Infogarut

Pori Daun Buka Saat Malam, Cara Flora Hemat Air di Cuaca Panas Ekstrem

M
Muhamad Renaldi SPublisher
3 November 2026 pukul 12.04 3 menit baca
Pori Daun Buka Saat Malam, Cara Flora Hemat Air di Cuaca Panas Ekstrem
Pori Daun Buka Saat Malam, Cara Flora Hemat Air di Cuaca Panas Ekstrem, Source: Istimewa

Kajian mengenai kelangsungan hidup vegetasi hutan di tengah ancaman krisis lingkungan global menunjukkan kemampuan unik populasi flora darat kawasan tropis. Fleksibilitas biologis ini memungkinkan pengubahan sistem metabolisme energi guna bertahan hidup dari ancaman kepunahan di Bumi.

Baca juga: Biji Bisa Tidur di Dalam Tanah, Jadi Bekal Flora Saat Kemarau Panjang

Fleksibilitas Metabolisme Energi Flora

Dalam laporan National Geographic Indonesia disebutkan bahwa beberapa spesies flora mampu mengubah mekanisme pembuatan energi guna menghemat pasokan air. Tanaman berpembuluh purba Lycophytes beralih menggunakan sistem fotosintesis Crassulacean Acid Metabolism (CAM) saat musibah bencana kepunahan massal Permian-Trias.

Fotosintesis CAM memungkinkan tanaman menutup stomata daun pada siang hari untuk melindungi jaringan dari paparan suhu panas ekstrem. Pada malam hari, tumbuhan menyerap karbon dioksida dan menyimpannya dalam bentuk asam organik sebagai bahan baku pembuatan gula.

"Fotosintesis CAM sangat umum pada tumbuhan gurun saat ini, seperti kaktus dan sukulen. Cara itu adalah cara yang sangat cerdas untuk menghindari suhu tinggi atau kekeringan di siang hari," ulas Zhen Xu dalam rilis risetnya.

Pengubahan jalur pengolahan nutrisi ini terbukti mengurangi penguapan air secara drastis di tengah kondisi lingkungan yang sangat gersang. Strategi metabolisme khusus tersebut menjadi penentu utama keselamatan kelompok vegetasi purba saat melewati masa-masa krisis Bumi.

Penyesuaian waktu pembukaan stomata daun memberi keunggulan fisiologis besar bagi populasi tumbuhan saat berhadapan dengan gelombang suhu panas ekstrem. Kemampuan penghematan pasokan air ini mencegah terjadinya kerusakan jaringan seluler selagi lingkungan sekitarnya dilanda kekeringan parah.

"Kami pikir fotosintesis CAM mungkin merupakan strategi khusus untuk bertahan hidup. Dan memungkinkan tumbuhan ini untuk mendominasi setelah kepunahan massal," tambahnya.

Penggandaan Genom Dan Evolusi Flora

Selain fleksibilitas metabolisme, tanaman berbunga mengalami fenomena penggandaan seluruh genom sebanyak 9 kali dalam kurun 150 juta tahun terakhir. Duplikasi materi genetik ini memberikan keleluasaan bagi populasi flora untuk berevolusi dan beradaptasi menghadapi gejolak perubahan ekstrem.

Pengelompokan kejadian penggandaan genom selalu bertepatan dengan momen geologis penting seperti siklus pemanasan maupun pendinginan suhu Bumi. Keberadaan materi genetik ganda memberi peluang tambahan bagi populasi vegetasi untuk membentuk sifat pertahanan baru terhadap ancaman bencana alam.

"Kita melihat pengelompokan duplikasi seluruh genom dari waktu ke waktu. Dan setiap kali itu sesuai dengan peristiwa geologis penting. Baik itu periode pendinginan global, periode pemanasan global, atau peristiwa kepunahan," jelas Yves Van de Peer, selaku ahli biologi genom di Ghent University.

Penggandaan seluruh materi genetik memberikan salinan gen ekstra yang bebas bermutasi tanpa merusak fungsi seluler utama tanaman. Kelebihan salinan gen ini memicu lahirnya berbagai struktur pertahanan baru yang mendukung daya tahan hidup flora.

Fleksibilitas genetik hasil penggandaan kromosom memacu diversifikasi sifat ketahanan fisik tanaman dalam rentang waktu terukur. Hasil evolusi molekuler ini memperkaya variasi populasi vegetasi dalam menghadapi perubahan iklim ekstrem di berbagai belahan bumi.

Meskipun memiliki beragam jalur adaptasi canggih, kelangsungan populasi tanaman di lokasi bencana alam tetap dipengaruhi oleh faktor keberuntungan lingkungan sekitar. Tumbuhan yang berada di tempat perlindungan kawasan Tiongkok purba mampu bertahan karena didukung oleh variasi sifat pertahanan yang sangat tepat.

Keberadaan mikro-refugia atau kantong wilayah berlindung menjadi sarana penyelamat fisik yang mengisolasi kelompok vegetasi dari kehancuran iklim. Lokasi aman ini memungkinkan populasi flora untuk bertahan hidup hingga kondisi lingkungan luar membaik secara bertahap.

Sinergi antara fleksibilitas fotosintesis, keunggulan genom, dan perlindungan geografis menciptakan mekanisme pertahanan hidup yang lengkap. Kombinasi faktor ekologis tersebut menjaga keberlanjutan masa depan populasi flora darat di tengah ketidakpastian iklim global.

Baca juga: Cabang Pohon Bisa Tumbuh Lagi, Ini Cara Flora Lolos dari Cuaca Ekstrem

Bagi Warginet, kelangsungan hidup vegetasi hutan sangat bergantung pada keberagaman strategi metabolisme serta fleksibilitas evolusi genetik flora. Langkah pemeliharaan habitat vegetasi alam seutuhnya menjadi keharusan demi menjamin masa depan kelestarian ekosistem bumi.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca