Benarkah Penghasil Oksigen Terbesar Bumi Ada di Laut?
Sering mendengar hutan sebagai paru-paru dunia karena tempat penghasil oksigen. Namun tak hanya hutan, laut juga bisa menghasilkan oksigen.
Pernyatan yang baru-baru ini viral di media sosial ialah dari Anggota DPR RI Fraksi NasDem, Viktor Laiskodat yang menyebut hutan bukan penyumbang oksigen terbesar di Bumi. Pernyataan tersebut kini viral dan mendadak menuai perhatian publik pada akhir Desember 2025.
Anggota DPR tersebut menilai jika laut melalui fitoplankton dan alga yang justru menjadi penyumpang utama oksigen di dunia. Bahkan ia mengaitkan mencairnya es kutub dengan potensi peningkatan oksigen.
Adanya pernyataan tersebut, istilah hutan atau pohon sebagai paru-paru dunia jadi dinilai kurang tepat. Karena viral banyak yang memperbedatkan pernyataan dari Viktor tersebut. Sebenarnya bagaimana faktanya?
Baca juga: KBBI Kini Mencatat “Kapitil” sebagai Lawan Kata dari “Kapital”
Laut atau Hutan yang Lebih Banyak Menyumbang Oksigen?
Pernyataan dari Anggota DPR tersebut memanglah tidak salah dan terbukti secara data. Namun, narasinya akan berisiko menyesatkan jika dipakai sebagai alasan mengabaikan perlindungan hutan.
Dikutip dari biorock-indonesia.com, laut diestimasi menghasilkan oksigen mencapai 50%-80% oksigen yang ada di bumi. Sebagian besar dari oksigen yang dihasilkan laut ini berasal dari plankton. Sama seperti pohon, plankton ini juga berfotosintesis yang prosesnya menggunakan klorofil dan cahaya matahari. Plankton menyerap karbondioksida dan mengeluarkan oksigen.
Walaupun laut menghasilkan oksigen cukup besar di bumi, bahkan melebihi apa yang dihasilkan tumbuhan-tumbuhan di daratan, ternyata oksigen ini bukanlah oksigen yang biasa manusia hirup. Kebanyakan hasil oksigen dari laut ini kembali dikonsumsi oleh hewan-hewan dan tumbuhan laut yang berarti sama pentingnya untuk dijaga.
Baca juga: Hati-hati! Dalam KUHP Baru, Pacaran Tanpa Restu Orang Tua Kini Bisa Dipidana
Sejumlah penelliti pun juga menegaskan jika keduanya antara laut dan hutan tidak bisa dipisahkan. Seperti misalnya kerusakan hutan dapat meningkatkan sedimentasi rusaknya terumbu karang dan memicu ledakan elga beracun dan berkontribusi pada kenaikan suhu laut.
Sehingga nantinya tidak hanya berdampak dan dirasakan di darat, namun juga mengancam keseimbangan ekosistem laut dan juga di kehidupan manusia. Hutan dan laut saling terhubung dalam satu ekologis, sehingga keduanya harus dijaga tidak adanya satu yang dikorbankan. Karena dengan mengorbankan yang lain justru berisiko dan memperparah lingkungan.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.