"Ini Bom Waktu", Peneliti Uniga ungkap Potensi Bahaya Bakteri yang Kebal Antibiotik di Sungai Cimanuk
Peneliti dari Universitas Garut (Uniga) ungkap hasil risetnya tentang adanya bakteri yang memiliki kekebalan terhadap antibiotik di Sungai Cimanuk. Aldizal Mahendra atau sering dipanggil Aldi, dosen di Fakultas MIPA, beserta tim riset dari Uniga, Shifa Nisrina dan Doni Anshar baru-baru ini menemukan adanya cemaran lingkungan berupa bakteri Eschericia coli yang memiliki resistensi atau kekebalan terhadap empat antibiotik di Sungai Cimanuk. Hasil temuan yang dipublikasi pada Jurnal Kesehatan Farmasi pada akhir tahun lalu memberikan peringatan pada masyarakat khususnya di Kabupaten Garut tentang potensi bahaya nyata di masa yang akan datang.
Menurutnya adanya bakteri E. coli di Sungai Cimanuk saja sudah mengindikasikan adanya cemaran karena normalnya bakteri ini berasal dari pencernaan, baik manusia atau hewan. Berarti ada sistem pembuangan kotoran yang masih bermasalah di sekitar Cimanuk. Ditambah lagi bakteri yang sudah kebal berarti bakteri tersebut menyimpan potensi ancaman bagi kesehatan masyarakat di masa yang akan datang. Titik yang diuji dalam riset ini adalah air sungai Cimanuk dari 4 titik di Kecamatan Bayongbong hingga Banyuresmi dan cemaran ditemukan pada 2 titik uji. Hal ini menjadi gambaran bahwa cemaran sudah terjadi cukup jauh di wilayah Garut dan tidak hanya berasal dari aktivitas di pusat kota. Ancamannya pun bersifat luas.
Kami menemukan bakteri ini sudah kebal dengan empat antibiotik. Fenomena ini adalah bom waktu yang tinggal tunggu waktu meledaknya. Karena nanti sangat mungkin penyakit-penyakit akibat bakteri ini misalnya diare yang kadang kita anggap penyakit ringan di masa depan tidak akan mempan diberikan antibiotik biasa, harus naik level dan nantinya bisa saja tidak ada antibiotik yang mempan,” ujar Aldi sebagai ketua peneliti.
Banya kasus serupa sudah terjadi dan diprediksi akan menjadi ancanaman menakutkan di masa depan. “Bayangkan, penyakit diare yang mungkin saat ini bisa ditangani mungkin 3 hari sembuh di masa depan bisa kembali mengancam nyawa karena nggak ada antibiotik yang cocok. Masalahnya fenomena ini sudah terjadi di Cina dan Inggris 10 tahun lalu. Bakteri ini menyebabkan penyakit infeksi saluran kemih dan dia kebal dengan beberapa seyawa dari antibiotiknya. Dampaknya? Terapi yang diberikan di rumah sakit menjadi lebih sulit dan angka kematian pun meningkat. Padahal dulu penyakit ini sangat banyak alternatif terapinya,” tambahnya.
Beberapa sumber menyebutkan tahun 2050 nanti kasus-kasus serupa akan banyak bermunculan di dunia dan bisa menyebabkan 10 juta kematian per tahun. Penyebab hal ini dapat terjadi masih memerlukan riset lebih lanjut namun menurut beberapa studi yang sudah dilakukan bisa saja hal ini disebabkan karena beberapa hal misalnya pemberian pakan atau obat untuk ternak yang mengandung antibiotik, dan utamanya adalah pembuangan obat tidak bertanggung jawab oleh masyarakat ke lingkungan.
Untuk mengatasi ini, pihaknya saat ini sedang melakukan riset lebih lanjut bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan juga berkolaborasi dengan berbagai pemangku kebijakan dan komunitas lokal dan para tenaga kefarmasian di Garut.
“Ke depannya, kami akan telusuri lebih jauh dan juga kami sedang merancang sebuah model pengelolaan obat sisa dari masyarakat dengan menggaet komunitas lokal. Jadi nanti harapannya masyarakat bisa lebih mudah dan lebih bijak dalam menyimpan ataupun membuang obat. Tidak dibuang di tempat sampah ataupun di sungai yang nantinya mengotori lingkungan kita. Kasihan anak cucu kita nanti,” tambahnya.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.