Mengenal Tradisi Nyeupah Jadi Simbol Pertemuan Jodoh


[Illustration : web/suara.com]

Tradisi mengunyah daun sirih sudah ada sejak lama. Tradisi ini disebut "Nyeupah" di masyarakat Sunda. Nyeupah adalah istilah yang berarti mengunyah daun sirih mentah yang telah dipenuhi dengan rempah-rempah seperti gambir, apu, jambe, kapulaga, dan cengkih, lalu dilipat dan diseupah. 

 

Konon, konsumsi daun sirih telah dilakukan oleh nenek moyang sejak pertengahan abad ke-15, ketika negara-negara Cina, India, Persia, dan Eropa berdagang dengan rempah-rempah di Nusantara. Menurut catatan sejarah Sunda, tanaman sirih sudah ada di tanah Sunda pada abad ke-15 atau abad ke-16, tepatnya di dalam naskah Bujangga Manik. Zaman dulu nyeupah sama dengan ngopi dan merokok. Setelah makan biasanya mereka nyeupah sebagai pencuci mulut.

 

Salah satu manfaat nyeupah adalah untuk kesehatan gigi dan mulut. Bahan-bahan yang dikunyah dan diseupah diyakini dapat meningkatkan kekuatan gigi dan menyehatkan rongga mulut. Hal Ini karena mengunyah biji pinang dan daun sirih dapat meningkatkan produksi air liur. Air liur mengandung berbagai jenis protein dan mineral yang baik untuk menjaga kekuatan gigi kamu dan mencegah penyakit gusi.

 

Selain memiliki manfaat untuk gigi, nyeupah juga punya makna dalam tradisi sunda yang dijadikan sebagai simbol untuk mempertemukan jodoh. Tradisi ini dilakukan oleh orang tua calon laki-laki yang membawa seupaheun kepada calon menantunya. Sama halnya seperti melamar dengan seupaheun (bahan untuk nyeupah). Istilah ini disebut juga dengan lepit, yaitu melamar dengan seupah. 

Apabila lepit ini diterima oleh calon perempuan, maka orang tua dari pihak perempuan yang akan nyeupah dengan seupaheun itu. Jika seupaheunnya dibuka, berarti ada permintaan dari pihak perempuan. Terakhir, jika seupaheun itu dikembalikan, berarti pihak perempuan menolak lamaran tersebut.***

 

Sumber: Sekar, A.Y (2021)

 

 


0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka