Apakah Garut dan Ganyong Itu Sama? Kenali 5 Perbedaan Mencoloknya Agar Tidak Keliru
Ada banyak umbi-umbian yang tumbuh di Indonesia, mulai dari singkong, ubi, talas, kentang, garut, ganyong, dan lainnya. Walaupun sama-sama umbi, masing-masing memiliki jenis dan karakteristik yang berbeda.
Begitu pula dengan garut dan ganyong. Banyak orang yang tidak dapat membedakan keduanya. Padahal jika diperhatikan, banyak perbedaan yang terlihat, seperti ciri fisik, famili tumbuhan, hingga kandungan nutrisinya.
Bagi kamu yang belum tahu, ini perbedaan garut dan ganyong. Jangan sampai keliru!
Baca Juga: Daftar 10 Kabupaten Termaju di Jawa Barat, Garut Termasuk?
Perbedaan Garut dan Ganyong
Nama dan Keluarga yang Berbeda
Garut berasal dari famili Marantaceae yang memiliki nama ilmiah Maranta arundinacea, tumbuhan yang hidup di iklim tropis basah. Garut juga dikenal dengan sebutan arrowroot dalam bahasa Inggris. Sementara itu, ganyong merupakan spesies tumbuhan dari famili Cannaceae dan memiliki nama ilmiah Canna edulis.
Perbedaan famili ini menunjukkan bahwa keduanya merupakan dua jenis tumbuhan yang berbeda. Meskipun sama-sama jenis umbi-umbian yang bisa diolah menjadi tepung, karakteristik kedua tanaman ini terlihat berbeda.
Perbedaan Ciri Fisik
Dilihat dari bentuknya, garut dan ganyong cukup mudah dikenali. Berdasarkan tanamannya, garut memiliki daun yang lebih sederhana, ramping, dan warnanya cenderung hijau tua. Ganyong memiliki daun lebar dengan semburat merah atau ungu dengan tampilan yang lebih mencolok.
Berdasarkan umbinya, garut cenderung berbentuk silindris memanjang dengan ukuran relatif kecil dan sedang. Kulitnya agak bersisik tipis dan berwarna cokelat muda. Selain itu, daging umbinya berwarna putih dan memiliki tekstur halus.
Sementara itu, umbi ganyong memiliki ukuran lebih besar dan gemuk. Bentuknya seperti lengkuas dengan ukuran yang lebih besar. Kulit ganyong berwarna cokelat kemerahan hingga keunguan. Daging umbinya berwarna putih keruh dan lebih berserat dibandingkan garut.
Kandungan Nutrisi dan Manfaat Kesehatan
Garut dikenal dengan patinya yang lembut dan mudah dicerna tubuh. Tepung garut sering digunakan untuk makanan bayi atau makanan untuk orang dengan gangguan pencernaan. Kandungan karbohidratnya tinggi, tetapi rendah lemak dan bebas gluten.
Ganyong juga kaya akan karbohidrat. Namun, kandungan seratnya lebih tinggi dibandingkan garut yang membuatnya cocok untuk pencernaan dan menjaga kesehatan usus. Selain itu, ganyong juga memiliki kandungan mineral seperti kalsium dan fosfor.
Dilihat dari manfaatnya, garut lebih dikenal sebagai bahan pangan yang lembut dan ramah lambung. Di lain sisi, ganyong lebih unggul sebagai sumber energi dan serat alami.
Karakteristik Pati dan Tepung
Tepung garut memiliki tekstur yang lembut dan halus, berwarna putih, dan menghasilkan gel bening ketika dimasak. Hal ini membuat tepung garut cocok untuk pengental sup, saus, dan kue-kue tradisional.
Tekstur tepung ganyong sedikit lebih kasar dan warnanya tidak seputih tepung garut. Ketika dimasak, pati ganyong menghasilkan tekstur yang lebih kental dan keruh. Tepung ini biasa digunakan untuk bahan campuran kue tradisional, bubur, dan makanan khas daerah.
Perbedaan karakteristik ini membuat tepung garut lebih diminati industri pangan modern, sementara tepung ganyong banyak digunakan untuk olahan tradisional atau skala rumah tangga.
Baca Juga: Daftar Kabupaten/Kota di Jawa Barat yang Menggunakan Bahasa Jawa Sehari-hari
Penggunaan Garut dan Garut
Garut lebih sering diolah menjadi tepung dahulu sebelum dikonsumsi. Umbinya lebih jarang dimakan langsung dengan dengan cara dikukus dibandingkan ganyong. Jika kamu menderita maag/asam lambung dan ingin mencari alternatif karbohidrat, bisa pilih garut untuk dikonsumsi.
Ganyong lebih sering dikonsumsi dengan cara dikukus atau direbus dibandingkan garut. Rasanya hambar dan ada sedikit manis alami. Ganyong juga diolah dalam bentuk tepung untuk sejumlah produk pangan.
Garut dan ganyong bisa dijadikan sebagai alternatif makanan pokok atau untuk diet rendah glikemik. Keduanya memiliki nutrisi yang baik bagi tubuh, tetapi ganyong lebih mudah dibudidayakan secara masif.
Kedua umbi ini memiliki cara konsumsi yang sama, yaitu direbus, dikukus, atau dijadikan pati dan tepung. Namun, keduanya memiliki karakteristik dan kandungan yang berbeda. Jangan sampai salah membedakannya!
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.