Beranda Asal Usul Tradisi Nyadran Jelang Bulan Ramadhan 
ADVERTISEMENT

Asal Usul Tradisi Nyadran Jelang Bulan Ramadhan 

3 jam yang lalu - waktu baca 2 menit
Asal Usul Tradisi Nyadran Jelang Bulan Ramadhan (Source:jatimnow)

Tradisi Nyadran atau ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan menjadi salah satu budaya yang sampai saat ini masih dilestarikan di Indonesia. Bagaimana asul usulnya, simak penjelasannya. 

Masyarakat Sunda biasanya menyebut ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan dengan sebutan Nyekar. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan juga sebagai persiapan spiritual menyambut bulan suci Ramadhan. 

Sambil berziarah, biasanya membawa bunga segar untuk ditaburkan diatas kuburan, sambil membawa air untuk menyejukkan, menyirami makam. Bunga-bunga itu menjadi penanda doa terus 'terlantun' sebelum bunga mengering.

Dikutip dari detikjabar, tradisi Nyadran berakar dari ritual Shraddha pada masa Hindu Kuno di Jawa. Shraddha merupakan upacara keagamaan yang ditujukan untuk mendoakan arwah leluhur sebagai bentuk manifestasi iman dan penghormatan kepada nenek moyang.

Baca juga: Mengenal Sesar Garsela: Jalur Retakan Bumi Paling Aktif di Jawa Barat yang Membentang di Garut

Pada Hindu Kuno, ada konsep yang dikenal sebagai Pitru Loka, yang artinya alam tempat bersemayam jiwa leluhur yang terletak di bumi dan langit. Masyarakat meyakini arwah leluhur akan memperoleh tempat yang layak di alam tersebut serta mendapatkan bekal spiritual menuju pembebasan akhir atau mukti.

Ritual ini awalnya dilaksanakan pada waktu tertentu seperti hari kematian seseorang atau momen khusus sesuai dengan perhitungan kalender keagamaan. 

Namun, seiring berjalannya waktu, ritual tersebut mengalami transformasi masuknya Islam ke Nusantara dengan melahirkan proses sinkretisme budaya. Yang mana tradisi ini menjadi Nyadran atau Sadranan, yang esensinya bergeser menjadi ziarah kubur, doa bersama, dan sedekah makanan.

Baca juga: Kisah Menteri Paling Miskin yang Menguasai 9 Bahasa Dunia

Istilah Nyadran diyakini berasal dari kata Shraddha yang mengalami perubahan fonetik menjadi nyraddha dan kemudian nyadran. Sementara di Sunda, dikenal sebagai Nyekar atau Nadran. Nyekar merujuk pada kegiatan menabur bunga dan berdoa di makam keluarga, sedangkan Nadran selian bermakna ziarah kubur jelang Ramadan. 

Tidak hanya dimaknai sebagai ritual spiritual, namun ini juga sebagai bentuk mempererat hubungan keluarga sambil berkumpul membersihkan makam dari keluarga atau ahli waris yang sudah meninggal. 

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.