Beranda Media Sosial, Cara Mengatasi Fenomena FoMO

Media Sosial, Cara Mengatasi Fenomena FoMO

3 tahun yang lalu - waktu baca 2 menit

Fear of Missing Out (FoMo) merupakan sebuah fenomena akan rasa cemas dan takut tertinggal. Ini berasal dari keyakinan bahwa orang lain mungkin bersenang-senang sementara orang yang mengalami kecemasan itu tidak hadir. Pada media sosial, Fear of Missing Out merupakan perasaan cemas ketika tidak terhubung lama dengan media sosial.

Pembahasan tentang fenomena ini ada pada artikel dengan judul "Media Sosial, Udah Kayak Bayi Gak Bisa ditinggal!”. Dampak dari Fear of Missing Out (FoMO) ini berbahaya karena dapat meningkatkan rasa tidak bahagia dan ketidakpuasan dalam hidup. Ada dua hal akibat dari fenomena ini, pertama keinginan untuk terus memantau aktivitas orang lain dan kedua benar-benar tidak ingin membuka media sosial karena memiliki kecemasan.

Adapun beberapa tips untuk mengatasi fenomena Fear of Missing Out (FoMO)

1. Kurangi Penggunaan Media Sosial

Ini hal yang paling utama, setiap hari kita tidak lepas dari ponsel. Melansir dari halodoc.com, Philip Cushman seorang psikoterapis dari California School of Professional Psychology menyarankan penggunaan media sosial setiap harinya antara 30 menit sampai 1,5 jam.

Hal ini dapat mengarah pada hasil kesehatan mental yang lebih baik. Pada awalnya mungkin terasa sulit namun kita bisa berangsur-angsur menguranginya dan pilihlah waktu yang membuat nyaman. Lama waktu penggunaan media sosial dapat dilihat pada bagian screen time ponsel. Selagi menjauh dari layar ponsel, kita dapat menemukan hobi baru seperti membaca, berkebun, menulis, atau menggambar.

2. Fokus pada Hal yang dipunya

Seringkali kita iri terhadap aktivitas orang lain melalui media sosial tanpa kita sadari lama-lama hal tersebut membuat lupa hal apa saja yang kita punya. Apresiasi hal kecil yang masih kita punya dan lakukan seperti masih bisa bangun pagi, makan dan bahkan berbincang dengan orang terdekat. Tidak semua keinginan harus kita penuhi dan yang terpenting paham hal mana yang sebenarnya kita butuhkan. Hal ini memang sulit tapi dengan berlatih dan menyadari bahwa setiap orang beda itu menjadi gerbang utama.

3. Menulis Jurnal

Kita bisa memulainya dengan menulis kelebihan yang kita punya. Selain itu, kita juga dapat menuliskan hal yang sedang kita rasakan dan hal yang kita punya. Membuat jurnal ini membantu untuk meringankan pikiran karena hal yang membanjiri pikiran dapat tertuang melalui tulisan. Kita pun dapat berkreasi dengan menggambar pada jurnal tersebut khususnya melalui tulisan tangan. Tidak lupa untuk mengevaluasi dan berfikir tentang topik yang sedang kita tulis dalam keadaan tenang.

Adakah wargi Garut yang sudah melakukan tips di atas? Jika merasa keadaanya makin buruk, langsung konsultasi dengan tenaga profesional ya!

 

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.