Beranda Mengapa Takut Ketinggian Bisa Muncul Meski Belum Pernah Jatuh?
ADVERTISEMENT

Mengapa Takut Ketinggian Bisa Muncul Meski Belum Pernah Jatuh?

32 menit yang lalu - waktu baca 2 menit
Mengapa Takut Ketinggian Bisa Muncul Meski Belum Pernah Jatuh?, Source: Istimewa

Rasa takut ketinggian ternyata bisa muncul secara alami karena naluri bawaan yang sudah tertanam dalam otak manusia sejak jutaan tahun lalu melalui proses evolusi.

Rasa takut saat berada di tempat tinggi sering kali muncul begitu saja meski seseorang belum pernah mengalami jatuh sebelumnya. Banyak orang spontan merasa waspada, mundur perlahan, hingga menghindari area tepi ketika melihat ketinggian secara langsung.

Baca Juga: Jumlah Manusia Terlalu Banyak? Studi Sebut Bumi Mulai Kewalahan

Asal Rasa Takut

Mengutip dari National Geographic Indonesia, rasa takut terhadap ketinggian ternyata termasuk respons kuno yang sudah tertanam dalam biologi mamalia sejak jutaan tahun lalu. Para peneliti menyebut rasa takut tersebut sebagai bagian dari naluri evolusi yang membantu makhluk hidup bertahan dari bahaya.

Eksperimen tebing visual yang dilakukan oleh psikolog Eleanor Gibson dan Richard Walk pada tahun 1960-an menunjukkan bahwa bayi manusia hingga hewan seperti anak ayam, kambing, dan anak kucing cenderung menghindari area yang terlihat dalam atau berbahaya. Menariknya, hewan-hewan tersebut belum pernah mengalami jatuh sebelumnya sehingga rasa takut itu diduga bukan hasil pengalaman buruk.

Penelitian Ross Menzies dan David Clarke juga menemukan banyak orang takut ketinggian tanpa memiliki pengalaman traumatis tertentu. Temuan tersebut mendukung model non-asosiatif yang menyebut rasa takut terhadap ketinggian dapat muncul secara alami, sementara teori kesiapan dari Martin Seligman menjelaskan bahwa naluri tersebut berkembang melalui proses evolusi agar manusia lebih waspada terhadap ancaman berbahaya.

Otak Merespons Bahaya

Ilmu saraf modern menemukan bahwa rasa takut terhadap ketinggian berhubunngan dengan bagian otak bernama basolateral amygdala atau BLA. Struktur kecil di otak tersebut diketahui berperan dalam memproses rasa takut ketika seseorang berada di tempat tinggi.

Penelitian dalam Journal of Neuroscience tahun 2021 menemukan adanya neuron khusus yang aktif saat hewan berada di area tinggi. Aktivitas neuron tersebut memicu respons tubuh seperti detak jantung meningkat hingga tubuh membeku karena merasa terancam, sementara neuron itu diketahui tidak bereaksi terhadap ancaman lain seperti suara mengejutkan atau bau predator.

Rasa takut terhadap ketinggian juga dipengaruhi oleh kerja sistem visual dan vestibular pada telinga bagian dalam. Ketika kedua sistem tersebut tidak selaras saat berada di tempat tinggi, tubuh bisa mengalami sensory overload yang memunculkan rasa goyah, mual, hingga sensasi kehilangan keseimbangan.

Baca juga: Kenapa Puncak Gunung Tetap Bersalju Padahal Letaknya Dekat Matahari?

Nah Warginet, rasa takut terhada p ketinggian ternyata bukan sekadar perasaan biasa, melainkan bagian dari naluri alami tubuh untuk melindungi diri dari bahaya. Jadi tidak sedikit orang merasa takut meskipun belum pernah mengalami jatuh sebelumnya.

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.