Beranda Paparan Plastik Sehari-hari dan Dampaknya bagi Kesehatan Tubuh
ADVERTISEMENT

Paparan Plastik Sehari-hari dan Dampaknya bagi Kesehatan Tubuh

9 jam yang lalu - waktu baca 2 menit
Paparan Plastik Sehari-hari dan Dampaknya bagi Kesehatan Tubuh, Source: Unsplash

Saat ini plastik tak terpisahkan dari kehidupan, namun partikel mikroplastik ditemukan dalam darah, ASI, hingga feses bayi dan berisiko bagi kesehatan.

Plastik telah menjadi bagian dari kehidupan modern, mulai dari kemasan makanan hingga perlengkapan rumah tangga yang digunakan setiap harinya. Namun dibalik kepraktisannya, berbagai penelitian mengungkap bahwa partikel plastik dapat menyusup ke dalam tubuh manusia hingga memicu kekhawatiran serius.

Baca juga: Ancaman Mikroplastik di Tulang Manusia, Begini Kata Peneliti

Plastik Ditemukan dalam Tubuh

Sejumlah studi internasional menemukan kandungan mikroplastik dalam darah manusia, bahkan terdeteksi pula pada Air Susu Ibu (ASI). Riset di Belanda yang dipublikasikan dalam jurnal Environment International mencatat partikel polimer ditemukan sekitar 80 persen sampel darah responden penelitian.

Partikel plastik jenis PET, polistiren, serta polietilen menjadi yang paling banyak terdeteksi dalam sampel tersebut. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa mikroplastik berukuran sangat kecil dapat menempel pada sel darah merah dan berpotensi dapat mengganggu distribusi oksigen ke seluruh tubuh.

Cara Plastik Masuk ke Tubuh

Produksi plastik dunia yang mencapai ratusan juta ton per tahun membuat paparan partikel plastik semakin luas di lingkungan. Mikroplastik dapat masuk melalui makanan, air minum, udara yang terhirup, hingga produk perawatan tubuh yang mengandung butiran plastik kecil atau microbeads.

Melansir berbagai publikasi ilmiah, kandungan mikroplastik juga ditemukan dalam air minum dalam kemasan, air keran, hingga garam laut. Partikel berukuran renik tersebut dapat masuk melalui sistem pencernaan, pernapasan, bahkan lewat pori-pori kulit saat bersentuhan dengan benda plastik yang meluruh.

Kebiasaan yang Perlu Diubah

Penggunaan wadah plastik untuk menyimpan atau memanaskan makanan perlu lebih diperhatikan karena berpotensi melepaskan zat kimia berbahaya. Bahan aditif seperti BPA dan ftalat dapat berpindah ke makanan terutama jika wadah rusak, tergores, atau dipanaskan dalam microwave.

Para peneliti menyarankan agar makanan panas dipindahkan ke wadah kaca tahan panas yang lebih stabil secara molekuler. Selain itu, hindari menggunakan kembali wadah plastik yang berubah warna, pecah, atau tergores demi meminimalkan risiko paparan mikroplastik.

Baca juga: 10 Negara yang Paling Banyak Konsumsi Sampah Plastik, Indonesia Urutan Berapa ya?

Ancaman plastik dan mikroplastik terhadap kesehatan menjadi pengingat bahwa gaya hidup modern perlu diimbangi dengan kesadaran lingkungan dan kesehatan. Nah Warginet, mulai sekarang lebih bijaklah dalam menggunakan plastik agar risiko paparan partikel berbahayanya bisa ditekan.

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.