Beranda Menyelami Makna Napak Darma Lingga Buana: Filosofi di Balik Perayaan Hari jadi Garut ke-213
ADVERTISEMENT

Menyelami Makna Napak Darma Lingga Buana: Filosofi di Balik Perayaan Hari jadi Garut ke-213

1 jam yang lalu - waktu baca 2 menit
Menyelami Makna Napak Darma Lingga Buana: Filosofi di Balik Perayaan Hari jadi Garut ke-213

GARUT, infogarut.id – Kabupaten Garut kini genap menginjak usia 213 tahun. Di balik kemeriahan perayaan dengan tagline "Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang", terdapat sebuah prosesi sakral yang menjadi ruh dari peringatan tahun ini, yaitu Napak Darma Lingga Buana.

Prosesi ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah narasi visual tentang perjalanan wakil rakyat dalam mengabdikan diri. Dimulai dari titik yang sama, prosesi ini membawa pesan kuat tentang penyatuan visi dan misi bersama masyarakat demi mewujudkan kemakmuran yang penuh keberkahan.

Wewangian Kebaikan dan Penyatuan Sumber Kehidupan

Perjalanan puitis ini diawali dengan pembawa parukuyan atau wadah kemenyan. Asap wewangian yang membubung menjadi simbol doa agar para pemimpin senantiasa menebar kebaikan yang abadi di tanah Garut.

Di belakangnya, seorang mojang membawa bokor air dalam prosesi Tepung Cai. Air yang dibawa merupakan hasil penyatuan sumber mata air dari masyarakat adat dengan mata air legendaris Ci Garut.

"Ini adalah simbol Sumber Kahuripan. Bahwa pemimpin dan rakyat harus hidup berdampingan, menjaga persatuan, dan merawat ketentraman sebagai fondasi kehidupan," ungkap Dasep Badru Salam, Penggiat Budaya Garut.

Amanat Rakyat dalam Dekapan 'Salapan Indung'

Keharuan prosesi berlanjut dengan kehadiran 9 orang Indung (Ibu) yang membawa aisan. Di dalam balutan kain tersebut, tersimpan simbol amanat dan harapan-harapan rakyat yang begitu besar. Para Ibu ini didampingi oleh unsur Karesian, para pemuka agama dan budayawan, sebagai penjaga moral dan etika dalam perjalanan mengabdi.

Tarian Nawa Larang: Menyatukan Empat Pilar Peradaban

Dari sumber mata air menuju Titik Nol Kilometer Garut, perjalanan diiringi oleh Tarian Nawa Larang. Dilakukan oleh empat penari yang membentuk formasi Masagi (persegi), tarian ini melambangkan penyatuan kehendak antara empat unsur utama:

  1. Karatuan: Bupati selaku pemegang kebijakan.

  2. Karamaan: Wakil rakyat sebagai jembatan aspirasi.

  3. Karesian: Penasihat, pemuka agama, dan budayawan.

  4. Somah: Masyarakat luas.

Puncak prosesi ditandai dengan penyerahan Pare Geugeusan (ikatan padi) dari para Indung kepada Bupati dan Wakil Bupati. Padi tersebut kemudian dibagikan kembali kepada unsur Rama, Resi, dan Somah sebagai simbol bahwa kemakmuran dan kesejahteraan harus dirasakan secara merata dan penuh berkah.

'Nyieun Indit': Mengawali Pengabdian di Titik Nol

Sebagai penutup yang penuh makna, Bupati dan Wakil Bupati menyiramkan air suci ke tanaman di sekitar lokasi, menyimbolkan kepedulian terhadap kelestarian alam. Prosesi diakhiri dengan pembukaan kain putih yang melilit tugu Titik Nol Kilometer, sebuah simbol yang disebut sebagai "Nyieun Indit".

Nyieun Indit adalah tekad untuk mengawali langkah pengabdian baru yang tulus. Tujuannya satu: mewujudkan lingkungan yang Tata Tengtrem Kerta Raharja, sebuah tatanan masyarakat yang aman, teratur, dan sejahtera.

Di usia ke-213 ini, melalui Napak Darma Lingga Buana, Garut diingatkan kembali bahwa kejayaan (Tanjeur Dangiang) hanya bisa diraih jika pemimpin dan rakyat berjalan seiring dalam satu wangi kebaikan yang sama.

Selamat Hari Jadi Garut ke-213! Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang.

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.