Nyaneut, Tradisi Afternoon Tea Ala Urang Garut yang Hampir Luput Ditelan Waktu

Nyaneut, Tradisi Afternoon Tea Ala Urang Garut yang Hampir Luput Ditelan Waktu

Seperti Cina dan Jepang, Garut juga punya tradisi minum teh yang dikenal dengan istilah Nyaneut.

Nyaneut atau secara istilah berasal dari  kata Nyandeut atau Nyandeutkeun memiliki arti menghubungkan, merekatkan, atau mempertemukan.

Tradisi ini mulai diperkenalkan pada tahun 1684 sebagai bentuk adaptasi dari budaya Jepang pada saat itu. Kemudian pada tahun 1827, Belanda memulai penanaman teh dalam skala besar di perkebunan teh Cisurupan, Garut. Pembukaan lahan teh inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya tradisi minum teh Nyaneut.

Sejarah Awal Mula

Mulanya, tradisi minum teh ini adalah adaptasi dari budaya Afternoon Tea di Eropa. Hal ini dipengaruhi oleh kedekatan Karel Frederik Holle, seorang Priangan Planter berdarah Belanda dengan penghulu Limbangan Moehammad Moesa. Karenanya, kebiasaan afternoon tea ini kemudian diperkenalkan pada masyarakat pribumi.

Di Eropa sendiri, masyarakat sekitar menikmati teh hangat dengan sajian kue-kue kering. Nah, bedanya, orang Sunda memulai ritual nyaneut ini dengan kudapan khas yang disebut beubeutian. Yaitu makanan tradisional Sunda berupa ubi rebus, singkong rebus, pisang rebus, dan kacang-kacangan dengan menambahkan sedikit gula merah yang dilarutkan ke dalam teh.

Tradisi Ngenteh Adat Sunda dengan Penyajian yang Unik

Yang menjadi istimewa, dalam penyajiannya, tradisi Afternoon Tea ala urang Garut ini menggunakan alat-alat tradisonal. Alat-alat tersebut diantaranya seperti cangkir yang terbuat dari batok kalapa, piring séng untuk menyimpan kudapan, juga nampan.

Menurut catatan museum teh dan para budayawan, ada tata cara khas dalam Nyaneut. Mula-mula, gelas yang terbuat dari bambu disimpan di atas telapak tangan kanan, kemudian diputar dua kali putaran searah jarum jam menggunakan tangan kiri. Menurut sejarahnya, proses ini memiliki makna bahwa manusia hidup di dunia secara berpasang-pasang.

Kemudian, aroma teh dihirup sebanyak 3 kali. Makna dari proses tersebut adalah, bahwa kehidupan diri kita tidak terlepas dari niat, ucapan, dan perilaku atau dalam bahasa Sunda berarti tekad, ucap jeung lampah.

Terakhir, air teh diseruput sebanyak 4 kali secara perlahan dengan penuh nikmat. Hal ini mengingatkan kita bahwa sejatinya tubuh manusia itu terdiri dari empat unsur, yakni tanah, air, udara dan api.

Tradisi Nyaneut Kini Mulai Jarang Terdengar

Memasuki awal kemerdekaan sampai dengan tahun 2000an, tradisi Afternoon Tea ala Urang Garut ini sudah jarang terdengar dikalangan masyarakat Sunda. Bahkan, menjadi kata yang cukup asing didengar.

Meski demikian, orang Sunda tetap mengkonsumsi teh sebagai kebutuhan primer sehari-hari. Misalnya, dalam kebiasaan menerima tamu. Karena bagi Urang Sunda, menyajikan minuman berupa teh tawar hangat kepada tamu adalah bentuk penjamuan yang paling baik. Sehingga, tanpa disadari hal ini juga merupakan cerminan dari tradisi Nyaneut. Hanya saja tidak semua orang Sunda memahami asal mula lahirnya kebiasaan ini.

 


Baca lainnya

0 Komentar :

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.