Surak Ibra, Warisan Budaya Warga Wanaraja

  • Whatsapp
Ilustrasi Surak Ibra (Sumber : Disbudpar Jabar)

Berbicara tentang Garut, kurang lengkap rasanya jika tidak menyinggung tentang kekayaan budaya yang diwariskan oleh masyarakat secara turun-temurun. Hampir setiap kecamatan di Kabupaten Garut memiliki kebudayaan khas yang perlu diapresiasi dan dilestarikan oleh masyarakat. Salah satunya adalah Surak Ibra, warisan budaya warga Wanaraja.

Surak Ibra, yang dikenal juga sebagai Boboyongan Eson, terlahir pada tahun 1910 di Kampung Sindangsari Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut. Kesenian ini diciptakan oleh Raden Djajadiwangsa, atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Papak.

Bacaan Lainnya

banner 728x250

Meskipun dalam sumber lain tertulis jika Surak Ibra diciptakan oleh Bapak Ibra, seorang ahli silat kharismatik asal Garut.

Surak, yang dalam Bahasa Indonesia berarti bersorak, menjadi ciri khas kesenian asal Wanaraja ini. Hal itu berarti jika Surak Ibra perlu dimainkan dengan perasaan semarak dan gembira, serta dengan penuh sorak. Surak Ibra dimainkan oleh sekitar 40-100 pemuda.

Salah satu pemain nantinya akan diboyong, diangkat tinggi-tinggi sebelum kemudian dilempar dan ditangkap kembali. Selain memboyong, yang menjadi ciri khas Surak Ibra adalah penampilan gerakan pencak silat para pemain dengan diiringi oleh pembawa obor, pemain gendang pencak, pemain dogdog, pemain angklung, pemain keprak, dan pemain pentungan bambu.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kesenian Surak Ibra. Salah satunya yaitu semangat kebersamaan dan gotong royong untuk mencapai tujuan dan cita-cita bersama antara rakyat dan pemerintah. Semangat ini digambarkan dalam kuantitas pemain Surak Ibra yang jumlahnya banyak.

Kesenian ini tercipta sebagai sindiran terhadap Kolonial Belanda yang bersikap sewenang-wenang terhadap rakyat. Seorang pemain yang diboyong adalah simbol seorang pemimpin yang bertugas untuk menyatukan masyarakat.

Surak Ibra dilaksanakan sebagai bukti rasa syukur, kegembiraan, dan penghormatan. Pada awalnya, Surak Ibra hanya ditampilkan pada saat Pesta Raja. Namun sekarang, Surak Ibra sering ditampilkan pada acara-acara hari besar, seperti hari jadi Garut atau hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *