Asal-Usul Bajigur: Minuman Tradisional Para Petani yang Tetap Hangat hingga Kini

Asal-Usul Bajigur: Minuman Tradisional Para Petani yang Tetap Hangat hingga Kini
"Bajiguuurrrr...... Hui!"

Bagi Warginet yang tinggal di Garut, pasti familiar dengan bunyi khas dari pedagang Bajigur yang sering lewat sore-sore. Minuman khas urang Sunda ini, paling cocok dinikmati di cuaca dingin atau selepas hujan. 

Menurut sejarahnya, minuman tradisional ini pertama kali dikenalkan oleh para petani Sunda pada zaman dahulu. Mulanya, para petani terbiasa menikmati air rebusan gula aren selepas bekerja, tujuannya adalah untuk meningkatkan stamina dan menambah tenaga. 

Sampai pada suatu hari, mereka mulai menambahkan beberapa rempah ke dalam air rebusan tersebut, yang salah satunya adalah perasan santan. Sejak saat itu, bajigur menjadi populer di kalangan petani dan menjadi minuman favorit yang kemudian diperjual belikan.

Bajigur biasa dijual dengan menggunakan gerobak  dorong. Penjual Bajigur biasanya juga menjual kudapan pelengkap, seperti aneka macam makanan rebus atau yang disebut beubeutian, yaitu pisang rebus, ciu, hui, kelepon,  getuk, hingga kacang rebus.

Proses pembuatan minuman Bajigur juga terbilang cukup mudah. Bahan utamanya adalah gula merah dan santan, yang diberi sejumput garam, sedikit jahe, dan bubuk vanili. Pedagan bajigur juga biasanya menghadirkan topping berupa kolang-kaling yang diiris tipis-tipis. Harga satu gelas Bajigur ini, biasa berada di kisaran Rp3 ribuan saja. 


Berita Terkait

Komentar

Belum Ada Komentar
Anda belum dapat berkomentar. Harap Login terlebih dahulu