7 Permainan Tradisional Sunda yang Sudah Jarang di Mainkan Anak-Anak
Permainan tradisional Sunda merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan ditengah-tengah konteks modernisasi dan arus global yang mengutamakan digitalisasi. Selain itu permainan tradisional Sunda juga memberikan dampak positif bagi perkembangan anak, dimana dapat menghibur dan menghilangkan rasa bosan serta melatih perkembangan sosial dan ketahanan fisik.
Anak yang rutin berkumpul dan bermain di luar bersama temannya cenderung memiliki keterampilan sosial yang lebih baik dibandingkan anak yang hanya bermain dengan gadget di rumah, antara lain pengendalian emosinya lebih baik, keterampilan motoriknya bekerja lebih baik, dan logikanya bekerja lebih baik.
Berikut adalah rekomendasi permainan tradisional Sunda:
1. Oray-orayan
Permainan oray-orayan merupakan permainan yang umum dimainkan. Permainan ini mirip dengan permainan ular naga. Oray sendiri artinya ular sehingga permainan ini dimainkan dengan posisi seperti ular yang meliuk-liuk dan berputar. Permainan ini biasanya dimainkan secara berkelompok yang terdiri dari 10-20 orang.
Anak-anak ini akan berbaris dari depan ke belakang sambil memegang pundak temannya yang ada di depan.
Mereka jalan meliuk-liuk layaknya ular sambil menyanyikan lagu sebagai berikut:
Oray-orayan luar leor ka sawah
Entong kasawah parena keur sedeng beukah
Oray-orayan luar leor ka kebon
Entong ka kebon di kebon loba nu ngangon
Mending ka leuwi di leuwi loba nu mandi
Saha anu mandi? Anu mandina pandeuri
Selain ada yang menjadi ular, ada 2 orang yang akan membuat seperti terowongan dengan menyatukan kedua tangannya. Biasanya, selain tangan, banyak orang juga yang menggunakan sarung yang direntangkan. Kemudian, di akhir lagu, mereka akan menangkap orang terakhir yang melewati terowongan tersebut.
2. Sasalimpetan
Sasalimpetan adalah permainan yang menggunakan lagu untuk dimainkan. Para pemain akan berpegangan tangan. Kemudian setiap orang akan masuk ke dalam ruang di bawah tangan di antara para pemain yang berpegangan tangan. Kemudian pemain selanjutnya akan mengikutinya sehingga terlihat seperti spiral.
Berikut lagu yang sering dinyanyikan saat memainkan permainan tradisional Sunda ini.
Sasalimpetan jajahan aing nu panjang, hey hey
Aki janggotan tumpak kuda heheotan
Sasalimpetan jajahan aing nu panjang, hey hey
Aki janggotan tumpak kuda heheotan
Tumpak kuda heheotan
Tumpak kuda heheotaaaaan
Tumpak kuda heheotan
3. Paciwit-ciwit Lutung
Permainan ini saling mencubit punggung tangan untuk membentuk tumpukan/menyusun tangan secara berjenjang. Biasanya permainan tradisional Sunda ini dimainkan secara berkelompok yang terdiri dari 4-6 orang. Saat permainan, tangan mereka diletakkan di tengah-tengah sambil membentuk lingkaran. Kemudian, tangan masing-masing pemain akan berbaris dan saling mencubit dan tidak boleh putus.
Berikut lagunya: paciwit-ciwit lutung si lutung pindah ka luhur, paciwit-ciwit lutung si lutung pindah ka luhur.
4. Slep Dur
Permainan ini dimainkan secara berkelompok yang terdiri dari 7-10 anak yang berbaris. Dua anak membuat terowongan untuk dilewati anak-anak lain. Permainan tradisional Sunda ini memerlukan kekompakan dan kecepatan dalam bergerak bersama agar tidak terkena terowongan runtuh di akhir lagu.
Seperti permainan lainnya, ada lagu yang mengiringi permainan satu ini, yaitu:
Slep dur, slep dur
Dilas dipan dipan debur
Kahijina kaduana Katiluna kaopatna
Kalimana kagenepna
Katujuhna nu pandeuri
5. Perepet Jengkol
Permainan perepet jengkol merupakan permainan tradisional yang menyenangkan dan dapat dimainkan oleh 3 orang atau lebih baik laki-laki maupun perempuan. Mereka akan membentuk lingkaran tapi memegang tangan menghadap ke belakang. Kaki kanan para pemain tersebut kemudian diangkat setinggi betis pemain yang satu dan pemain lainnya sehingga saling tumpang tindih.
Namun tidak seorang pun boleh terjatuh dan harus bertahan hingga semua pemain mengaitkan kedua kakinya hingga membentuk anyaman. Kemudian masing-masing tangan akan dilepaskan dan melompat-lompat ke kiri sambil bertepuk tangan.
6. Cingciripit
Cingciripit merupakan permainan tradisional Sunda yang fungsinya mirip dengan permainan hompimpa. Biasanya dilakukan sebelum bermain kucing-kucingan atau petak umpet. Pertama, anak-anak akan berkumpul membentuk lingkaran. Kemudian salah satu anak biasanya membuka telapak tangannya untuk membuat “mangkuk”.
Kemudian, anak-anak yang lain akan meletakkan jari telunjuknya di tengah telapak tangan temannya yang berperan sebagai “mangkuk” tersebut sambil bernyanyi:
Cing ciripit
Tulang bajing kacapit
Kacapit ku bulu paré
Bulu paré sesekeutna
Jol pa dalang mawa wayang
Jrék-jrék nong, Jrék-jrék nong
Kemudian, di akhir lagu, pemilik “mangkuk” ini akan menangkap jari pemainnya. Siapa pun yang menangkapnya akan kalah atau harus berjaga saat bermain petak umpet.
7. Endog-endogan
Endog-endogan merupakan permainan tradisional Sunda yang dapat dimainkan oleh banyak orang. Permainan ini dimainkan dengan cara mengepalkan tangan, kemudian menyatukan tangan pemain lain yang terkepal dan menumpuknya di atasnya. Nanti tangan-tangan ini akan dipecahkan satu per satu seperti telur.
Di bawah ini adalah lagu-lagu yang biasa dimainkan dalam permainan tradisional ini.
Endog–endogan peupeus hiji pre
Endog–endogan peupeus hiji pre
Endog–endogan peupeus hiji pre
Endog–endogan peupeus hiji pre
Goleang-goleang mata sapi bolotot.
Sumber: orami.co.id
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.