Mengenal KH As’ad Humam, Guru Ngaji di Balik Lahirnya Metode Iqro
KH As’ad Humam menciptakan metode Iqro yang membantu jutaan umat Islam di Indonesia hingga mancanegara dalam membaca Al-Qur’an dengan sistematis.
KH As’ad Humam merupakan sosok penting di balik kemampuan jutaan umat Islam dalam membaca Al-Qur’an melalui metode Iqro yang diperkenalkannya sejak tahun 1983. Dilansir dari CNBC Indonesia, karya KH As’ad Humam dinilai memiliki peran besar dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an di berbagai daerah.
Baca juga: Dari Kerajaan hingga Masjid, Ini Sejarah Bedug yang Jadi Tradisi Ramadan
KH As’ad Humam dan Perjalanan Hidupnya
KH As’ad Humam lahir di Yogyakarta pada tahun 1933 dan berasal dari keluarga Muhammadiyah, putra H. Humam Sirajd yang dikenal sebagai pengusaha. Berdasarkan buku “The Crescent Arises Over the Banyan Tree” karya Mitsuo Nakamura, ia sempat menempuh pendidikan di sekolah Muhammadiyah sebelum mengalami musibah yang mengubah hidupnya.
Insiden jatuh dari pohon membuat KH As’ad Humam mengalami gangguan tulang belakang hingga harus berjalan menggunakan tongkat sepanjang hidupnya. Sejak saat itu, ia tidak melanjutkan sekolah dan memilih menjadi guru ngaji yang dikenal mampu mengajarkan muridnya membaca Al-Qur’an lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Metode Iqro
KH As’ad Humam mengembangkan metode belajar membaca Al-Qur’an dengan pendekatan bertahap dari huruf dan kata paling sederhana hingga rangkaian kalimat panjang. Jika metode sebelumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun, cara yang ia perkenalkan memungkinkan murid bisa fasih hanya dalam hitungan bulan.
Metode Iqro karya KH As’ad Humam mulai diperkenalkan secara luas pada tahun 1983 yang diuji coba melalui Angkatan Muda Masjid dan Musholla (AMM) Yogyakarta. Mengutip dari laporan Gatra tahun 1996, hasil uji coba menunjukkan bahwa murid Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an mampu membaca lebih cepat.
Warisannya untuk Umat Islam
Keberhasilan metode Iqro ini membuat pemerintah turut menyebarluaskan buku dan rekaman pembelajarannya ke berbagai daerah di Indonesia. Popularitas karya dari KH As’ad Humam bahkan meluas ke Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam dengan jutaan buku telah dicetak.
Menariknya, keuntungan penjualan buku Iqro tidak digunakan untuk kepentingan pribadi KH As’ad Humam, melainkan dialokasikan untuk pembangunan sarana keagamaan. Setelah wafat pada Februari 1996, ia dikenang sebagai tokoh yang berjasa besar dalam meningkatkan literasi Al-Qur’an masyarakat di Indonesia.
Baca juga: Peristiwa Penting Saat Ramadan Dalam Sejarah Islam (Part 1)
Jadi Warginet, perjalanan KH As’ad Humam membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi lahirnya inovasi besar yang bermanfaat luas bagi umat Islam. Metode Iqro ciptaan KH As’ad Humam tetap sebagai warisan berharga yang terus digunakan hingga sekarang.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.