Sejarah Terlur Ceplok dan Telur Dadar, Menu Sarapan Rumahan Andalan Sejuta Umat

Sejarah Terlur Ceplok dan Telur Dadar, Menu Sarapan Rumahan Andalan Sejuta Umat

Berbicara tentang telur ceplok dan telur dadar rasanya bukan hal asing yang baru saja kita dengar. Pasalnya, kedua olahan telur ini selalu menjadi menu andalan yang digemari hampir semua kalangan di belahan bumi manapun.  

Nah, usul punya usul, di Indonesia, sebutan telor ceplok sendiri berasal dari bahasa Jawa. Konon, kata "ceplok" di sini diambil dari bunyi telur ketika dipecahkan ke penggorengan.

Dalam bahasa sederhana, telur ceplok berarti telur yang digoreng tanpa proses pengadukan atau percampuran terlebih dulu, sehingga tampilannya natural dengan kuning telur selalu berada terpisah dari putihnya.

Telur ceplok ini juga terkenal dengan sebutan "telur mata sapi". Istilah  mata sapi ini konon berawal dari orang Perancis yang datang ke Indonesia dan mengatakan telur ceplok dengan Œil de Boeuf. Kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi Bull's Eye yang artinya mata sapi.

Secara harafiah arti Bull's Eye ini memang mata sapi. Namun, yang dimaksud dengan Bull's Eye menurut orang Perancis di sini adalah titik tengah lingkaran yang dijadikan sasaran panah.

Sementara itu, penamaan telur dadar berawal dari cara pengolahan telur itu sendiri. Istilah ‘dadar’ ini konon berasal dari kata lebar atau dilebarkan. Jadi, telurnya dikocok dulu baru digoreng melebar.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dadar juga diartikan sebagai telur yang dikocok atau diaduk bersama bumbu seperti bawang, merica, garam, dan sebagainya. Kemudian digoreng dan dibentuk pipih melebar.

Sumber: GNFI


Baca lainnya

0 Komentar :

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.