3 Khutbah Jumat Isra Mi’raj 2026 yang Penuh Makna dan Menyentuh Hati
Tepat pada hari Jumat, 16 Januari 2026 mendatang, umat Islam akan menyambut peringatan Isra Mi’raj 1447 H/2026 M. Mengutip dari Baznas Jabar, pada peristiwa Isra Mi'raj, Nabi Muhammad melakukan dua perjalanan dalam satu malam, yaitu pergi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian menuju langit ketujuh (Sidratul al-Munthaha) dan menerima perintah salat 5 waktu.
Sebagaimana pada setiap hari Jumat terdapat kegiatan ibadah salat Jumat, para khatib akan bersiap-siap membuat khutbah bertema umat Isra Mi'raj 2026.
Jika Warginet sedang mencari materi khutbah, berikut adalah 3 tema khutbah Isra Mi'raj yang dapat Warginet jadikan rujukan dari berbagai sumber.
Kumpulan Contoh Teks Khutbah Jumat Isra Mi'raj 1447 H/2026 M
Contoh 1: 4 Pelajaran Mulia dari Peristiwa Isra Miraj yang Agung
اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَركَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَا حُدُوْدَ لِقُدْرَتِهِ، اَلَّذِيْ رَفَعَ نَبِيَّهُ إِلٰى أَعْلٰى دَرَجَةٍ، وَقَدَّمَهُ أَمَامَ عَرْشِهِ، لِيَبْلُغَ رِسَالَةً كَرِيْمَةً إِلٰى قَوْمِهِ، وَجَعَلَهُ دَلِيْلًا عَلٰى عَظَمَةِ رَسُوْلِهِ.
اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهِ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى أَفْضَلِ الْقُدْوَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّابعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالٰى بِاِكْثَارِ أَعْمَالِكُمُ الصَّالِحَةِ وَدَوَامِ عِبَادَتِهِ، فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِمِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيْمُ
Sidang Jumat yang berbahagia
Dengan diiringi oleh rasa syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Subhanahu wata’ala saya ingin menyampaikan wasiat taqwa kepada saudara -saudara sekalian dalam arti dan dengan cara imtitsalul awamir wajtinabun nawahi. Mari kita berusaha untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya, dengan demikian insya Allah kita akan tergolong sebagai orang yang taqwa kepada Allah SWT.
Hadirin rahimakumullah
Tahun ini, peristiwa Isra dan Miraj Nabi besar kita, Muhammad SAW, kembali kita peringati. Peringatan ini tentu saja memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita sebagai muslim, tidak hanya untuk mengenang kembali peristiwa itu, tetapi juga guna mengambil hikmah atau pelajaran agar berguna bagi perjalanan hidup kita. Sekurang-kurangnya ada lima hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra dan Miraj itu.
Pertama, perjalanan Isra dan Miraj ini merupakan perjalanan yang berlangsung dari masjid ke masjid, yakni dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa terus naik ke langit hingga ke Arasy Allah dan kembali lagi ke Masjidil haram. Yang Namanya perjalanan tentu maju, ini berarti bisa kita simpulkan bahwa bila kita ingin umat ini mengalami dan mencapai kemajuan serta agar kemajuannya tetap terarah, maka sumber daya manusia muslim harus mendapatkan pembinaan di masjid.
Oleh karena itu, setiap muslim harus cinta kepada masjid, gemar ke masjid dan mau memakmurkan masjid. Keharusan kita memakmurkan masjid ini karena memang hanya orang-orang yang berimanlah yang pantas melakukannya, Allah SWT berfirman di dalam surat At Taubah ayat 18 :
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
“Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Hadirin Yang kami Hormati
Hikmah kedua, Isra Miraj juga membuktikan luas dan banyaknya ilmu Allah yang dimiliki sehingga apa yang mustahil bila dilihat dari ilmu manusia menjadi mungkin bagi ilmu Allah SWT., ini menggambarkan bahwa ilmu Allah itu amat luas dan amat banyak, sementara ilmu yang dimiliki manusia sangat sedikit, ini sekaligus membenarkan firman Allah:
…….وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
“ … Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan melainkan sedikit.” (QS Al Isra’ : 85)
Masyiral Muslimin rahimakumullah…
Hikmah ketiga dari Isra dan Miraj adalah memperkokoh loyalitas atau kesetiaan Nabi Muhammad SAW, kepada Allah SWT. Hal ini karena Isra dan Miraj itu terjadi ketika Nabi berada dalam kondisi yang berduka dengan wafatnya Sayyidah Khodijah dan wafatnya pamannya Abu Thalib. Dengan Isra dan Miraj itulah Allah SWT sebenarnya ingin menegaskan kepada Nabi bahwa boleh saja bahwa ada manusia membantu perjuangan nabi, tetapi seorang nabi tidak pantas terlalu tergantung kepada manusia, ketergantungan dan mengharapkan perlindungan ini hanya pantas kepada Allah SWT, bukan kepada manusia. Allah berfirman:
اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ ……
“ Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) … “ (QS. Al Baqarah : 257)
Keempat, hikmah dari Isra dan Miraj adalah memperkokoh semangat dakwah. Hal ini karena sekembalinya Rasul SAW, dari Isra dan Miraj, beliau semakin menunjukkan semangatnya dalam dakwah meskipun orang-orang kafir semakin berani dan biadab dalam menghalang-halangi laju dakwah Rasulullah SAW, hinga puncaknya adalah harus dihindarinya pertumpahan darah, maka Nabi dan para sahabat diperintah oleh Allah untuk hijrah dari Makkah ke Madinah.
Keharusan kita untuk menunaikan tugas dakwah secara serius memang dikemukakan oleh Allah SWT, dalam Alquran:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)
Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Terakhir atau yang kelima dari hikmah Isra dan Miraj adalah semakin menumbuhkan Izzah atau harga diri sebagai muslim. Itulah sebagaimana yang ditunjukkan Nabi SAW, setelah Isra dan Miraj dan memang begitulah seharusnya seorang muslim, Allah SWT berfirman:
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.” (QS Ali Imran: 139)
Semoga kita termasuk kedalam kelompok orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lalu, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Rasulullah SAW.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْههِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّييْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْممُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَااسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
(Oleh KH Misbahul Munir SAg, MM, Sekretaris 1 MUI kota Tangerang dan Ketua Umum MUI Kecamatan Priuk | MUI)
Contoh 2: Isra Mi'raj
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَرِيْفُ الْمَقَامِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya hingga ajal menjemput.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Bulan Rajab merupakan salah satu dari rangkaian bulan yang mulia, dimana pada bulan ini Rasulullah saw pernah mengalami peristiwa hebat yaitu Isra' mi'raj. Lafadz Isra' secara bahasa bermakna perjalanan malam, sedang mi'raj memiliki makna tangga untuk naik ke atas. Namun yang dimaksud Isra' mi'raj adalah perjalanan Rasulullah saw di malam hari, mulai dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsha. Kemudian Allah Swt menaikkan Rasulullah saw dari Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha, tempat yang tidak ada seorang manusia manapun mampu untuk menaikinya meskipun menggunakan alat yang sangat canggih.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Peristiwa Isra' mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab, sebelas tahun setelah Beliau diangkat menjadi Rasul. Dan tahun itu disebut juga dengan 'Amul Huzni (tahun duka cita) karena Rasulullah saw mengalami berbagai cobaan secara beruntun. Salah satu dari cobaan tersebut adalah wafatnya Abu Thalib, paman yang selalu membela dan mengasuh Beliau sejak kecil hingga Beliau dewasa dan diangkat menjadi Rasul.
Tidak lama kemudian Sayyidah Khadijah, istri Rasulullah saw yang selalu setia mendukung dan menemani Beliau dalam menegakkan risalah ke-Nabian juga meninggalkannya. Setelah wafatnya Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah, serangan kaum Quraisy semakin gencar sehingga Beliau harus hijrah ke Kota Thaif dengan harapan bisa mendapatkan perlindungan dari masyarakat setempat karena kepala suku setempat masih ada hubungan kerabat. Namun takdir berkata lain, Beliau justru diusir dengan penuh hinaan dan cacian, bahkan Rasulullah saw dilempari batu hingga kaki dan kepala Beliau berdarah-darah.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Saat Rasulullah saw isra', Beliau singgah dan Salat dua rakaat di berbagai tempat. Diantara tempat yang disinggahi Beliau ialah Madinah yaitu tepat di bawah pohon yang pernah dibuat tempat berteduh oleh nabi Musa as, gunung Tursina yang menjadi tempat munajatnya nabi Musa as dengan Allah Swt dan tempat yang bernama Bait Lahm yaitu tempat lahirnya nabi Isa as.
Setelah singgah dibeberapa tempat tersebut, Rasulullah saw melanjutkan perjalanannya. Ditengah perjalan Beliau bertemu dengan berbagai hal yang mengganggu, diantaranya bertemu dengan jin Ifrit yang akhirnya jin Ifrit pun gagal mengganggu Rasulullah saw karena Beliau telah membaca doa yang diajarkan oleh malaikat Jibril as.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Diantara yang mengganggu Beliau di perjalanan Isra' adalah adanya suara yang terdengar dari arah kanan dan kiri Beliau yang mengajak untuk berhenti, tetapi Rasulullah saw tidak menghiraukannya dan tidak menanggapi panggilan tersebut karena bila Beliau menanggapi ajakan suara yang berada dari arah kanan maka umatnya akan condong ke agama Yahudi, sedangkan jika Beliau menanggapi yang arah kiri maka umatnya akan condong ke agama Nasrani.
Rasulullah saw tidak menanggapi ajakan tersebut merupakan isyarat bahwa umat Rasulullah saw akan selalu berpegang teguh dengan agama Islam.
Dan masih banyak hal yang dijumpai Rasulullah saw di tengah perjalanan isra' nya, semua itu menunjukkan bukti kekuasaan Allah Swt, baik berupa nikmat yang didapatkan oleh orang-orang bertakwa atau pun siksaan yang dialami oleh orang-orang yang tidak mau patuh pada perintah-Nya.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Hingga akhirnya Rasulullah saw tiba di Masjidil Aqsa. Beliau masuk dengan malaikat Jibril as, kemudian melakukan Salat dua rakaat tahiyyatul masjid.
Setelah Beliau melakukan Salat tahiyyatul masjid, malaikat Jibril pun mengumandangkan adzan sebagai tanda akan didirikannya Salat berjamaah. Kemudian malaikat Jibril mempersilahkan Rasulullah saw untuk menjadi imam Salat, dan yang menjadi makmumnya adalah para Nabi dan Rasul.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Setelah Rasulullah saw melaksanakan Salat berjamaah, Malaikat Jibril as menghidangkan 3 wadah yang berisikan air, khamr dan susu kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw pun lebih memilih untuk mengambil wadah yang berisikan susu dan meminumnya.
Mengetahui hal tersebut Malaikat Jibril pun berkata:
"Sungguh kamu telah memilih yang bersih seandainya engkau memilih khamr maka umatmu akan tersesat sedang jika engkau memilih air, maka umatmu akan sering mengikuti hawa nafsunya yang sering mengajak kepada kejelekan"
Akhirnya Rasulullah saw dinaikkan dari masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha atau peristiwa tersebut lebih sering dikenal dengan sebutan mi'raj untuk menghadap Allah Swt. Saat itulah Allah Swt mewajibkan pada Rasulullah saw sekaligus umatnya untuk melaksanakan Salat 50 kali dalam sehari semalam dan Rasulullah saw pun menerimanya. Kemudian Rasulullah saw turun dari Sidratul Muntaha dan bertemu dengan nabi Musa as.
Nabi Musa as pun bertanya pada Rasulullah saw tentang apa yang diwajibkan Allah Swt untuk Beliau dan umatnya. Beliau lantas menjawab bahwa Allah Swt mewajibkan melaksanakan Salat 50 kali dalam sehari semalam. Kemudian nabi Musa as memberi saran untuk meminta keringanan yang dibebankan pada Rasulullah saw dan umatnya. Beliau pun melaksanakan saran tersebut.
Singkat cerita akhirnya Salat yang awalnya diwajibkan oleh Allah 50 kali dalam sehari semalam diringankan menjadi 5 kali saja. Tetapi meskipun Salat yang diwajbkan dalam sehari semalam hanya 5 kali, namun pahalanya setara dengan Salat 50 kali.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Salat dalam agama Islam menempati kedudukan yang tidak dapat ditandingi oleh ibadah apa pun. Salat merupakan tiang agama. Agama tidak akan tegak tanpa Salat. Salat merupakan ibadah yang pertama kali diwajibkan oleh Allah Swt. Salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar juga sebagai pembeda antara orang mukmin dan kafir.
Peristiwa yang sangat agung ini sungguh menyimpan banyak hikmah yang sangat penting yang dapat kita ambil pelajaran untuk menambah ketebalan iman, tabah menghadapi cobaan dan pantang menyerah dalam hal kebaikan.
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ.
(Oleh Zainul Atqiya' | Buku Khutbah Zaynul Atqiya': Mimbar Dakwah LIM Lirboyo Kediri | Tim Kajian Ilmiah Lembaga Ittihadul Muballighin Ponpes Lirboyo (2021))
Contoh 3: Hikmah Isra’ Mi’raj
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ اَلْحَمْدُ للهِ اَلَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اَللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى ألِه وَأصْحَابِه وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالى فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Pertama sekali marilah kita bersyukur ke hadirat Allah yang telah memberikan berjuta kenikmatan kepada kita sekalian, sehingga masih bisa melaksanakan Shalat Jumat di masjid yang mulia ini.
Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad yang telah membimbing kita menuju dunia yang terang dan jelas, yaitu addinul Islam. Semoga kita selalu mencintainya dan bershalawat kepadanya sehingga kita diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti, amin.
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Selaku khatib kami mengajak kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga kita selau dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Amin.
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Pada khutbah kali ini khatib ingin menyampaikan judul hikmah Isra Mi’raj. Isra’ Mi’raj adalah peristiwa luar biasa dan tidak masuk akal di zamannya, yaitu Allah swt memanggil dan memperjalankan serta memberikan keistimewaan kepada Nabi Muhammad saw untuk melakukan perjalanan dari Masjidilharam Makkah menuju Masjidilaqsha Palestina. Kemudian dari Masjidilaqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah swt. Sebagaimana Allah jelaskan dalam Surat Al-Isra ayat pertama:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram menuju ke Masjid Al-Aqsa yang telah diberkahi sekelilingnya, agar kami perlihatklan kepada nya dari tanda-tanda kebesaran kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Isra: 1)
Sejarah telah menjelaskan, Nabi Muhammad diisra’mi’rajkan adalah karena kesedihan yang dialaminya. Kesedihan itu disebabkan karena meninggalnya istri tercinta, Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Keduanya adalah pendukung kuat dalam berdakwah, karenanya Nabi sedih.
Ada banyak peristiwa yang dialami oleh Nabi dalam perjalan Mi’rajnya, yang kesemuanya itu merupakan tamsil-tamsil kehidupan supaya dapat dipahami dan dijadikan pelajaran dan pijakan dalam mengarungi kehidupan agar mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan. Di antara tamsil-tamsil itu di antaranya ialah:
Nabi Muhammad saw melihat orang memotong padi (panen) terus menerus. Nabi bertanya kepada Jibril "siapakah mereka itu?" Jibril menjawab: "Mereka itu ibarat orang yang gemar beramal jariyah, yang kemudian mereka memetik pahalanya dari Allah swt".
Nabi juga melihat orang yang terus menerus memukul kepalanya. Nabi Muhammad bertanya, "siapakah mereka itu ya Jibril?" Dijawab, "mereka itu ibarat orang yang enggan melaksanakan shalat, yang kelak akan menyesal dengan memukuli kepalanya sendiri terus menerus sekalipun terasa sakit olehnya."
Juga melihat sebuah kuburan yang sangat harum baunya. Nabi bertanya, "apakah itu Ya Jibril?" Dijawab: "Itu kuburan Mashitah dan anaknya. Dia mati disiksa oleh Raja Fir'aun karena mempertahankan imannya kepada Allah swt sewaktu dipaksa supaya menyembah berhala."
Dari sejarah Isra’ Mi’raj dan peristiwa yang melatarbelakangi serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ada beberapa hikmah yang dapat dijadikan pelajaran serta penguatan keimanan umat Islam, di antaranya adalah:
Pertama, menghilangkan kesedihan Nabi
Setiap manusia dikaruniai perasaan dan cinta oleh Allah, sehingga jika suatu saat terjadi goncangan, maka manusia bisa menjadi sedih dan boleh jadi berlarut-larut kesedihannya. Sebelum Nabi Muhammad diisra’mi’rajkan oleh Allah, Nabi mengalami kesedihan yang luar biasa atas meninggalnya istri tercinta dan paman yang sangat sayang kepadanya. Keduanya menjadi penopang yang kuat dalam berdakwah.
Kesedihan yang dialami Nabi Muhammad mendapat hiburan dari Allah dengan memanggilnya melalui Isra Mi’raj yang bertemu langsung dengan Allah. Allah berfirman:
وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرةٌۙ. اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ
’’Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, (karena) memandang Tuhannya.’’ (QS Al-Qiyamah: 22-23)
Kedua, pentingnya ibadah shalat
Allah memberikan perintah langsung kepada Nabi Muhammad untuk menerima tugas shalat 5 waktu. Jadi shalat merupakan hal penting dalam peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw. Rasulullah bersabda:
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنِ، وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنِ.
"Salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, berarti ia telah menegakkan agama. Dan, barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah merobohkan agama." (HR Al-Baihaqi)
Ketiga, ujian keimanan bagi umat Islam
Pada zaman Nabi Muhammad saw kendaraan yang bagus kecepatannya adalah kuda dan belum ada kendaraan yang bisa membawa penumpang dalam waktu yang cepat dan singkat ke udara, apalagi menembus langit. Karenanya peristiwa Isra’ Mi’raj adalah sesuatu yang dianggap masyarakat adalah sesuatu yang ganjil dan mustahil. Sebab itu Nabi dianggap pembohong atau pun orang gila.
Dalam memahami Islam ternyata tidak semua harus masuk akal atau logik. Ini merupakan satu ujian yang cukup besar di zaman itu. Hanya bisa diterima dengan hati, dengan keyakinan atau keimanan. Jadi Isra’ Mi’raj merupakan ujian keimanan seorang Muslim. Apakah yakin atau tidak dengan apa yang dialami oleh Nabi? Allah berfirman:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
’’Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, "kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji?.’’ (QS Al-Ankabut: 2)
Keempat, terhindarnya sikap keluh kesah
Bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat keluh kesah dalam hidupnya, terutama ketika mendapati musibah atau kondisi kekurangan. Karenanya manusia sering menunjukkan keresahan, kegelisahan, serta memperlihatkan sifat kikirnya. Terlihat jelas sikap itu ketika kondisi kekurangan atau musibah dialami.
Momen Isra Mi’raj ini bisa dijadikan sebagai pengingat dan penyemangat agar kita berusaha memperbaiki ibadah shalat serta mengaktualisasikan kedermawanan kita kepada sesama. Allah berfirman:
إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا، إِلَّا الْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ، وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ، لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ، وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ
’’Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan.’’ (QS al-Ma’arij, 70: 19-26)
Kelima, menstimulan berkembangnya ilmu pengetahuan
Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi di zamannya merupakan sesuatu yang tidak mudah diterima akal. Di sisi lain umat Islam diharuskan percaya terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj.
Ketika umat Islam sudah yakin dan percara terhadap peristiwa Isra Mi’raj, maka manusia tergerak hati dan pikirannya untuk membuktikan secara nyata, secara riil. Kisah nabi tentang langit membangkitkan orang orang tertentu melakukan penelitian guna menemukan kebenaran riil dari apa yang ceritakan nabi. Dari sini bahwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang dapat menstimulan ilmuan-ilmuan untuk mengkaji dan membuktikan kebenaran cerita nabi. Al-Qur’an pun sudah mendorong manusia untuk mengkaji lebih jauh dengan ungkapan, afala ya’qilun, afala ya’lamun, afala yadzkurun, dan lain sebagainya. Allah berfirman:
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۗ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ
’’Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan mengembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.’’ (QS Lukman: 10)
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Demikian khutbah yang singkat ini, semoga bisa lebih memahami tentang Isra’ Mi’raj sehingga bisa menjadi hamba Allah yang terbaik yang pantas mendapatkan ridla-Nya. Semoga Allah memudahkan dan memberi kekuatan serta semangat kepada kita untuk bisa memaksimalkan ibadah Rajab dan nilai-nilainya, sehingga kita pantas mendapatkan posisi yang tinggi di mata Allah dan mendapatkan ampunan dan Rahmat-Nya di dunia dan akhirat, amin.
بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَه اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلهٌ لَمْ يَزَلْ عَلى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِهِ وَأَصْحَابِه وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. اللهم صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى ألِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلى ألِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلى ألِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللّهمّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
(Oleh H. Ahmad Misbah, Ketua LDNU Tangsel | NU)
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.