Kenapa Kakek dan Nenek Terlihat Lebih Lembut kepada Cucunya?
Sikap kakek dan nenek yang lebih lembut kepada cucunya dijelaskan melalui psikologi keluarga, empati emosional, serta pengalaman hidup lintas generasi.
Fenomena kakek dan nenek yang bersikap jauh lebih lembut kepada cucu dibandingkan anak mereka sendiri kerap ramai dibahas di media sosial. Perubahan sikap ini bukan sekadar candaan keluarga, melainkan realitas antar generasi yang memiliki penjelasan ilmiah dan psikologis.
Baca juga: Aksi Nekat Nenek 71 Tahun di Final Destination Bloodlines, Pecahkan Rekor Dunia!
Perubahan Peran Kakek dan Nenek
Saat menjadi orang tua, dulunya kakek dan nenek berada dalam tekanan besar untuk mendidik anaknya agar disiplin dan sukses. Memasuki fase sebagai kakek-nenek, beban pengasuhan harian tersebut telah berpindah sehingga mereka dapat menikmati hubungan yang lebih santai.
Darwin Psychology Centre menerangkan bahwa hilangnya tuntutan tanggung jawab membuat mereka lebih longgar dan penuh toleransi. Usia dan pengalaman hidupnya juga menjadikan ekspektasi mereka terhadap perilaku anak jauh lebih sederhana dibandingkan waktu masih jadi pasangan muda.
Empati Emosional Kakek-Nenek ke Cucu
Penelitian James Rilling dari Emory University memperlihatkan adanya perbedaan respons otak saat nenek melihat cucu dan anak dewasa mereka. Aktivitas empati emosional meningkat tajam saat melihat cucunya, terutama ketika cucu menunjukkan ekspresi senang atau sedih.
Sebaliknya, saat melihat anaknya yang telah bertumbuh dewasa, area otak yang aktif lebih berkaitan dengan empati kognitif. Hal tersebut membuat respons kakek dan nenek menjadi lebih rasional dibandingkan emosional yang dilakukan seperti kepada cucunya.
Cucu Jadi Ruang Penebusan Emosi
Bagi banyak lansia, kehadiran cucu sebagai kesempatan untuk menebus penyesalan masa lalu saat membesarkan anaknya. Kesibukan kerja serta pola asuh yang keras di masa lalu mendorong keinginannya untuk memberikan cinta yang lebih hangat kepada cucu.
Psychology Today menyebut bahwa kondisi tersebut sebagai dorongan “do-over” yang wajar secara emosional. Hubungan kakek-nenek dan cucu pun menjadi ruang aman yang dipenuhi dengan kasih sayang tanpa adanya tekanan disiplin secara berlebihan.
Baca juga: Sunan Rumenggong Garut, Diduga sebagai Prabu Siliwangi dan Kakek dari Raden Fatah
Jadi Warginet, sikap lembut kakek dan nenek kepada cucunya bukan tanda pilih kasih, melainkan hasil dari perubahan peran, pengalaman hidup, serta kerja emosi otak. Hubungan lintas generasi ini justru memberikan manfaat emosional yang penting bagi tumbuh kembang anaknya.
Sumber: nationalgeographic
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.