Beranda Di Balik Label "Tukang Tidur": Fakta Kurang Tidur Kronis di Balik Budaya Kerja
ADVERTISEMENT

Di Balik Label "Tukang Tidur": Fakta Kurang Tidur Kronis di Balik Budaya Kerja

2 jam yang lalu - waktu baca 2 menit
Di Balik Label "Tukang Tidur": Fakta Kurang Tidur Kronis di Balik Budaya Kerja (Soiurce:freepik)

Sebanyak 73 persen, yang dilaporkan bertajuk IKEA Sleep Report 2025, menempatkan Indonesia pada peringkat pertama negara di dunia yang menyukai aktivitas tidur. 

Dibalik label orang Indonesia yang katanya suka dengan tidur, atau "tukang tidur" ternyata memang aktivitas tidur menjadi peringkat pertama di Indonesia yang disukai oleh warganya. Dibalik itu, ada fakta bahwa banyak juga yang kurang tidur karena teralu banyak tekanan pekerjaan.

Mengutip Narasi, berikut beberapa negara yang masuk pada kategori pecinta tidur, salah satunya Indonesia yang masuk pada peringkat pertama. 

Baca juga: Mengapa Peran Lembaga Negara Penting bagi Kehidupan Bernegara

1. Indonesia: 73 persen
2. Thailand: 71 persen 
3. Philipina: 68 persen
4. Singapore: 66 persen
5. Egypt (Mesir): 65 persen

Namun, dibalik status “pencinta tidur”, warga Indonesia ternyata tidak selalu mendapatkan tidur yang cukup. Budaya hustle culture, jam kerja yang panjang, sampai waktu yang dihabiskan di jalan, turut berkontribusi dalam memperpendek waktu tidur.

Survey yang dilakukan pada 13 September-20 September 2024, melibatkan 57 negara, yang menghasilkan responden memilih tidur dibandingkan aktvitas sosial lainnya. Dan responden hampir menjawab dan memilih tidur sebagai suatu kenikmatan terbesar dalam hidup. 

Meskipun hobi tidur,Indonesia tidak selalu mendapatkan kesempatan tidur yang cukup. 51 persen responden Indonesia hanya tidur selama 6 jam atau kurang dari 6 jam per harinya. Secara keseluruhan dari data yang diperoleh kurang dari separuh penduduk Indonesia yang tidur rata-rata selama 7 jam atau lebih. 

Baca juga: Hitung Mundur Puasa Ramadan 2026: Berapa Hari Lagi menuju Bulan Suci?

Idealnya, usia 18-40 tahun membutuhkan waktu tidur 7-8 jam per hari. Untuk usia 12-18 tahun membutuhkan waktu tidur idealnya 8-9 jam perhari nya. 

Di dunia yang menuntut untuk terus produktivitas, tidur menjadi hadiah paling istimewa. Budaya hustle culture, jam kerja yang panjang, sampai waktu yang dihabisakan untuk bekerja seringkali menggangu waktu tidur. Dari survei IKEA, mereka yang berpenghasilan tinggi cenderung tidur lebih nyenyak, dibandingkan orang yang berpenghasilan rendah. 

Di Indonesia, secara umum pekerja di Indonesia bekerja dalam rentang 35-48 jam per minggu. Padahal jam kerja idealnya di Indonesia cukup 40 Jama per minggu. Artinya satu dari empat pekerja di Indonesia berada di kategori jam kerja yang berlebihan atau (overwork).

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.