Sumur Ci Garut: Mata Air Legendaris yang Menjadi Cikal Bakal Nama Kabupaten Garut
Garut, infogarut.id - Nama "Garut" bukan sekadar label administratif warisan kolonial. Di balik nama besar kabupaten ini, tersimpan kisah perjalanan para leluhur mencari pusat peradaban yang ideal. Salah satu bukti sejarah yang masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah Sumur Cigarut, sebuah mata air yang terletak di area SMPN 1 Garut.
Kegagalan Cimurah dan Syarat Mutlak Peradaban
Sejarah mencatat, setelah pembubaran Kabupaten Limbangan oleh Daendels pada 1811, Gubernur Raffles membentuk kembali wilayah ini pada 1813 dengan ibu kota sementara di Suci. Namun, Suci dianggap terlalu sempit untuk menjadi pusat pemerintahan. Bupati RAA Adiwijaya kemudian membentuk panitia untuk mencari lokasi baru.
Sekitar 3 km ke arah timur dari Suci, tim survei sempat menemukan sebuah wilayah strategis yang kini kita kenal sebagai Kampung Pidayeuheun. Secara harfiah, nama ini merujuk pada "calon kota" atau "bekas kota". Namun, ada satu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar oleh leluhur Sunda: Air.
Di Cimurah, air bersih sulit didapat. Bagi masyarakat Sunda, peradaban tidak bisa dibangun tanpa ketersediaan air yang melimpah, bukan hanya untuk pertanian dan keberlanjutan alam. Itulah mengapa, meski posisinya menggiurkan, Cimurah akhirnya dicoret dari daftar calon ibu kota.
Insiden "Kakarut" yang Menjadi Nama Daerah
Pencarian berlanjut ke arah barat. Di sebuah kawasan hutan yang subur, tim menemukan mata air yang tertutup semak belukar berduri. Saat sedang membabat semak tersebut, seorang anggota rombongan tergores duri dan berteriak, "Kakarut!" (tergores).
Menariknya, anggota tim dari Eropa yang ikut dalam rombongan salah dengar dan menyebutnya "Gagarut". Nama unik ini kemudian menyebar luas di kalangan pekerja dan masyarakat, hingga akhirnya mata air tersebut dinamai Cigarut. Lokasi inilah yang kemudian dipilih oleh Bupati RAA Adiwijaya untuk membangun pusat kota karena tanahnya yang subur dan dikelilingi pemandangan gunung-gunung besar.
Kesaksian dari SMPN 1 Garut
Kini, jejak mata air legendaris itu masih terjaga di area belakang SMPN 1 Garut. Kang Maman, yang telah menjadi penjaga sekolah tersebut sejak tahun 2003, berbagi cerita unik tentang sumur bersejarah ini.
Sepuluh tahun silam, saat dilakukan penggalian, Kang Maman menyaksikan langsung fenomena unik di kedalaman sumur. "Di dasarnya, terdapat tiga batu besar berbentuk segitiga seperti 'Aseupan' (kukusan nasi tradisional)," ujarnya.
Tak hanya itu, dari arah timur, air keluar sangat deras dengan debit setara pipa 3 inch. Namun, ada satu "keajaiban" yang sulit dijelaskan secara logika: meski air terus mengalir deras tanpa henti dari pagi sampai sore, baik di musim hujan maupun kemarau, sumur ini tidak pernah meluap.
"Airnya selalu 'pas'. Mengalir deras tapi tidak penuh-penuh. Seolah alam sudah mengatur sirkulasinya sendiri," tambah Kang Maman.
Baca Juga: Kakarut, Gagarut, Kigarut, Cigarut dan Akhirnya Menjadi Garut
Filosofi Kemakmuran yang Seimbang
Fenomena sumur Cigarut ini seolah menjadi simbol filosofi kemakmuran bagi warga Garut. Subur namun tidak berlebihan: Mengalir namun tetap tenang. Inilah alasan terkuat mengapa para leluhur kita akhirnya yakin membangun pusat kota di sini, tempat di mana harmoni antara manusia dan alam terjaga melalui sumber mata airnya.
Hingga hari ini, Sumur Cigarut berdiri sebagai saksi bisu bahwa identitas sebuah kota lahir dari interaksi mendalam manusia dengan tanah yang mereka pijak. Sebuah warisan yang harus terus kita jaga, sebagaimana sumur itu menjaga ketersediaan airnya selama ratusan tahun.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.