tubuh, keseimbangan, dan kemampuan setiap pemain menjaga kekompakan kelompok.
Cara Bermain Perepet Jengkol yang Seru dan Sederhana
Salah satu daya tarik Perepet Jengkol adalah cara bermainnya yang relatif sederhana. Pemain hanya membutuhkan teman-teman, ruang yang cukup lapang, dan kesediaan untuk bergerak bersama.
Buku pelajaran sekolah dasar yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa permainan ini biasanya dilakukan dalam kelompok berisi tiga sampai lima anak. Para pemain berdiri melingkar dengan posisi saling membelakangi, berpegangan tangan, lalu menautkan kaki sebelum bergerak mengikuti irama lagu.
Berikut gambaran cara bermain Perepet Jengkol yang dikenal dalam berbagai dokumentasi permainan tradisional.
1. Membentuk Kelompok Pemain
Permainan dimulai dengan membentuk kelompok yang terdiri atas beberapa orang. Dalam salah satu versi, setiap kelompok berisi tiga sampai lima pemain.
Semua pemain berdiri berdekatan dan membentuk lingkaran kecil. Posisi awal ini penting agar setiap orang bisa saling menjangkau dan menjaga keseimbangan selama permainan berlangsung.
2. Saling Berpegangan dan Mengaitkan Kaki
Setelah membentuk posisi, pemain saling berpegangan tangan atau merangkul teman di sebelahnya. Kemudian, masing-masing mengangkat satu kaki dan mengaitkannya dengan kaki pemain lain.
Bagian ini membutuhkan koordinasi karena setiap pemain harus menemukan posisi yang nyaman tanpa membuat kaitan kaki terlepas. Jika satu orang kehilangan keseimbangan, pemain lainnya juga perlu menyesuaikan posisi.
3. Bergerak Sambil Menyanyikan Lagu
Ketika semua pemain sudah siap, mereka mulai bergerak melingkar menggunakan satu kaki yang menapak di tanah. Gerakan dilakukan bersama sambil menyanyikan lagu Perepet Jengkol dan mengikuti arah yang telah disepakati.
Nyanyian menjadi bagian yang membuat permainan semakin meriah. Pemain harus menjaga irama sekaligus memperhatikan gerakan teman-temannya agar kelompok tetap seimbang.
4. Menjaga Keseimbangan hingga Permainan Berakhir
Tantangan utama Perepet Jengkol adalah mempertahankan kaitan kaki sambil bergerak bersama. Jika ada pemain yang terjatuh atau kaitan kaki terlepas, kelompok bisa dianggap gagal dalam variasi permainan yang menggunakan sistem gugur.
Dalam salah satu aturan yang didokumentasikan dalam buku pelajaran sekolah, kelompok yang mampu mempertahankan kaitan kaki paling lama menjadi pemenang.
Meski begitu, aturan dapat berbeda sesuai kebiasaan setempat. Hal terpenting adalah permainan berlangsung dengan kesepakatan bersama, tetap menyenangkan, dan tidak membahayakan para pemain.
Bukan Sekadar Permainan, Perepet Jengkol Punya Nilai Kebersamaan
Warginet, kalau diperhatikan, Perepet Jengkol tidak bisa dimainkan dengan baik jika setiap orang hanya bergerak sesuka hati. Semua pemain harus saling menyesuaikan agar bisa mempertahankan formasi.
Dari situ, ada beberapa nilai yang bisa dikenalkan melalui permainan tradisional ini.
Melatih Keseimbangan dan Koordinasi Tubuh
Pemain perlu mengangkat satu kaki, menjaga posisi tubuh, dan mengikuti gerakan kelompok. Aktivitas tersebut membuat permainan ini melibatkan keseimbangan serta koordinasi gerak.
Karena itu, Perepet Jengkol bisa menjadi alternatif permainan aktif bagi anak-anak. Supaya tetap aman, permainan sebaiknya dilakukan di permukaan yang tidak licin dan cukup lapang.
Mengajarkan Kerja Sama dan Saling Percaya
Kekompakan menjadi kunci utama dalam Perepet Jengkol. Pemain harus memperhatikan gerakan teman, menjaga pegangan, dan tidak bergerak terlalu cepat jika anggota kelompok lainnya belum siap.
Permainan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan kelompok tidak hanya bergantung pada kemampuan satu orang, tetapi juga pada kesediaan semua pemain untuk bekerja sama.
Mengenalkan Lagu dan Tradisi Lisan Sunda
Selain gerakan, lagu pengiring menjadi bagian penting dari Perepet Jengkol. Anak-anak dapat mengenal kakawihan Sunda melalui lirik yang dinyanyikan bersama saat bermain.
Kegiatan ini dapat menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan bahasa dan tradisi lisan kepada generasi muda, terutama ketika permainan dilakukan bersama orang tua atau anggota keluarga yang masih mengingat versi lagu dari masa kecil mereka.
Perepet Jengkol Pernah Hadir dalam Kegiatan Budaya di Garut
Perepet Jengkol bukan sekadar permainan yang dikenal melalui cerita masa lalu. Permainan ini juga pernah ditampilkan dalam kegiatan pelestarian budaya di Kabupaten Garut. Perepet Jengkol menjadi salah satu dari enam permainan yang ditampilkan dalam kegiatan Kaulinan Barudak Lembur di Kecamatan Limbangan. Permainan lainnya meliputi egrang, mobil-mobilan, bebedilan, gasing, dan gatrik.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut saat itu, Warjita, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga permainan tradisional agar tidak dilupakan oleh generasi berikutnya.
Mengapa Permainan Tradisional Perlu Dikenalkan Kembali?
Saat ini, anak-anak memiliki banyak pilihan hiburan, termasuk permainan digital yang bisa diakses melalui telepon pintar atau perangkat lainnya. Di tengah perubahan tersebut, permainan tradisional seperti Perepet Jengkol perlu terus dikenalkan agar tidak hanya dikenal dari cerita orang tua.
Pelestarian tidak harus selalu dilakukan melalui festival besar. Permainan ini bisa diperkenalkan di rumah, sekolah, kegiatan komunitas, atau acara kebudayaan yang melibatkan anak-anak.
Kegiatan seperti Kaulinan Barudak Lembur menjadi salah satu contoh bagaimana permainan tradisional dapat diperkenalkan melalui kegiatan bersama.
Selain bermain, anak-anak juga bisa diajak mempelajari lagu pengiring dan mendengarkan cerita dari orang tua mengenai permainan masa kecil mereka. Dengan begitu, yang diwariskan bukan hanya cara bermainnya, tetapi juga pengalaman dan kenangan yang menyertainya.
Perepet Jengkol, Permainan Sederhana yang Penuh Makna
Perepet Jengkol memperlihatkan bahwa permainan tradisional tidak membutuhkan banyak peralatan untuk menghadirkan keseruan. Melalui gerakan sederhana, nyanyian, dan kekompakan, anak-anak bisa bermain sekaligus belajar menyesuaikan diri dengan orang lain.
Bagi masyarakat Sunda, permainan seperti ini menjadi salah satu bagian dari kekayaan kaulinan barudak yang patut dikenalkan kepada generasi muda. Dokumentasi permainan Perepet Jengkol dalam kegiatan budaya di Garut juga memperlihatkan bahwa permainan rakyat pernah mendapat ruang dalam upaya pelestarian budaya daerah.
Baca Juga: Jajanan Sunda yang Namanya Unik, Tapi Rasanya Nggak Main-Main
Jadi, Warginet, permainan masa kecil bukan hanya soal nostalgia. Mengenalkan kembali Perepet Jengkol dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga agar tradisi bermain bersama tetap dikenal dan tidak berhenti sebagai cerita dari masa lalu.
Penulis: Mutiara Lestari
Sumber: Koran Sindo, Indonesia Travel, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan






