Kisah Pabrik Tenun Garut, Industri Tekstil Terbesar se-Asia Tenggara yang Tinggal Cerita

Kisah Pabrik Tenun Garut, Industri Tekstil Terbesar se-Asia Tenggara yang Tinggal Cerita

Tahukah kamu bahwa di Garut pernah ada pabrik tenun terbesar di Asia Tenggara, lho. Pabrik penghasil kain sarung itu dibangun sekitar 1930-an dengan ribuan karyawan pribumi yang mengubah tata cara produkti tradisional menjadi modern. Memiliki luas mencapai satu hektare lebih, pabrik ini pernah menjadi ikon keberhasilan industri lokal oleh Presiden Soekarno. 

Pabrik Tenun Garut yang biasa dikenal sebagai PTG ini merupakan warisan Belanda. Dalam perjalanannya, PTG selalu menjadi rebutan penguasa.

Alasan Garut menjadi tempat produksi tenun karena mudah bahan baku serta memiliki perajin batik dan tenun handal. Lokasi Garut yang berdekatan dengan Bandung sebagai pusat Kolonial di Jawa Barat juga memudahkan pengangkutan barang.

Pabrik Tenun Garut.jpg

PTG memiliki struktur bangunan yang unik. Di bawah pabrik terdapat bungker luas lengkap dengan listrik dan ventilasi serta lorong penghubung ke bekas Rumah Direktur Pabrik dan Stasiun Kereta Api. 

Hasil penelitian dari Disparbud Garut, terdapat sisa-sisa perabot rumah tangga, kain, dan lorong sepanjang 500 meter sebagai jalan ke bekas rumah tangga, kain, dan lorong sepanjang 500 meter sebagai jalan ke bekas rumah Direktur dan stasiun KA Garut. 

Bunker diduga sebagai tempat persembunyian karena masih berlangsung oerang dunia ke satu dan kedua. Pada masa Bupati Aceng Fikri, ia meminta Pemerintahan Provinsi Jawa Barat untuk melestarikan artefak seajrah PTG, karena bungker pabrik karena jarang ada di dalam kota sebuah terowongan sehingga bisa menjadi objek pariwisata. 

Namun, pengajuan pelestarian tersebut tidak diindahkan. Bangunan PTG diratakan dan dibangun pusat perbelanjaan pada 2010.

Ramayana Mal Garut.jpg

Sekarang, bangunan PTG sudah berubah menjadi Mal Ramayana yang ramai dikungjungi oleh masyarakat Garut.


Baca lainnya

0 Komentar :

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.