Kisah Menteri Paling Miskin yang Menguasai 9 Bahasa Dunia
Jika kita melihat gaya para pejabat atau meteri yang bergaya mewah, lain hal nya dengan kehidupan H. Agus Salim seorang Menteri Luar Negeri Indonesia ke-3.
Kehidupan H. Agus Salim jadi sorotan, karena gaya nya berbeda dengan pejabat pada umumnya yang memperlihatkan kemewahan atau fasilitas yang megah. Menteri Luar Negeri RI yang disegani dunia ini hidup sebagai "kontraktor" sejati. Berpindah dari satu gang sempit ke gang lain di Jakarta.s
Agus Salim juga dikenal sebagai "The Grand Old Man" yang menguasai 9 bahasa asing di seluruh dunia. Ia sangat disegani lawan debatnya di Liga Bangsa-bangsa (PBB). Dibalik kemampuannya itu semua, tersimpan kehidupan sederhana yang dijalani bersama sanga istri.
Dibalik kehidupan yang sederhana, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain karena tidak punya rumah yang menetap di Jakarta, ada wanita luar biasa yang selalu menemati perjalanan Agus Salim, yaitu Zainatun Nahar, istri nya.
Berbeda dengan istri pejabat lainnya yang mungkin sibuk dengan urusan pamer perhiasan atau mengikuti acara arisan kesana kesini. Zainatun Nahar, hanya seorang wanita sederhana yang selalu menemati dan mendukung keputusan suaminya.
Baca juga: Sunan Rumenggong Garut, Diduga sebagai Prabu Siliwangi dan Kakek dari Raden Fatah
Ia rela hidup nomaden bersama sang suami, Agus Salim. Berpindah kontrakan dari satu ke tempat lain menjadi hal biasa yang mereka lakukan. Itu pun tempat kontrak an yang berada di gang kecil nan becek di Jakarta, Tanah Abang.
Gaji Agus Salim sebagai pejabat bukan tidak dimanfaatkan untuk keperluan keluarganya. Namun, seringkali gaji nya habis untuk perjuangan dan sedekah. Seringkali ia juga mengalami kesulitan ekonomi. Tak hanya Agus Salim, Zainatun juga sering memikirkan bagaimana cara nya agar anak-anaknya bisa makan di hari itu.
Ketika tidak ada uang belanja, Zainatun tidak mengeluh ia selalu memutar otak, mengolah apa yang ada di dapurnya untuk bisa dimakan untuk suami dan anak-anaknya. Meskipun di meja hanya tersedia nasi dan kecap, keluarga kecil mereka tetap harmonis dan dipenuhi rasa syukur.
Selain itu, kisah yang legendaris adalah disaat mereka kontrak di gang sempit Jakarta dan hujan deras. Atap rumah mereka bocor sampai air masuk ke ruang tamu. Dan saat itu, kebetulan ada tamu penting yang sedang berkunjung ke kontrakannya. Disaat momen tersebut, Agus Salim tidak malu, ia mengajar istrinya untuk bernyanyi bersama sambil membawa ember untuk menampung air yang bocor.
Baca juga: Sosok Bayu Risanto, Ilmuwan Indonesia yang Namanya Diabadikan Jadi Nama Asteroid
Sambil bercanda kepada tamunya, ia bicara kepada tamunya "Maaf nyonya (Zainatun) sedang sibuk mengatur bendungan. Sebentar lagi kita akan punya kolam renang di rumah ini," ucap Agus Salim sambil tertawa.
Ia merasa tidak hina, justru bangga. Karena ia memiliki prinsip "Memimpin itu Menderita". Bahwa kemiskinan tidak bisa merampas kebahagiaan dan harga diri mereka. Dengan memegang prinsip tersebut, mereka tak mau hidup enak dan fasilitas negara yang mewah, tapi dibalik semua itu rakyatnya sengsara.
Dibalik kesederhanaan dan kedermawanan sosok Agus Salim, sampai ia wafaf pada 4 November 1954 pun ia tak punya rumah yang menetap. Ia Mewariskan nama yang begitu besar, namun tidak dengan warisan harta benda.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.