Situ Bagendit Ternyata Berawal Dari Kutukan, Begini Ceritanya !
Pada zaman dahulu, di salah satu desa di Kabupaten Garut hidup seorang perempuan kaya raya bernama Nyai Endit. Dalam menjalani kesehariannya, Nyai Endit hidup seorang diri karena suami dan anaknya sudah meninggal lebih dulu dan suaminya pun meninggalkan warisan yang begitu banyak kepada Nyai Endit.
Dengan kekayaan yang dimiliki, Nyai Endit merasa takut akan kehilangan hartanya sehingga timbul sifat kikir dan serakah. Nyai Endit tidak disukai oleh tetangga sekitarnya karena sifat jeleknya itu.
Salah satu sifat kikir Nyai Endit yaitu kepada tetangganya yang merupakan adiknya sendiri yaitu Nyai Jaah, yang tinggal bersama anaknya yaitu Konong. Mereka berdua hidup sangat miskin, Bapak Konong sudah meninggal dunia karena penyakit yang berat, tidak meninggalkan warisan apapun, selain rumah kecil yang dindingnya sudah bolong-bolong dan tiangnya pun sudah miring.
Si Konong, anak laki-laki berbadan kurus dengan pakaian compang camping yang masih berumur enam tahun itu harus menangkap ikan agar bisa makan bersama ibunya. Meskipun tinggal dekat dengan ua nya yaitu Nyai Endit, tidak menjadikan beban hidupnya ringan, karena Nyai Endit terlalu kikir sampai suatu waktu pernah Nyai Jaah mencoba meminjam beberapa liter beras, tetapi tidak mendapat hasil dan Nyai Jaah diusir dengan kejam.
Seiring berjalannya waktu, Nyai Jaah penyakitnya semakin berat dan sampai akhirnya meninggal dunia sehingga meninggalkan Konong hidup sebatang kara dengan keadaan yang sangat sengsara. Dengan kebaikan tetangganya, Konong diantarkan ke rumah Nyai Endit untuk bisa tinggal bersama karena masih ada ikatan saudara. Tetapi sesampainya disana, ternyata Nyai Endit tidak mau menerima Konong karena dirasa akan menguras hartanya untuk kebutuhan sehari-hari. Tetapi tetangganya itu terus membujuk dengan berbagai cara, hingga setelah pertimbangan Nyai Endit yang cukup panjang akhirnya menerima Konong untuk tinggal bersama.
Selama tinggal bersama, Konong tidak diberikan waktu untuk beristirahat karena terus diperintah oleh Nyai Endit seperti bekerja di ladang, menggembala ternak, menyambit rumput, mencari kayu bakar dan lain sebagainya, dengan begitu Konong hanya diberi makan sepiring nasi tanpa ikan dan sayur, cukup garam dan rawit sehingga badan Konong semakin kurus. Tetapi apapun yang diperintahkan, Konong tidak bisa menolaknya.
Sampai pada suatu hari, Konong inisiatif untuk pergi ke sungai menangkap ikan untuk makan, dan akhirnya Konong mendapatkan ikan gabus dan dengan cepat langsung dibawa pulang. Sesampainya di rumah, Nyai Endit bertolak pinggang di halaman rumah dengan muka yang merah. Tetapi ketika melihat Konong membawa seekor ikan, mukanya berubah seketika menjadi ramah.
Konong menaruh ikan tersebut di dapur untuk dimasak, selanjutnya Konong bergegas ke kandang domba. Menjelang beduk zuhur, Konong pulang dan langsung memasukan domba-dombanya ke kandang. Sehabis itu, bergegas menuju dapur untuk memasak ikan hasil tangkapannya, tetapi saat dicari ikan tersebut sudah hilang. Betapa kecewanya Konong, air matanya keluar melintasi kedua pipinya.
Dengan perasaan sedih dan kecewa, Konong pergi meninggalkan rumah Nyai Endit untuk menuju punggung bukit kecil dimana tempat makam orangtuanya berada. Nyai Endit yang sedang menumbuk padi dirumahnya tersenyum saat Konong pergi, ikan hasil tangkapan Konong memang telah dimakan oleh Nyai Endit, tetapi Nyai Endit tidak mengakuinya ke Konong.
Ketika sedang menumbuk padi, terdengar suara yang memanggil dari luar rumah. Ketika dihampiri ternyata ada seorang kakek tua pengemis yang diri bertopangkan tongkat , badannya sudah bungkuk, pakaiannya kotor dan compang camping, kulit badannya peduh dengan kudis, sangat mengkhawatirkan. Pengemis tua itu sedang mengaduh-aduh minta dikasihani dengan suara terputus-putus.
Melihat keadaan pengemis itu bukannya kasihan, Nyai Endit malah benci dengan gerak-gerik jijik di depan pengemis itu sambil mengusirnya. Kemudian pengemis itu berdiri tegak, semua kudis dan penyakit yang ada di badannya hilang seketika dan menjelma menjadi seorang kakek yang sangat berwibawa. Kakek tersebut yaitu utusan Sang Ratu Intan Dewata yang sangat terkenal.
“Demi keadilan! Terimalah hukuman atas perbuatanmu, Nyai!” seru si kakek sambil menancapkan tongkat di halaman rumah Nyai Endit.
Setelah itu, bergelagarlah suara dari dalam tanah. Bumi sekitarnya bergoyang, rumah-rumah di kampung itu ambruk dan pohon-pohon tumbang bersama akarnya.
Meskipun sudah terjadi begitu, Nyai Endit belum bisa melupakan hartanya. Semua harta dikumpulkan lalu dipeluk dan dibawa lari. Tetapi ketika baru saja berlari, tongkat yang ditancapkan si Kakek ke tanah sudah berubah menjadi sumber mata air besar. Makin lama makin besar sehingga menggenangi seluruh kampung dengan tinggi air setengah tiang dan tak lama dari situ air sudah sampai atap rumah.
Meskipun demikian, hartanya tetap dalam pelukan. Sehingga datanglah kutukan Sang Ratu Intan Dewata, Nyai Endit berubah menjadi seekor lintah besar yang merayap-rayap sebesar gulungan kasur sambil memeluk hartanya.
Ratu Intan Dewata telah mengubah Nyai Endit menjadi seekor lintah besar yang akan menghuni dasar telaga ini, telaga Situ Bagendit. Untuk mengingatkan kepada orang-orang bahwa jadi seorang manusia janganlah rakus, kikir dan seenaknya pada semua orang.
Daerah sekitar itu kemudian diberi nama Banyuresmi yang berarti Air yang membawa kesuburan, sehingga kisah terjadinya Situ Bagendit tepatnya yaitu berada di Bojongsalam, Banyuresmi, Kabupaten Garut.
Sumber Cerita : Buku Kisah Situ Bagendit karya Sayudi.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.