Beranda Dolar Tembus Rp18.000, BI Ungkap Faktor di Balik Pelemahan Rupiah
ADVERTISEMENT

Dolar Tembus Rp18.000, BI Ungkap Faktor di Balik Pelemahan Rupiah

1 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Dolar Tembus Rp18.000, BI Ungkap Faktor di Balik Pelemahan Rupiah, Source: Istimewa

Dolar AS menembus Rp18.000 seiring pelemahan rupiah yang dipengaruhi gejolak global, tingginya kebutuhan valas, serta arus modal keluar dari negara berkembang.

Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah kurs dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp18.000. Bank Indonesia menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Baca juga: Rupiah Masuk Daftar Mata Uang Terlemah Dunia 2026, Apa Penyebabnya?

Penyebab Rupiah Melemah

Dilansir dari detikFinance, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh perkembangan situasi global, terutama memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dampaknya terlihat pada harga minyak dunia yang bertahan di level tinggi, meningkatnya ancaman inflasi, serta berlanjutnya aliran modal yang keluar dari negara berkembang.

Dari sisi domestik, kebutuhan dolar masih cukup besar. Kondisi ini sejalan dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN) yang masih berlangsung.

"Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN)," kata Destry, Kamis, (4/6/ 2026).

Destry menuturkan bahwa tekanan yang dialami saat ini tidak hanya terjadi pada mata uang rupiah. Artinya, pelemahan yang terjadi saat ini bukan hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga negara-negara lain di kawasan.

"Secara umum, pelemahan Rupiah juga masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah 7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026," tambahnya.

Langkah BI Jaga Rupiah

Dalam upaya menjaga kestabilan nilai tukar, Bank Indonesia akan terus melakukan berbagai langkah strategis di pasar keuangan.. Upaya tersebut dilakukan supaya kondisi pasar tetap berjalan dengan baik dan tidak mudah terpengaruh gejolak eksternal.

Pada saat yang sama, BI juga mengoptimalkan instrumen moneter berbasis pasar untuk mempertahankan daya tarik aset domestik di mata investor.

"Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," terang Destry.

Destry menyebut BI terus mendorong pemanfaatan mata uang lokal dalam berbagai transaksi lintas batas negara melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi dominasi dolar AS dalam transaksi tertentu sekaligus membantu meredam fluktuasi nilai tukar.

Program tersebut telah dijalankan bersama beberapa negara, antara lain China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Penggunaan LCT pun terus berkembang seiring meningkatnya nilai transaksi perdagangan yang memanfaatkan mata uang lokal.

Kenaikan tersebut tercermin dari nilai transaksi LCT yang terus mengalami pertumbuhan. Pada April 2026, nilainya mencapai sekitar US$22,7 miliar, sementara sepanjang tahun sebelumnya tercatat sekitar US$25,7 miliar.

Baca juga: Daftar Uang Rupiah Lama Ditarik BI, Segera Tukar Sebelum Tak Bernilai

Jadi Warginet, pergerakan nilai tukar rupiah saat ini masih menghadapi berbagai tantangan dari dalam maupun luar negeri. Berbagai langkah yang dilakukan BI diharapkan dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengurangi dampak gejolak dolar terhadap perekonomian nasional.

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.