Sekilas Tentang Busana dan Gerakan Kesenian Sisingaan Asal Subang Jawa Barat


[Illustration : static.ucontest.info]

Kesenian Sisingaan merupakan ungkapan protes warga Subang tempo dulu pada saat penjajahan oleh Belanda dan Inggris. Mereka mengungkapkan perlawanan melalui karya seni, buah dari kreativitas masyarakat. Warginet ada yang sudah mengetahui bagaimana ragam gerak dan busana dari sisingaan? Mungkin para wargi pernah melihat sekilas di acara tertentu seperti sunatan (khitanan) ala orang Sunda ya. Namun bagaimana sih perubahan gerakan dan busana tradisi ini saat tempo dulu?

 

Karena pada saat itu belum ada kelompok atau grup kesenian sisingaan, pengusung sisingaan biasanya dari warga masyarakat. Meskipun gerakannya sangat sederhana dan dilakukan secara spontan, mereka tetap melakukan gerakan yang memiliki makna heroik atau yang menunjukkan keberanian dalam menghadapi musuh.

 

Tendangan, lompatan, mincid, dan dorong sapi adalah gerakan yang ditunjukkan dalam pertunjukan sisingaan saat itu. Pada saat itu, pengusung sisingaan hanya mengenakan kampret, pangsi, dan iket seperti masyarakat umumnya. Namun, pakaian takwa, sinjang lancar, dan iket adalah pakaian yang dikenakan oleh orang-orang dari golongan menengah ke atas. Busana sisingaan mulai mengalami perubahan dan penyesuaian pada sekitar tahun 1960 an. Ini termasuk perubahan warna dan bahan.

 

Selama pertunjukan, pakaian telah berkembang dan berubah, dan penonton yang tertarik bahkan dapat menari di depan sisingaan secara spontan. Baik yang datang dari awal atau saat sisingaan melewati wilayah mereka. Karena itu, seni sisingaan dapat diklasifikasikan sebagai seni tradisional, yang berarti seni rakyat yang terbuka, umum, dan spontan.

Komponen ketuk tilu dan silat mulai dimasukkan ke dalam kesenian sisingaan pada bulan Juli 1968. Penggabungan waditra, seperti terompet, tiga ketuk, kulanter (gendang kecil), bende (gong kecil), dan kecrek, menunjukkan hal ini. Perubahan yang cukup signifikan dan mendasar juga mulai terjadi kesenian sisingaan.***

 

Sumber: adatnusantara

 

 


0 Komentar :

    Belum ada komentar.