Pernahkah kita berpikir dari mana asalnya sebuah seni budaya? Apakah seni budaya tersebut tercipta untuk satu tujuan tertentu, ataukah tercipta hanya sekadar untuk hiburan masyarakat lokal? Jika masyarakat pewaris budaya hanya menganggap tradisi budaya sebagai warisan dari leluhurnya yang mesti dilestarikan, maka tidak heran keberlangsungan budaya tersebut mudah tergerus perkembangan zaman.
Inilah yang terjadi pada masyarakat kita hari ini dan menjadi alasan mengapa budaya kita sekarang semakin menyusut, dianggap tidak relevan, tidak dikenal, dan tidak dicintai oleh lingkungan masyarakatnya. Hal ini terjadi karena masyarakat pewaris budaya saat ini tidak memahami esensi dari budaya yang diwariskan oleh leluhurnya sebagai identitas suatu masyarakat.
Seperti halnya dengan budaya yang berasal dari Kampung Sindangsari Cinunuk, Kecamatan Wanaraja yaitu Surak Ibra. Apa yang terjadi ketika saya menanyakan tentang kesenian ini kepada teman saya yang berasal dari tempat kesenian itu lahir? Dia menggelengkan kepala.
Sungguh miris, masyarakat yang semestinya bangga akan sebuah seni yang lahir dari tempatnya itu kini beberapa bahkan tidak tahu tentang kesenian asal daerahnya. Ada beberapa yang tahu tetapi hanya ceritanya saja dari orang tua mereka tanpa mengetahui pasti keberadaannya.
Ada yang menjadi pelaku seni ini, namun sudah tidak aktif karena faktor usia (sepuh) dan hanya mampu mendongengkan kejayaan dan makna dari kesenian ini. Selain itu, ada yang tetap setia melestarikan warisan ini meskipun dengan apresiasi yang kurang.
Kondisi seni Surak Ibra ini sesuai dengan sebuah peribahasa Sunda: hirup henteu neut, paéh henteu hos, artinya keberadaannya bisa dikatakan mendekati punah. Padahal menurut cerita, kesenian yang tercipta pada tahun 1910 oleh Rd. Djajadiwangsa atau yang dikenal Pangeran Papak ini pada masa lalu pernah ditampilkan dengan jumlah pemain mencapai 700 orang.
Artinya pada masa lalu kesenian Surak Ibra sangat digemari oleh masyarakat. Berbeda dengan saat ini yang tersisa hanya puluhan pemain.
Berdasarkan penuturan para sepuh pelaku seni Surak Ibra, kita akan tahu begitu menariknya seni yang lahir dari tekad kuat untuk membebaskan diri dari rantai penjajahan yang membelenggu dan menyengsarakan rakyat Garut.
Seni ini menjadi simbol solidaritas dan media komunikasi untuk masyarakat menyikapi keresahan terhadap penjajah melalui simbol seni yang dalam maknanya terkandung semangat persatuan, perjuangan, dan perlawanan. Hal ini cukup untuk menjawab sebagaimana pertanyaan di muka, bahwa seni Surak Ibra tidak lahir semata-mata untuk hiburan, ada tujuan terukur dalam penciptaan seni ini.
Kehebatan leluhur kita adalah mampu memasukkan nilai-nilai filosofis dalam setiap elemen pendukung dan unsur gerak dalam sebuah seni. Nilai-nilai filosofis tersebut tiada lain untuk bacaeun bagi masyarakat. Sebagaimana dalam Surak Ibra, posisi membuat lingkaran seraya fokus pada satu titik itu menggambarkan papat kalima pancer, falsafah orang Sunda yang menyatakan aspek religi dalam berkehidupan, yaitu kekuatan Ilahiah yang menjadi sumber segala sumber kehidupan.
Melemparkan salah seorang ke atas lalu ditangkap bersama-sama adalah sebagai bentuk kebahagiaan dan sikap sauyunan (kebersamaan) dalam berkehidupan. Lalu adanya jurus penca dalam hal ini melambangkan kewibawaan dan semangat juang.
Ketika pertama kali memulai pagelaran, doa selalu dipanjatkan untuk leluhur sebagai penghargaan terhadap jasa mereka, lalu obor mengandung makna syukur atas cahaya yang menyinari kegelapan, yaitu kebodohan dan perbudakan dari penjajah.
Sayangnya, kekayaan nilai filosofis yang kaya ini tidak akan bermanfaat jika bahkan wujud fisik keseniannya mulai lenyap. Padahal, jika kita melihat elemen dan unsur-unsur yang terkandung dalam Surak Ibra—baik dari nilai filosofisnya atau sajian penampilannya—seni ini memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk menjadi kesenian yang memiliki daya tarik global.
Sewaktu selesai menyaksikan seni Surak Ibra, muncul dibenak tentang Tari Kecak, ternyata memang memiliki beberapa kesamaan antara dua kesenian ini. Dalam satu literatur dinyatakan ternyata tari tersebut mengalami yang namanya komodifikasi dan racikan yang manis sehingga membuatnya menjadi salah satu seni ikonik pariwisata Bali.
Kolaborasi antara seniman Jerman Walter Spies dengan seniman lokal Bali menghasilkan transformasi bentuk pertunjukan yang revolusioner. Spies memperkenalkan narasi Ramayana ke dalam struktur ritual Sanghyang, menciptakan format pertunjukan yang lebih teatrikal dan mudah dipahami oleh penonton dari berbagai latar belakang budaya (Bertha & Larasati, 2022).
Lantas apakah Surak Ibra mampu menjadi seni yang menarik perhatian global? Tidak ada yang tidak mungkin. Hal yang perlu disepakati terlebih dahulu adalah seni dan budaya merupakan suatu hal yang dinamis. Kebudayaan terdiri dari tiga nilai yaitu, (1) logika, (2) etika, dan (3) estetika. Karena sifat seni dan budaya yang dinamis, maka seni budaya yang lestari adalah yang beradaptasi dengan perkembangan zaman dan masyarakat yang juga berubah secara dinamis.
Nilai logika, etika, dan estetika dalam suatu seni budaya inilah yang perlu kita sesuaikan dengan zaman kita saat ini. Lalu bagaimana dengan orisinalitas dari seni budaya tersebut? Menyesuaikan logika, etika, dan estetika dengan zaman terkini tidak turut serta merubah wujudnya, hal ini justru memberi napas dan kesempatan seni budaya tersebut diterima di berbagai keadaan zaman.
Bahkan leluhur kita mengamanati dalam peribahasa ngindung ka waktu, mibapa ka jaman, artinya seni budaya itu mesti dikembangkan dan diadaptasi sesuai keadaan zaman agar seni budaya tersebut tetap lestari dan diapresiasi selamanya.
Pada kenyataannya, redup-terangnya seni budaya tergantung kemampuan pelestarinya beradaptasi dengan perkembangan zaman sehingga budaya tersebut dapat bernapas dan relevan dimanapun zamannya. Apalagi Surak Ibra tidak kaku terhadap pakem. Pengembangan-pengembangan yang diracik secara serius dalam seni ini mampu membuatnya menjadi seni yang berdaya tarik global. Berikut adalah upaya yang baik untuk dilakukan.
Penulis: REZA
Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani
====
50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0
Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.
Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.
📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?
Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:
🔗 [LINK E-BOOK]
Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!






