Beranda Sunda Wiwitan: Menelusuri Ajaran Leluhur dan Kearifan Lokal di Kampung Pasir Garut, hingga Pengakuan Negara
ADVERTISEMENT

Sunda Wiwitan: Menelusuri Ajaran Leluhur dan Kearifan Lokal di Kampung Pasir Garut, hingga Pengakuan Negara

13 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Sunda Wiwitan: Menelusuri Ajaran Leluhur dan Kearifan Lokal di Kampung Pasir Garut, hingga Pengakuan Negara (Foto: Istimewa)

INFOGARUT – Jawa Barat tidak hanya kaya akan pesona alam, tetapi juga menyimpan kekayaan spiritual dan budaya yang terjaga selama berabad-abad. Salah satu entitas budaya yang masih teguh memegang tradisi leluhur adalah komunitas penganut Sunda Wiwitan.

Di Garut, jejak kearifan ini tersimpan rapi di Kampung Pasir, sebuah kampung adat yang menjadi saksi bisu harmonisasi manusia dengan alam.

Baca Juga: Mengungkap Sejarah Asal-Usul Orang Sunda, Antara Sunda Wiwitan dan Migrasi Austronesia

Apa Itu Sunda Wiwitan?

Secara etimologi, Sunda Wiwitan berasal dari kata Sunda dan Wiwitan yang berarti "asal", "mula", atau "ajaran pertama". Kepercayaan ini merupakan sistem monoteisme kuno yang meyakini adanya satu kekuasaan tertinggi yang disebut dengan berbagai nama seperti Sang Hyang Kersa (Yang Maha Menghendaki), Gusti Sikang Sawiji-wiji (Tuhan yang Maha Tunggal), atau Batara Tunggal.

Penganutnya meyakini konsep alam yang terbagi tiga: Buana Nyungcung (alam atas/tempat Sang Pencipta), Buana Panca (alam tengah/tempat manusia), dan Buana Larang (alam bawah).

Kampung Pasir: Benteng Budaya di Samarang Garut

Di Kabupaten Garut, komunitas penganut Sunda Wiwitan dapat ditemukan di Kampung Pasir, Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang. Berdasarkan data, saat ini terdapat sekitar 80 kepala keluarga yang bermukim di kampung tersebut dan tetap menjalankan tradisi leluhur secara turun-temurun.

Masyarakat Kampung Pasir menganut ajaran Sunda Wiwitan Madrais. Sejarah kampung ini berkaitan erat dengan sosok Abah Wiratma Wijaya (Abah Ratma), yang setelah bertemu dengan Pangeran Madrais dari Kuningan, menyatukan jalur spiritual komunitas ini dengan pusat ajaran Sunda Wiwitan di Cigugur, Kuningan.

Ajaran Utama dan Ritual Keseharian

Masyarakat adat Kampung Pasir memegang teguh beberapa prinsip hidup utama, di antaranya:

  1. Tri Tangtu: Ajaran yang meliputi Olah ka Raga yang terdiri dari keselarasan pikiran (tekad), fisik (panangan/sampean), dan sirah (kepala).

  2. Mental Sosial: Mengedepankan sikap kudu beres roes (rapi dan tertata), guyub, gotong royong, musyawarah, serta toleransi yang tinggi.

  3. Literatur Kuno: Masyarakatnya juga mempelajari naskah Sunda kuno seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Amanat Galunggung, dan Sewaka Darma.

Dalam hal peribadatan, terdapat dua ritual utama yang dijalankan:

  • Olahrasa: Ritual harian yang dilaksanakan dua kali sehari, yakni pukul 05.00 pagi dan 18.00 sore. Ritual ini dipimpin oleh sesepuh dan berisi wejangan tentang hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

  • Puasa 40 Hari: Ritual puasa tahunan yang unik. 10 hari pertama berbuka dengan umbi-umbian (beubeutian), 10 hari kedua dengan buah-buahan, 10 hari ketiga kombinasi keduanya, dan 10 hari terakhir diperbolehkan makan bebas namun tetap menghindari larangan tertentu seperti daging babi, ular, dan minuman keras.

Baca Juga: Sunda Wiwitan: Warisan Kepercayaan Leluhur dari Tanah Sunda

Pengakuan Negara dan Identitas KTP

Selama puluhan tahun, para penghayat kepercayaan menghadapi tantangan administrasi karena keyakinan mereka tidak termasuk dalam enam agama resmi di kolom KTP. Namun, pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 97/PUU-XIV/2016, negara secara resmi mengakui hak sipil mereka.

Kini, warga Kampung Pasir dan penghayat lainnya dapat mencantumkan identitas keyakinan mereka di kolom agama KTP dengan sebutan resmi: "Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa". Pengakuan ini menjamin kesetaraan akses layanan publik tanpa harus meninggalkan identitas spiritual leluhur.

Hari Raya dan Tradisi Lokal

Setelah menyelesaikan puasa 40 hari, masyarakat Kampung Pasir merayakan Hari Raya Riyaya setiap tanggal 1 Syura. Perayaan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan pusat ajaran di Cigugur, Kuningan.

Selain ritual spiritual, kekayaan budaya Kampung Pasir juga tercermin dalam Batik Pasiran. Motif batik ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol filosofis seperti motif Leuit Pare dan Mayang Kahuripan yang menggambarkan pentingnya ketahanan pangan dan penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan.

Harmoni dan Toleransi

Meskipun memegang teguh ajaran leluhur, masyarakat Kampung Pasir dikenal sangat inklusif. Mereka hidup berdampingan dengan harmonis bersama warga lainnya yang memiliki keyakinan berbeda. Prinsip kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup menjadi fondasi utama sehingga konflik horizontal sangat jarang terjadi di wilayah ini.

Melalui keberadaan Kampung Pasir, Garut tidak hanya melestarikan sejarah, tetapi juga memberikan teladan tentang bagaimana tradisi kuno dapat terus relevan dan hidup berdampingan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya.

 

ADVERTISEMENT

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.