Infogarut

Revitalisasi Tradisi Lisan: Strategi Pembentukan Anak Garut Berbasis Kearifan Lokal

I
InfogarutPublisher
17 Agustus 2026 pukul 20.07 7 menit baca
Revitalisasi Tradisi Lisan: Strategi Pembentukan Anak Garut Berbasis Kearifan Lokal
Revitalisasi Tradisi Lisan: Strategi Pembentukan Anak Garut Berbasis Kearifan Lokal

Di Era Digital yang kita alami saat ini, berita dan informasi dengan sangat cepat diterima oleh banyak orang. Tentunya hal itu sangat positif untuk menambah wawasan. Akan tetapi, sebagian dari informasi tersebut tak sedikit yang malah menyebabkan keresahan pada mayarakat. Terutama berita tentang karakter dan adab. Akhir-akhir ini yang sedang viral yaitu guru di SMK di Jambi yang dikeroyok oleh siswa pada Januari lalu (Dimas, 2026). Tak hanya itu, ada juga siswa SMA yang mengacungkan jari tengah pada guru di Purwakarta (Bagaskara, 2026), bahkan di Sleman, ada anak bunuh ibu kandung gara-gara jengkel (Wismabrata, 2025). Berita tersebut tentu saja membuat masyarakat khawatir, apa yang terjadi dengan generasi muda? mengapa adab dan karakter anak terasa semakin hilang dari peradaban?

Berbicara mengenai karakter anak, ada banyak faktor yang menyebabkan karakter anak menjadi negatif. Pertama, setiap anak saat ini selalu memegang gawai, itu membuat mereja terpapar informasi tanpa batas, baik atau buruk, semua mereka terima, dan bahayanya, informasi itu diterima secara terus menerus. Hal ini menyebabkan, hal-hal yang negatif terasa biasa dan normal karena saking sering dilihat di media sosial. Kedua, pengawasan orangtua di rumah pada masa kini semakin berkurang, orangtua merasa baik-baik saja ketika anak tenang dengan gawai tanpa tahu apa yang anak tonton dan lihat melalui layar. Ketiga, sekolah menjadi salah satu faktor menurunnya karakter anak. Ada tiga faktor yang menjadi penghambat pembentukan karakter di sekolah yakni : 1) guru yang terlalu galak; 2) guru yang acuh terhadap siswa; 3) guru yang tidak bisa memberikan keteladanan (Hasanah, 2024).

Berkaitan dengan menurunnya karakter anak bangsa, kita semua harus berusaha memperbaiki permasalahan ini agar krisis moral generasi muda tidak sampai di angka nol. Salah satu cara untuk membentuk kembali karakter anak, khususnya di kota Garut, yaitu dengan merevitalisasi kembali tradisi lisan yang rasa-rasanya terasa asing. Hal ini ditunjukkan dengan ketidaktahuan generasi muda tentang tradisi lisan yang ada di Garut. Anak-anak SD yang tidak kenal peribahasa, remaja yang hobi naik gunung tanpa tahu legenda gunung yang ia naiki, dan pelajar yang hanya sekadar mengenal pantun sebagai materi. Padahal tradisi lisan berfungsi sebagai sarana edukasi dan pewarisan nilai, tetapi sayangnya langka digunakan pada masa kini.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, tradisi lisan merupakan adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat yang disampaikan secara lisan. Menurut Roger dan Pudentia (dikutip dalam Nursugiharti, 2024:6), cerita rakyat adalah tradisi lisan yang memuat cerita, mitos, legenda, dan sistem kekerabatan dan bangsa yang asli dan menyeluruh. Sistem ini berfungsi sebagai contoh sejarah masyarakat, aturan, adat istiadat, pengobatan, dan peraturan, dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. “Tradisi” digunakan baik dalam bahasa umum maupun dalam pengertian yang lebih akademis dalam studi cerita rakyat, sejarah lisan, dan antropologi.

Tradisi lisan terdiri dari banyak jenis. Tetapi ada yang paling populer dan bisa berdampak langsung pada pembentukan karakter anak serta generasi muda Garut, jenis tradisi lisan tersebut yaitu sebagai berikut.

Cerita Rakyat atau Legenda

Cerita rakyat adalah cerita dari zaman dahulu yang hidup di kalangan rakyat dan diwariskan secara lisan. Burke (dalam Anafiah, 2015:6) menyatakan bahwa manfaat cerita rakyat pada perkembangan anak meliputi perkembangan holistik, kognitif, moral, bahasa, dan sosial. Berkaitan dengan manfaat tersebut, di Garut terdapat banyak cerita rakyat, yang paling terkenal ada cerita Situ Bagendit, cerita tentang Nyai Endit yang mengajarkan untuk tidak menjadi orang pelit. Ada juga Legenda Gunung Papandayan tentang pandai besi yang sombong. Tidak hanya itu, di Garut ada juga legenda Gunung Kendang, Sasakala Sungai Cimanuk, Sasakala Rancabuaya, dan Sasakala Rancamaya, semua cerita tersebut memberikan banyak pesan moral dan berpengaruh pada karakter anak.

Puisi Lama/Ungkapan Tradisional

Puisi lama ini terdiri dari pantun, syair, dan peribahasa. Pantun mempunyai banyak jenis, selain sebagai hiburan, ada jenis pantun yang isinya fokus pada nasihat. Peribahasa dan syair juga berisi banyak nasihat kehidupan, salah satu contoh Syair Perahu karya Hamzah Fansuri. Seluruh puisi lama ini mempunyai manfaat langsung pada moral anak. Jika pagelaran pantun, nyanyian syair, dan acara kegiatan berbalas pantun dibudayakan di desa-desa, maka tidak mustahil anak-anak akan menikmati dan mengambil hikmah dari setiap puisi lama.

Mengetahui berbagai manfaat di atas, kita semua harus membangkitkan kembali budaya tradisi lisan di masyarakat. Kita semua mempunyai misi untuk merevitalisasi tradisi lisan sebagai strategi untuk pembentukan karakter anak, khususnya di Garut. Misi ini tidak bisa dijalankan oleh sebagian orang saja, tetapi harus kompak oleh kita semua di berbagai lapisan masyarakat. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut.

Lembaga pemerintah/Instansi

Pemerintah menjadi teladan pertama jika hendak merevitalisasi tradisi lisan. Pemerintahan Garut sudah melaksanakan upaya ini dengan baik ketika acara Gebyar Pesona Budaya Garut, April 2026. Ada Tradisi lisan seperti pantun yang disampaikan ketika sambutan oleh bupati dan wakil bupati. Ada juga cerita yang disampaikan melalui "Babad Limbangan ka Garut Kiwari". Tak hanya itu, Dinas Perpustakaan dan Arsip juga sedang mengadakan Lomba Bertutur dengan pilihan tema kearifan lokal yang ada di Garut, kegiatan ini membantu anak-anak untuk mencintai tradisi lisan. Pemerintah Garut sudah sangat hebat dengan mengadakan kegiatan ini, akan tetapi, kegiatan saja tidak cukup, karena hanya dilakukan sesekali dan di satu tempat saja. Sebaiknya, pemerintah mengintruksikan setiap desa untuk mengadakan kegiatan serupa di tingkat desa yang lebih sederhana. Tujuannya untuk membiasakan masyarakat melihat dan mendengar tradisi lisan.

Masyarakat di RW

Kebiasaan yang baik bisa diturunkan jika dilaksanakan di tatanan terkecil masyarakat, salah satunya di tingkat RW. Setiap RW harus mempunyai program revitalisasi tradisi lisan. Bentuk programnya bisa bervariasi, RW bisa memasukkan agenda berbalas pantun dalam setiap kegiatan RW yang melibatkan masyarakat. Salah satu contoh ketika 17 Agustusan, RW bisa memasukkan kegiatan Malam Budaya, ada agenda lomba mendongeng atau nyanyian syair. Anak-anak yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan 17san pasti ikut menyaksikan tradisi llisan. Dengan begitu, tradisi lisan tak akan asing di benak generasi muda. Tidak hanya itu, pengurus RW juga bisa bekerjasama dengan DKM dan remaja mesjid untuk mengadakan kegiatan serupa di setiap acara Peringatan besar Agama Islam. Semakin sering diadakan, maka anak-anak semakin mengenal, semakin belajar tentang pesan moral dari setiap tradisi lisan.

Keluarga

Orangtua sebagai generasi sebelumnya wajib mewariskan tradisi lisan. Tetapi kondisi saat ini, orangtua yang sibuk bekerja dan mengurus rumah tidak terbiasa untuk meluangkan waktu khusus menceritakan legenda. Padahal mengingat manfaatnya, legenda sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Setiap keluarga harus punya satu waktu khusus untuk menyampaikan tradisi lisan, baik itu sebelum tidur atau waktu khusus lainnya. Agenda ini bisa dijadikan Quality Time orangtua bersama anak. Degan cara ini, anak-anak mendapat waktu itimewa dengan orangtua, dan mendapat pesan moral dari setiap tradisi lisan yang disampaikan. Agenda khusus ini bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, bisa dengan orangtua bercerita legenda yang ada di Garut, atau bersama-sama menonton nyanyian syair, dan bisa juga dengan berbalas pantun di rumah. 

Revitalisasi Tradisi lisan jelas bisa menjadi solusi bersama untuk membentuk karakter dan adab anak-anak di Garut. Revitalisasi ini akan berhasil dengan adanya kerjasama semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Jika misi ini benar-benar dibudayakan dan hidup, maka tidak menutup kemungkinan, Garut akan menjadi Kota Budaya dengan tradisi lisan yang kuat dilengkapi dengan anak-anak yang berkarakter. Rasa-rasanya hal ini seperti mimpi, namun jika kita semua bertekad melaksanakannya, maka tidak ada yang mustahil. Mari kita upayakan tradisi lisan sebagai strategi pembentukan karakter anak Garut demi masa depan yang lebih berwarna.

Penulis: Sarah

Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani

====

50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0

Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.

Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.

📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?

Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:

🔗 [LINK E-BOOK]

Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!


Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca