ADVERTISEMENT
Beranda Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah, Inilah Kisah di Balik Berdirinya Gereja Bunda Maria Garut
ADVERTISEMENT

Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah, Inilah Kisah di Balik Berdirinya Gereja Bunda Maria Garut

17 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah, Inilah Kisah di Balik Berdirinya Gereja Bunda Maria Garut (Source:pictures wilkipedia)

Gereja Bunda Maria Garut dibangun untuk memenuhi kebutuhan spiritual umat Katolik di Garut, sebagian besar terdiri dari pegawai perkebunan dan pejabat kolonial Belanda.

Gereja adalah tempat beribadah untuk umat Kristen atau Katolik. Selain beribadah, aktivitas di gereja ialah bersekutu, melayani, dan bersaksi tentang iman mereka. 

Penduduk Garut memang mayoritas diisi oleh pemegang agama Islam. Tapi, tidak menutup kemungkinan, di Garut pun tersedia tempat ibadah seperti Gereja untuk agama Kristen Katolik, salah satunya gereja bersejarah di Garut yakni Gereja Bunda Maria. 

Gereja Bunda Maria berlokasi di Jl. Bank No. 50, Pakuwon, Kec. Garut Kota, Kabupaten Garut. Gereja ini merupakan salah satu gereja tertua di Garut dimulai sejak tahun 1914, ketika kota ini masih menjadi tempat peristirahatan orang Belanda karena udara sejuk dan sumber air panasnya. Banyak umat Katolik tinggal di Garut, terutama mereka yang bekerja di perkebunan teh.

Baca Juga: List Gereja yang Ada di Garut

Untuk melayani umat, sebuah gereja kecil dibangun dan diberkati pada 22 Juni 1917. Dikutip dari Ensiklopedia P2k Stekom, awalnya, pelayanan dilakukan oleh imam Serikat Yesus dan imam diosesan. Sejak 1927, pelayanan diserahkan kepada Ordo Salib Suci (OSC).

Paroki resmi terbentuk ketika pencatatan buku baptis dimulai pada 1934. Pada masa itu, para Suster Carolus Borromeus juga sempat berkarya di bidang pendidikan, namun harus meninggalkan Garut saat pendudukan Jepang tahun 1942.

Pada periode 1950–1964, kehidupan Gereja berkembang pesat. Jumlah umat bertambah dan karya pendidikan menjadi fokus utama, ditandai dengan berdirinya SMA, SMP, TK, dan SD Katolik Santa Maria.

Tahun 1965 menjadi masa penting karena banyak umat dari komunitas Sunda Asli di Kampung Pasir menerima baptisan. Namun, tantangan kembali muncul pada 1974–awal 1980-an, ketika paroki mengalami kekosongan imam tetap dan terjadi peristiwa keluarnya sebagian besar umat Stasi Kampung Pasir pada 1981 akibat tekanan sosial dan politik.

Sejak 1982, Paroki Santa Maria Garut kembali ditata dengan imam menetap dan pelayanan dilanjutkan oleh imam diosesan. Renovasi kecil gereja dilakukan pada 1990, dan renovasi besar dilaksanakan pada 2005 karena kondisi bangunan yang sudah tua.

Baca juga: Kenapa Garut Disebut Kota Swiss van Java? Ternyata Ini Asal-usulnya!

Pada Yubileum 2025, Gereja Santa Maria Garut mendapat kehormatan sebagai salah satu gereja Porta Sancta (Pintu Suci) di Keuskupan Bandung. Pintu Suci tersebut dibuka secara resmi oleh Uskup Bandung pada 5 Januari 2025, menandai peran penting gereja ini dalam kehidupan umat Katolik di wilayah Garut.

Selain ibadah, gereja ini juga menjadi tempat berkumpulnya umat untuk kegiatan sosial, pendidikan, dan amal, membangun solidaritas komunitas. Seiring waktu, gereja ini juga menjadi bagian dari lanskap kota Garut, menyimpan cerita dan sejarah perkembangan umat Katolik di daerah tersebut. 

Gereja ini merupakan pusat dari Paroki Garut yang menjadi bagian dalam Dekanat Priangan pada Keuskupan Bandung. Gereja ini dinamai menurut Maria, ibu dari Yesus Kristus.

Sebagai informasi, Gereja Bunda Maria menyelenggarakan misa harian dan misa mingguan. Misa mingguan dilaksanakan dua kali, yakni masing-masing satu kali pada Sabtu sore dan Minggu pagi.

Gereja ini juga memiliki Taman Doa Hati Maria yang Tak Bernoda. Taman doa ini diberkati pada tanggal 16 Juli 2017 oleh Uskup Bandung Antonius Subianto Bunjamin. 

ADVERTISEMENT

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT