Beranda Mengenal Hustle Culture, Gila Kerja yang Menguras Mental 
ADVERTISEMENT

Mengenal Hustle Culture, Gila Kerja yang Menguras Mental 

1 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Mengenal Hustle Culture, Gila Kerja yang Menguras Mental  (Source:freepik)

Hustle Culture menjadi kasus yang sekarang banyak dialami anak muda seakan-akan telah dinormalisasikan. Padahal itu merupakan jenis kelelahan kronis yang menyebabkan ketidakseimbangan hidup. 

Gaya hidup yang sibuk sering menjadi tolak ukur dari kesuksesan. Padahal dalam kondisi ini, menjaga work-life balance bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendasar. Penetapan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi harus seimbang agar tetap produktif secara sehat dan tidak merusak mental. 

Ditengah kehidupan yang sekarang sudah serba digital ini, pengaruh media sosial sering menjadi penyebabnya. Seperti misalnya kamu sengaja bercerita betapa sibuknya dirimu di media sosial agar dianggap pekerja keras oleh orang lain?  Atau apakah kamu terus bekerja hingga hampir tidak memiliki waktu untuk diri sendiri? Ini yang jadi penyebab gila kerja, sampai tak tahu waktu untuk diri sendiri. 

Baca juga: 7 Baso Aci Terenak dan Legendaris di Garut yang Wajib Kamu Coba

Apa itu Hustle Culture?

Dikutip dari Kementerian Keuangan, menurut pakar psikologi, Hustle Culture adalah budaya yang membuat seseorang menganut workaholism atau gila kerja (Setyawati, 2020). budaya gila kerja yang menuntut seseorang bekerja keras secara berlebihan, terus-menerus, dan mengabaikan waktu istirahat demi mencapai produktivitas maksimal. 

Tren hustle culture dimaknai sebagai suatu keadaan bekerja terlalu keras dan mendorong diri sendiri untuk melampaui batas kemampuan hingga akhirnya menjadi gaya hidup. Budaya gila kerja inilah yang telah menjadi standar bagi sebagian orang untuk mengukur hal-hal seperti produktivitas dan kinerja.

Semua yang kerja keras tidak selalu menimbulkan hal yang positif. Jika produktivitas mu berubah menjadi obsesi yang hadir tanpa adanya ruang untuk istirahat, itu menjadi kebiasaan yang toxic. Dalam jangka panjang, hustle culture justru menggerus kualitas hidup dan menurunkan kesejahteraan mental.

Ciri utama seseorang mengalami Hustle Culture adalah merasa bersalah saat mulai beristirahat dan tidak melakukan apa-apa. menganggap kesibukan adalah harga diri, bekerja lebih dari 50 jam per minggu, dan mengabaikan kehidupan pribadi.

Baca juga: 15+ Jenis Kuliner Garut Legendaris & Hits 2026: Dari Tradisional hingga Pedas Kekinian

Kenapa seseorang bisa mengalami Hustle Culture. Karena adanya tekanan sosial, ketakukan tertinggal (FOMO), pengaruh media sosial, dan ambisi dalam mencapai kesuksesan finansial atau karir dalam waktu yang cepat tanpa adanya batas untuk diri sendiri. 

Budaya ini sering menormalkan kerja berlebihan, terutama di kalangan generasi muda yang ingin mencapai kesuksesan instan. Padahal prioritas terhadap work life balance atau bekerja dengan seimbang diperlukan, dan bentuk produktivitas tidak sama dengan penilaian diri. 

Pada dasarnya, bekerja keras merupakan hal positif, akan tetapi ketika seseorang terlalu mementingkan pekerjaannya hingga tak pernah beristirahat, saat itulah akan timbul masalah. Kebiasaan ini tak baik bagi kesehatan baik fisik maupun mental. 

Seseorang yang Hustle Culture dirinya akan sibuk bekerja, jarang beristirahat, kurang tidur, dan seringkali memotivasi diri sendiri untuk terus mengabaikan rasa sakit dengan tetap bekerja.

Solusi untuk mengatasi Hustle Culture adanya diri sendiri harus sadar terhadap keadaan yang saat ini sedang terjadi pada hidup mu. Buatlah jadwal perencanaan dengan baik agar tidak terjadi penumpukan pekerjaan dan deadline. Selain itu, berhenti membangdingkan proses atau pencapaianmu dengan orang lain. 

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.