Sawit Jadi Pohon di KBBI, Ini Dampaknya ke Lingkungan
Definisi sawit sebagai pohon dalam KBBI menuai sorotan karena dinilai dapat memengaruhi kebijakan lingkungan dan cara publik memahami sawit.
Perubahan definisi sawit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru menyulut perhatian publik dan akademisi. Penyebutan kata “sawit” sebagai pohon dinilai bukan sekadar soal bahasa, karena berpotensi memengaruhi cara pandang terhadap isu lingkungan dan deforestasi.
Baca juga: Dorong Kesejahteraan Warga, Pemkab Garut Minta Perusahaan Sawit Optimalkan CSR dan Program Kemitraan
Sawit dalam Bahasa Sehari-hari
Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat kerap menyebut bahwa sawit sebagai pohon karena bentuknya yang tinggi dan berbuah di bagian atas. Penyebutan tersebut lahir dari kebiasaan dalam mengelompokkan tanaman berdasarkan pengamatan langsung dan kegunaan praktis.
Pendekatan tersebut dikenal sebagai taksonomi rakyat, yaitu cara masyarakat dalam mengenali makhluk hidup tanpa rujukan ilmiah. Selama mudah dikenali dan dipahami, penyebutan sawit sebagai pohon dianggap wajar dalam kebiasaan sehari-hari.
Perbedaan Ilmiah Sawit
Dalam kajian ilmiah, sawit memiliki karakter yang berbeda dari pohon berkayu penyusun hutan. Sawit tidak memiliki batang sejati berkayu maupun struktur biologis yang mendukung pembentukan tajuk atau kanopi hutan tropis.
Oleh sebab itu, penyebutan sawit sebagai pohon dinilai kurang tepat jika digunakan dalam konteks sains dan kebijakan lingkungan. Perbedaan sudut pandang inilah yang memicu kritik terhadap definisi sawit dalam KBBI.
Dampak Definisi Sawit
Perubahan definisi sawit menjadi pohon dikhawatirkan mendatangkan tafsir keliru dalam pengambilan kebijakan lingkungan. Jika sawit dianggap setara dengan pepohonan hutan, perluasan kebun sawit bisa dipahami sebagai penambahan tutupan hijau.
Padahal secara ekologis, kebun sawit tidak dapat menggantikan fungsi hutan alami dalam melestarikan lingkungan. Narasi yang keliru berisiko bisa menutupi persoalan deforestasi hingga melemahkan upaya perlindungan keanekaragaman hayati.
Baca juga: Benarkah Pohon Sawit Bisa Jadi Resapan Air?
Jadi Warginet, polemik mengenai definisi sawit ini memperlihatkan bahwa kamus memiliki dampak lebih luas dari sekadar urusan bahasa. Diharapkan, pemaknaan sawit kedepannya tetap menghargai kebiasaan dari masyarakat tanpa mengesampingkan dasar ilmiah demi menjaga keseimbangan lingkungan.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.