Studi Ungkap Banjir Sumatera Ancam Kelangsungan Orang Utan Tapanuli
Orang utan tapanuli makin terancam punah setelah banjir Sumatera pada akhir tahun 2025 merusak habitat dan menewaskan puluhan individu langka di Batang Toru.
Bencana banjir dan longsor di Provinsi Sumatera Utara pada akhir tahun 2025 tidak hanya berdampak bagi manusia, tetapi juga dapat memperparah ancaman kepunahan orang utan tapanuli. Saat ini, spesies langka tersebut tengah menghadapi tekanan serius akibat adanya kerusakan habitat yang masif.
Baca juga: Buku-buku 100 Tahun di Venesia yang Terselamatkan dari Banjir
Dampak Banjir pada Habitat
Banjir ekstrem yang menerpa kawasan Batang Toru mengakibatkan kerusakan besar pada habitat inti orang utan tapanuli. Melansir dari laporan National Geographic Indonesia, curah hujan lebih dari 1.000 milimeter dalam empat hari dapat mendatangkan longsor dan banjir luas di wilayah tersebut.
Berdasarkan analisis dari citra satelit Sentinel-2 dan PlanetScope, para peneliti mencatatkan sekitar 3.964 hektare hutan yang masih utuh tersapu bencana. Tambahan 2.487 hektare area rusak juga diperkirakan tertutup awan, memperparah kehilangan habitat vital bagi spesies tersebut.
Ancaman Serius Populasi
Orang utan tapanuli memiliki tingkat reproduksi yang paling rendah di antara kera besar, dengan jarak kelahiran sekitar enam sampai sembilan tahun. Kondisi ini membuat populasi kecil yang terisolasi sangat rentan terhadap gangguan lingkungan secara mendadak.
Para peneliti memperkirakan 33 hingga 54 individu terdampak secara langsung akibat banjir dan longsor, dengan sebagian besar kemungkinan tewas. Angka kematian ini setara 6,2 hingga 10,5 persen populasi, jauh melampaui ambang kritis kelangsungan spesies.
Baca juga: Hutan Bukan Komoditas! Ini Bahaya Alih Fungsi untuk Kepentingan Ekonomi Semata
Jadi Warginet, ancaman terhadap orang utan tapanuli bukan lagi persoalan jangka panjang, melainkan situasi krisis yang sedang berlangsung. Upaya perlindungan darurat, restorasi hutan, hingga dukungan dari global menjadi kunci dalam menjaga spesies langka ini agar tetap bertahan.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.