Beranda Takut Ketinggian Ternyata Berkaitan dengan Cara Kerja Otak
ADVERTISEMENT

Takut Ketinggian Ternyata Berkaitan dengan Cara Kerja Otak

1 jam yang lalu - waktu baca 2 menit
Takut Ketinggian Ternyata Berkaitan dengan Cara Kerja Otak, Source: Istimewa

Rasa takut terhadap ketinggian ternyata dipengaruhi oleh cara kerja otak, sistem keseimbangan tubuh, dan naluri bertahan hidup manusia sejak jutaan tahun lalu.

Perasaan takut saat melihat ke bawah dari tempat tinggi ternyata bukan hanya dipengaruhi pikiran semata. Peneliti menemukan bahwa rasa takut terhadap ketinggian juga berkaitan dengan cara kerja otak dan sistem keseimbangan tubuh manusia.

Baca juga: Mengapa Takut Ketinggian Bisa Muncul Meski Belum Pernah Jatuh?

Naluri dari Evolusi

Melansir dari National Geographic Indonesia, rasa takut terhadap ketinggian dianggap sebagai respons evolusi yang diwariskan sejak lama. Naluri tersebut diyakini membantu manusia dan hewan menghindari risiko jatuh dari tempat berbahaya.

Eksperimen tebing visual pada bayi dan sejumlah hewan menunjukkan bahwa rasa takut terhadap ketinggian bisa muncul tanpa pengalaman buruk sebelumnya. Banyak hewan bahkan langsung menghindari area tinggi meski belum pernah belajar tentang bahaya jatuh.

Peneliti juga menemukan bahwa anak-anak yang tidak takut terhadap ketinggian justru lebih sering mengalami jatuh dibandingkan dengan mereka yang memiliki rasa takut. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa rasa takut terhadap ketinggian merupakan bentuk perlindungan alami tubuh.

Tubuh Jadi Tidak Stabil

Menurut penelitian, otak memiliki bagian khusus bernama basolateral amygdala atau BLA yang berperan dalam merespons rasa takut terhadap ketinggian. Saat seseorang berada di tempat tinggi, bagian otak tersebut akan aktif dan membuat tubuh lebih waspada.

Rasa takut terhadap ketinggian juga muncul akibat ketidakcocokan antara sistem visual dan vestibular di telinga bagian dalam. Sistem visual membantu melihat jarak dan kedalaman, sedangkan sistem vestibular berfungsi menjaga keseimbangan, orientasi tubuh, dan gerakan saat berada di ruang tertentu.

Penelitian tentang akrofobia menunjukkan penderita kondisi tersebut cenderung terlalu bergantung pada penglihatan untuk menjaga keseimbangan tubuh. Ketika petunjuk visual gagal di tempat tinggi dan sistem vestibular tidak bekerja selaras, tubuh bisa mengalami sensory overload hingga muncul sensasi kehilangan kendali meski sebenarnya berada di tempat aman.

Baca juga: 5 Penyebab Seseorang Jadi Individualis, Bisa Berawal dari Hal Sederhana

Bagi Warginet, rasa takut terhadap ketinggian ternyata memiliki kaitan erat dengan naluri bertahan hidup dan cara kerja otak manusia. Hal itu menjadi alasan mengapa banyak orang merasa takut meski belum pernah mengalami jatuh dari tempat tinggi.

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.