Beranda Mengenal Batik Garutan, Warisan Budaya Jawa Barat dengan Motif dan Warna Khas
ADVERTISEMENT

Mengenal Batik Garutan, Warisan Budaya Jawa Barat dengan Motif dan Warna Khas

1 jam yang lalu - waktu baca 4 menit
Motif batik garutan yang cantik | Clarasaragih/WikimediaCommons

Batik Garutan atau Batik Garut merupakan salah satu warisan budaya khas Jawa Barat yang memiliki identitas visual kuat dan berbeda dari batik daerah lain di Indonesia. Berasal dari Kabupaten Garut, batik ini dikenal lewat warna dasarnya yang lembut, motif alam yang sederhana, serta filosofi hidup masyarakat Sunda yang tercermin di setiap helai kainnya.

Berbeda dengan batik pesisiran yang identik dengan warna kontras atau batik pedalaman seperti Solo dan Yogyakarta yang sarat simbol keraton, Batik Garutan tampil lebih halus dan bersahaja. Karakter tersebut menjadikannya unik sekaligus mudah diterima lintas generasi, baik untuk keperluan adat maupun fesyen modern.

Baca juga: Sejarah Hari Batik Nasional dan Peran Batik Garutan

Jejak Sejarah Batik Garut

Merangkum dari artikel infogarut.id, dalam sejarahnya, batik di Garut sudah digunakan sejak abad ke-17 atau mungkin sebelum itu. Di Garut, batik dipakai sebagai bahan sandang.

Namun, ada juga masyarakat yang memanfaatkannya untuk dijadikan sebagai barang simpanan atau berharga karena terdapat beberapa kain yang dibuat dari bahan-bahan langka.

Batik Garutan semakin berkembang saat administrator Perkebunan Teh Wasapada, Karel Frederik Holle, ikut membantu masyarakat lokal mengembangkan batik Garutan. Ia menyediakan sebuah tempat di perkebunan dan mengajari pegawainya untuk membatik. Akhirnya, keahlian itu diturunkan secara turun-temurun.

Nah, sejak saat itu, banyak warga Garut yang membuka usaha batik. Salah satu warga yang ahli membatik adalah Masmin. Keluarganya mendirikan industri batik sejak tahun 1910, sekaligus menjadi generasi pertama pembatik di Garut yang menjual batiknya secara luas.

Lebih lanjut, melansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Garut, eksistensi batik Garutan semakin naik pasca-kemerdekaan. Saat itu, batik Garutan dikenal dengan sebutan Batik Tulis Garutan.

Pada periode 1967-1985, batik tulis Garutan mengalami masa kejayaannya. Saat itu, tercatat ada sekitar 126 unit usaha batik tulis khas Garut yang dibuka.

Karakteristik Unik Batik Garutan

Ciri paling menonjol dari Batik Garutan terletak pada warna gumading, yakni warna dasar krem atau kuning gading yang memberi kesan hangat dan elegan. Warna ini menjadi signature yang membedakan Batik Garut dari batik Jawa Barat lainnya.

Selain itu, teknik pewarnaannya menggunakan warna-warna cerah, seperti ungu muda, hijau toska, biru pucat, dan cokelat. Kombinasi ini menciptakan tampilan cantik dan tetap hidup.

Dari segi bahan, Batik Garutan umumnya menggunakan kain mori atau primisima berkualitas tinggi, sehingga nyaman digunakan dan tahan lama. Selain itu, proses pengerjaannya juga cukup lama, bisa mencapai 2-3 bulan, tergantung dengan tingkat kesulitannya.

Motif Ikonik dan Filosofinya

Batik Garutan memiliki berbagai macam motif yang cantik. Yang membuatnya semakin istimewa, bukan hanya padanan warnanya yang ciamik, tapi juga motif-motifnya yang menyimpan filosofi mendalam.

Pengrajin batik Garutan biasanya mendapatkan inspirasi untuk membuat motif batik dari lingkungan sekitarnya. Kondisi alam, flora, dan fauna bisa digambarkan dalam sebuah kain lebar menjadi batik yang bernilai tinggi.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut adalah motif klasik khas batik Garutan yang memiliki filosofi mendalam

  • Bulu Hayam: menyimbolkan ketelitian dan keuletan. Motifnya terinspirasi dari keindahan bulu ayam yang rapi.
  • Lereng: motif diagonal yang menggambarkan keseimbangan hidup dan keteguhan pendirian.
  • Merak Ningbing: menjadi simbol keanggunan burung merak yang tengah menari-nari. Motif ini juga bermakna kemegahan dan keceriaan.
  • Limar: motifnya menyerupai tenun, tetapi memiliki detail yang rumit.

Selain tiga motif itu, ada pula motif lereng kangkung yang terinspirasi dari tanaman kangkung yang banyak tumbuh di Garut, serta motif batik garutan cupat manggis yang idenya didapat dari buah-buahan seperti manggis.

Motif-motif tersebut menjadi inti identitas Batik Garutan sebagai bagian dari tekstil tradisional Jawa Barat.

Proses Pembuatan: Tulis dan Cap Garutan

Secara umum, Batik Garutan dibuat melalui dua teknik utama, yakni batik tulis dan batik cap. Batik tulis Garut dikerjakan sepenuhnya dengan tangan menggunakan canting.

Batik tulis melalui proses panjang mulai dari pencantingan, pewarnaan berlapis, hingga pelorodan. Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, tergantung tingkat kerumitan motif.

Sementara itu, batik cap Garutan hadir sebagai bentuk inovasi. Dengan menggunakan cap tembaga, proses produksi menjadi lebih cepat dan harga lebih terjangkau.

Meskipun lebih ‘praktis’, batik cap Garutan tetap mempertahankan estetika khas Garut. Perbedaan keduanya penting diketahui konsumen untuk menilai kualitas dan nilai sebuah kain batik.

Baca juga: 5 Motif Batik Khas Jawa Barat dan Filosofi Dibaliknya

Cara Merawat Batik Garutan

Agar warna Batik Garutan tetap awet, perawatannya perlu dilakukan dengan tepat. Batik sebaiknya dicuci menggunakan sabun khusus atau lerak, tanpa deterjen keras.

Hindari mencuci dengan mesin cuci karena akan merusak serat kain. Kecek seperlunya saja menggunakan tangan dan jangan terlalu dipelintir.

Kemudian, keringkan batik di tempat yang teduh atau cukup sekadar diangin-anginkan. Jangan dijemur langsung di bawah sinar matahari karena bisa merusak warnanya.

Warginet, dengan sejarah panjang, karakter visual yang khas, dan filosofi mendalam, Batik Garutan merupakan investasi budaya yang bernilai tinggi. Mengenakan Batik Garut berarti ikut melestarikan warisan Jawa Barat. Ayo berbatik!

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.