Mengenal Empat Gerilyawan Korea di Palagan Garut 1948
Empat gerilyawan Korea di Palagan Garut 1948 tercatat aktif bersama MBGG hingga terlibat dalam Insiden Gunung Dora di wilayah Garut.
Palagan Garut mencatat keterlibatan empat gerilyawan asal Korea yang turut berperan aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di wilayah Garut dan Tasikmalaya. Keempat tokoh yang terlibat dalam peristiwa sejarah yang tercatat dalam Palagan Garut tersebut di antaranya sebagai berikut.
Yang Chil Sung
Yang Chil Sung alias Komarudin dikenal sebagai pejuang asal Korea yang memimpin Regu Putih dalam tubuh Markas Besar Gerilya Galoenggoeng (MBGG) selama Palagan Garut berlangsung. Ia tertangkap dalam operasi militer Belanda pada Oktober 1948, kemudian dijatuhi hukuman mati sebelum dimakamkan di Garut.
Guk Jae-man
Guk Jae-man yang dikenal dengan nama Soebardjo disebut sebagai koordinator intelijen MBGG dalam rangkaian Palagan Garut di kawasan Gunung Dora. Ia meninggal dunia pada 26 Oktober 1948 setelah diduga berusaha melarikan diri saat berada dalam pengawasan militer Belanda.
Lee Gil Dong
Lee Gil Dong atau Oemar tertulis dalam catatan harian Djoeana Sasmita sebagai bagian dari struktur MBGG selama Palagan Garut. Perannya berhubungan dengan bidang informasi dan logistik, meski nasibnya saat Insiden Gunung Dora memiliki perbedaan versi di berbagai sumber sejarah.
Woo Jong Soo
Woo Jong Soo yang dikenal masyarakat sebagai Adiwirio turut menjadi bagian dari jaringan MBGG dalam periode Palagan Garut. Ia dikenal sebagai penyokong logistik serta berhasil lolos dari penggerebekan pada 26 Oktober 1948 sebelum kemudian menetap hingga wafat di Cianjur pada tahun 1980-an.
Baca juga: Kisah Yang Chil Sung atau Koemarudin Pahlawan Garut Asal Korea Selatan
Kisah keempat gerilyawan Korea dalam Palagan Garut memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia melibatkan solidaritas lintas bangsa. Nah Warginet, sejarah Garut ini menjadi bukti bahwa perlawanan di tanah Priangan juga mendapatkan dukungan dari pejuang yang datang di negeri jauh.
Source: historia.id
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.