ADVERTISEMENT
Beranda Dorokdok vs Kerupuk Kulit: Apa Bedanya? Simak Asal-usul, Kalori, dan Tips Membelinya
ADVERTISEMENT

Dorokdok vs Kerupuk Kulit: Apa Bedanya? Simak Asal-usul, Kalori, dan Tips Membelinya

1 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Foto Dorokdok oleh Salm Abdullah | Wikimedia

Di setiap sudut meja makan keluarga di Garut, dorokdok sudah menjadi teman setia pendamping segala sajian masakan. Sebab dorokdok bukan hanya sekadar kerupuk biasa, melainkan makanan ringan yang digemari seluruh kalangan.

Apa itu dorokdok? Dorokdok merupakan kerupuk kulit khas Garut dari kulit sapi atau kerbau yang dibumbui rempah-rempah.Kerupuk ini memiliki varian rasa gurih dan ada pula yang manis.

Makanan bertekstur renyah ini telah menjadi kerupuk pilihan masyarakat Garut serta wisatawan dari luar Kabupaten Garut. Meskipun kerupuk ini sama-sama memiliki bahan dasar dari kulit hewan, dorokdok memiliki perbedaan dari kerupuk kulit biasa.

Dari asal-usul nama hingga harga, mari mengenal dorokdok yuk, Warginet!

Etimologi dan Asal-usul: Kenapa "Dorokdok"?

Asal-usul dorokdok belum diketahui bagaimana awal mula makanan ini muncul. Namun, namanya yang unik diambil dari suara onomatope ketika seseorang mengunyah kerupuk.

Dorokdok umumnya menggunakan bahan kulit kerbau. Namun, bukan berarti tidak ada dorokdok dari kulit sapi. Mengutip Jurnal Mahatani, dorokdok dengan kulit sapi berwarna lebih terang dari bahan kulit kerbau.

Serta, berat dorokdok kulit sapi lebih ringan dari kerupuk kulit kerbau. 


Aspek Keamanan dan Kandungan Gizi

Banyak rumah produksi dorokdok menggunakan cara tradisional. Baik dari proses pengeringannya hingga proses pengemasan. Bumbu-bumbu dorokdok menggunakan bahan-bahan alami, seperti garam, bawang merah dan putih, dan rempah-rempah yang menciptakan aroma gurih hingga manis.

Mengutip dari laman Halal MUI, dorokdok atau kerupuk kulit memiliki kandungan serat, protein, kalsium hingga fosfor. Namun, perlu diketahui untuk mengonsumsi dorokdok dalam batas wajar saja. Dorokdok yang memiliki kandungan lemak tinggi dan dilalui proses penggorengan berulang dapat meningkatkan kadar kolesterol.

Tidak ada salahnya juga agar Warginet tetap memperhatikan produk dorokdok yang beredar. Agar lebih terjamin, pilihlah produk dorokdok yang telah bersertifikasi halal dan menggunakan 100 persen kulit sapi atau kerbau asli. Warginet juga dapat memastikan apakah bahan-bahan yang digunakan berupa rempah-rempah asli atau pengawet.

Fenomena Variasi Produk (Modern vs Tradisional)

Saat ini fenomena dorokdok dengan ukuran sebesar bantal masih jadi perbincangan hangat di seluruh media sosial. Ukuran sebesar bantal yang dimaksud adalah jumlah dorokdok yang berkali lipat lebih banyak hingga ukuran produknya menyerupai bantal atau guling.

Variasi rasa dorokdok yang dapat ditemui tidak hanya rasa original. saat ini telah hadir varian rasa tren, seperti rasa pedas daun jeruk. Selain rasanya pedas, aroma daun jeruk juga menyeruak saat mengunyah dorokdok.
Adapun cara menikmati dorokdok pun mulai bervariasi. Misalnya, memakan dorokdok dengan cuanki. Menambah citarasa gurih dan renyah sekaligus saat menyantap cuanki.

Panduan Logistik dan Pembelian

Berapa harga dorokdok? Harga dorokdok di pasaran cukup bervariasi, tergantung berat kemasannya. Harga kemasan ball 200 gram diperkirakan dapat mencapai Rp30.000–Rp32.000. Sementara kemasan ball seberar 250 gram mencapai Rp38.000–Rp40.000.

Harga tersebut juga dapat meningkat tergantung kualitas dorokdok.

Walaupun kemasan ball terasa ringan dan menjadi pilihan selain membeli kemasan eceran, volume produk sebesar bantal ini cukup berisiko memakan tempat.

Sehingga, bagi Warginet yang berniat untuk mengirim dorokdok kepada sanak saudara maupun menjadi distributor kemasan ball, gunakan pengemasan bubble wrap atau kardus agar produk dorokdok terjamin sampai selamat dan tidak hancur. 

 

ADVERTISEMENT

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT