Iran Tutup Selat Hormuz, Indonesia Terancam Tekanan Fiskal Berat
Penutupan Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak global menembus 120 dolar AS per barel serta membebani subsidi energi dan stabilitas fiskal Indonesia.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi mengoyangkan perekonomian global, termasuk Indonesia. Jalur vital distribusi minyak dunia tersebut menguasai sekitar 20 persen pasokan energi global dan saat ini berada dalam situasi krisis.
Baca juga: Tewas dalam Serangan Israel-AS, Begini Sosok Ayatollah Ali Khamenei
Lonjakan Harga Minyak Global
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memproyeksikan harga minyak mentah dunia dapat menembus 100 hingga 120 dolar AS per barelnya jika Selat Hormuz terus terganggu. Kenaikan tersebut diperparah dengan kendala asuransi kapal logistik yang enggan menyeberangi wilayah konflik.
Data CELIOS mencatatkan bahwa harga minyak Brent sejak awal tahun 2026 telah naik sekitar 20,7 persen menjadi 72,8 dolar AS per barel. Jika konflik terus berlanjut, lonjakan harga minyak dunia dinilai sangat mungkin menembus tiga digit hingga memicu tekanan energi global.
Risiko Besar bagi APBN 2026
Sebagai negara net importir minyak, Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga energi. Dalam simulasi APBN 2026, setiap kenaikan 1 dolar AS per barel di atas asumsi 70 dolar AS dapat menambah belanja negara sebesar Rp10,3 triliun.
Jika harga minyak menjangkau 100 hingga 120 dolar AS per barel, beban fiskal berpotensi melonjak hingga Rp515 triliun. Tekanan tersebut berasal dari subsidi BBM, kompensasi kepada Pertamina, hingga subsidi listrik yang langsung membebani anggaran negara.
Dampak ke Rupiah dan Daya Beli
Ketegangan global juga menimbulkan potensi flight to quality, di mana investor menarik dana dari negara berkembang sehingga nilai tukar rupiahnya melemah. Pelemahan rupiah memperberat biaya impor energi dan pangan seperti kedelai, gandum, hingga daging.
Menurut CELIOS, imported inflation dari minyak dan pangan berisiko menciptakan tekanan berantai terhadap inflasi dan daya beli masyarakat. Jika APBN 2026 tidak segera disesuaikan, tekanan terhadap Pertamina, PLN, serta harga energi domestik dapat semakin besar.
Baca juga: Daftar Merek Kurma Israel yang Jadi Sorotan Selama Ramadan 2026
Nah Warginet, penutupan Selat Hormuz menandakan bahwa konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, melainkan juga pada stabilitas fiskal Indonesia. Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menambah subsidi energi atau menyesuaikan harga BBM demi menjaga keseimbangan APBN 2026.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.